Komunitas Sant’Egidio Semarang  (PEN@ Katolik/lat)
Komunitas Sant’Egidio Semarang (PEN@ Katolik/lat)

Malam itu sebuah komunitas membungkuk di hadapan semua orang sakit melalui doa bersama, karena mereka percaya doa adalah cara menyentuh penderitaan mereka yang jauh dari hadapan hidup kita.

“Nama-nama mereka yang sakit kita sampaikan ke hadapan wajah Yesus, sehingga Allah yang berbelas kasih dapat membantu dan menyembuhkan mereka. Inilah cara kita mencintai. Kita percaya, mukjizat terjadi ketika ada rasa solidaritas, kita mulai bekerja sama dengan Allah dan hidup dalam persekutuan. Semoga bencana virus corona yang saat ini sedang melanda dunia segera teratasi dan kehidupan menjadi lebih baik dan berbelas kasih.”

Patricia Meta dari Komunitas Sant’Egidio Semarang berbicara dalam Doa dan Solidaritas Bagi Orang Sakit yang dilakukan kelompok itu di Kapel Susteran Fransiskus Gedangan, Semarang. Mereka mengenang dan mendoakan semua yang menderita sakit dan berjuang melawan virus corona, yakni kerabat, saudara, teman-teman maupun tenaga medis dengan menyalakan satu batang lilin untuk setiap orang.

“Malam ini kita bersyukur kepada Tuhan karena mengumpulkan kita di sekitar Wajah Yesus yang berbelas kasih. Kita juga bersyukur kepada Komunitas Sant’Egidio, yang menjadi bagian dari kehidupan kita sebagai murid, keluarga dan sahabat bagi semua orang miskin, terkhusus bagi mereka yang menjadi miskin karena sakit, kesepian dan jatuh dalam ruang keputusasaan,” kata Patricia Meta malam itu, 12 Maret 2020.

Dalam prosesi doa yang  dilagukan itu, Meta menyampaikan refleksi tentang solidaritas dan penyembuhan yang diinspirasikan dari Injil Lukas 4:38-44, Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dan orang-orang lain.

Menurut Meta, kehidupan komunitas dan persahabatan dengan orang miskin bukan opsi atau pilihan di antara banyak pilihan semata, “tetapi perjalanan hidup, seperti perjalanan Yesus mengelilingi berbagai tempat dan senantiasa berjumpa dengan orang-orang yang membutuhkan sentuhan belas kasih.”

Hari-hari ini, lanjut Meta, hidup di sekitar dan dunia secara global penuh kecurigaan, perasaan takut dan ketidakpastian akibat virus corona. “Bencana virus corona telah memaksa setiap orang untuk mundur dan memikirkan kembali ide untuk hidup bersama, tentang kepedulian dan tentang keselamatan. Bencana ini bukan hanya membuat manusia jatuh dalam sakit yang dalam, tetapi menjadi roh pemecah belah dan roh ketakutan,” katanya.

Bencana itu, lanjutnya, telah memaksa setiap orang menyelamatkan diri sendiri “dan itu tujuan dari roh pemecah belah, memisahkan dan kemudian meyakinkan bahwa setiap orang mampu menyelamatkan diri sendiri dan pada akhirnya tak ada yang mampu bertahan dalam kesendirian.”

Sesuai kisah Yesus yang menyembuhkan orang-orang sakit termasuk ibu mertua Petrus, Meta mengatakan, “Yesus membungkuk di hadapannya dan memerintahkan demam untuk meninggalkan dia. Demam itu, sebagaimana ditulis penginjil, meninggalkannya dan wanita itu pun sembuh. Tuhan Yesus, membungkuk di depan wanita itu, menjalin relasi yang sangat personal, mengembalikan harga diri dan semangatnya hingga bangun dari tempat tidur, bangun dari keputusasaan dan wanita itu mulai melayani Yesus.”

Seluruh hidup Yesus, tegas Meta, diikat pada orang miskin, lemah, bahkan wanita tua. “Dalam diri-Nya kita melihat semua lansia juga setiap orang sakit, yang hari ini dikelilingi ketidakpedulian, kejahatan, dipaksa tinggal dalam kesedihan, menanti akhir menyedihkan. Perlu diketahui, hari-hari ini para lansia menjadi manusia paling lemah di hadapan virus corona,” ungkapnya.(PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

Sant egidio 1

 

Tinggalkan Pesan