Paus memberikan homili dalam Misa bersama para uskup Mediterania di Bari, Italia (Vatican Media)
Paus memberikan homili dalam Misa bersama para uskup Mediterania di Bari, Italia (Vatican Media)

Sulit mengasihi seperti yang diminta Yesus kepada kita. Namun, jika itu tidak mungkin, Yesus tidak akan memberikan perintah seperti itu kepada kita. “Sulit melaksanakannya dengan usaha kita sendiri; itu adalah anugerah dan itu perlu diminta dengan tulus.” Selain meminta bantuan Tuhan untuk hal-hal lain, “berdoalah untuk belajar cara mengasihi! Kita perlu lebih sering berdoa untuk memperoleh rahmat menjalani esensi Injil, untuk menjadi umat Kristen sejati. Karena ‘di malam kehidupan, kita akan dihakimi berdasarkan kasih” (Santo Yohanes dari Salib, Sayings of Light and Love, 57).

Paus Fransiskus berbicara dalam homili Misa bersama para Uskup dari wilayah Mediterania yang berkumpul di Bari, Italia, Minggu 23 Februari 2020. Dalam homili, Paus merenungkan Injil Minggu Ketujuh dalam Waktu Biasa, Injil Matius 5: 38-48.

Homili itu dimulai dengan menjelaskan “hukum kuno: mata ganti mata dan gigi ganti gigi.’ Menurut Paus, hukum itu sendiri adalah “tanda kemajuan, karena mencegah pembalasan berlebihan.” Tetapi, dengan mengatakan tidak pada kekerasan, kata Paus, Yesus “jauh melampaui hal itu.”

Kata-kata Yesus, jelas Paus, tidak berarti kalau kita tidak mempraktikkan kekerasan maka “orang jahat akan berhenti.” Sebaliknya, alasan mengapa Yesus melampaui hukum kuno itu adalah karena “Bapa, Bapa kami, terus mengasihi semua orang, bahkan ketika kasih-Nya tidak dibalas.” Yesus mempraktikkan apa yang Ia khotbahkan, lanjut Paus. “Dia tidak menuding mereka yang salah mencela dan membunuh Dia dengan kejam, tetapi membuka tangan-Nya kepada mereka di kayu salib.”

Kata-kata Yesus langsung dan jelas dan merupakan “satu-satunya jalan” bagi mereka yang menyebut diri Kristen, lanjut Paus. “Tapi aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu.” Kata-kata-Nya tenang dan tepat.” Kasih Yesus tidak memiliki batasan, hambatan, atau ukuran, kata Paus. Tapi, “Berapa kali kita mengabaikan permintaan itu, berperilaku seperti orang lain!” Satu-satunya tindakan ekstrimis yang diizinkan untuk orang Kristen adalah “tindakan ekstrimis amal kasih” yang Yesus sendiri minta dari kita.

Mengakhiri homili, Paus sendiri gunakan bahasa langsung dan tepat: “Hari ini marilah kita memilih kasih. Marilah kita menerima tantangan dari Yesus, tantangan amal kasih. Dengan demikian, kita akan jadi orang Kristen sejati dan dunia akan jadi lebih manusiawi.” (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Suster Bernadette Mary Reis FSP/Vatican News)

Tinggalkan Pesan