Damianus Unyir (PEN@ Katolik/pcp)
Damianus Unyir (PEN@ Katolik/pcp)

Damianus Unyir adalah guru agama dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum di SMP Santo Mikael, Jalan Baros, Cimahi, Jawa Barat. Sudah sekitar 10 tahun, Sarjana Pendidikan dari Universitas Sanatha Dharma Yogyakarta dan jebolan Pusat Kateketik (Puskat) Yogyakarta itu bekerja di lingkungan persekolahan yang dijalankan oleh Yayasan Santo Dominikus itu.

Di persekolahan itu dia mengabdi sebagai ‘pelayan’ dan pelayanan baginya adalah bukan memberi dari sisa waktu tetapi “bekerja tulus dan all-out.”

Paul C Pati dari PEN@ Katolik menemui Damianus Unyir, putra kelahiran Ngabang, Landak, Kalimantan Barat, itu bukan untuk berbicara tentang pelayanannya di sekolah tapi tentang “keberhasilannya” sebagai Ketua Panitia Dominican Youth Gathering (DYG) 2020 yang dilaksanakan dalam “Tahun Pewarta”, di kompleks persekolahan yang meliputi TK Santa Theresia, SD Santa Maria, SD Santo Yusup, SMP Santo Mikael, 9-11 Januari 2020.

Semangat Santo Dominikus dalam diri aktivis seksi pewarta di paroki itu juga diangkat dalam pembicaraan di akhir DYG 2020, yang diikuti 648 pelajar SD sampai SMA dalam persekolahan Yayasan Santo Dominikus dari Cabang Yogyakarta, Purwokerto, Cirebon dan Cimahi dengan tema “La Chiesa in Uscita.”

PEN@ KATOLIK: DYG 2020 berakhir. Anda berhasil sebagai ketua panitia. Anda bahagia!?

DAMIANUS UNYIR: Ya, saya bahagia dan bangga. Ini karya Tuhan yang sungguh nyata dalam diri saya. Tetapi, kebanggaan saya pertama-tama bagi teman-teman tim yang sudah bekerja keras. Tim kerja atau panitia ini terdiri dari 45 orang dan didukung oleh sekitar 70 guru dan 15 tenaga bantuan lain. Satu minggu sebelumnya saya melihat mereka sangat giat mempersiapkan acara yang sudah kita persiapkan sekitar enam bulan lalu dengan beberapa rapat untuk menyamakan persepsi.

Yang mendorong keberhasilan ini adalah semangat kebersamaan dan pikiran bersama bahwa yang memajukan lembaga ini bukan orang lain tetapi kami sendiri sebagai panitia dengan dukungan anak-anak dan keterlibatan masyarakat, baik di sekitar sekolah maupun pun yang peduli dengan pendidikan di persekolahan ini.

Apa arti keberhasilan ini untuk Anda?

Keberhasilan ini menjadi kebahagiaan yang akan saya tularkan kepada sesama, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak bisa kita lakukan asal kita melakukannya bersama dan selalu melibatkan Tuhan. Ini sebuah hasil dari ora et labora. Kebahagiaan yang merupakan kepuasan batin ini tidak hanya untuk saya pribadi tetapi semua panitia, para suster, semua peserta serta orang tua. Semua ikut merasakan kebahagiaan itu. Jangan ada yang terluka dengan kegiatan ini. Semua harus bersukacita. Dengan demikian, dampak acara ini akan tersebar ke masyarakat luas, bukan hanya orang-orang Dominikan.

Sebelumnya Anda mengatakan ada keterlibatan masyarakat. Apa maksudnya?

Ya, selain kesediaan orangtua yang merelakan anak-anaknya untuk ikut acara ini serta membantu proses persiapan dengan berbagai bantuan termasuk finansial, sponsorship dan berbagai dukungan lembaga lain, misalnya bank, pengurus RT dan RW sekitar sekolah juga welcome dan care dengan kegiatan ini agar Cimahi bisa lebih dikenal. Dinas pendidikan, kepolisian, dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) juga memberi dukungan besar.

Bagaimana tema “La Chiesa in Uscita” diterapkan dalam proses?

Tahun Pelajaran dalam Persekolahan Santo Dominikus tahun ini bertema Pewartaan atau Tahun Pewarta. Maksudnya, dalam mewartakan kita harus berani keluar. Kotbah Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC saat Misa Pembukaan DYG 2020 membuat kami semakin berani bergerak mewartakan nilai-nilai yang ditanamkan sejak Yayasan Dominikus ini berdiri. Maka, kami menjalankan DYG 2020 dengan sebaik-baiknya. Memang bergerak keluar bukan sesuatu yang mudah, tetapi ketika dilaksanakan ternyata mudah.

Konkretnya, dalam acara ini kami mengunjungi tempat-tempat yang bagi kami sangat berbeda yakni pondok pesantren, eco camp, vihara dan pura. Dan semua kegiatan itu sungguh mendapat apresiasi dari pengurus lembaga yang kami kunjungi. Ternyata, perbedaan bukan untuk saling membedakan, tetapi untuk saling menghormati.

Lalu, mengapa mengunjungi eco camp? Apa yang dipelajari di sana?

Di eco camp mereka mempelajari bahwa alam juga begitu banyak memberi bantuan bagi kehidupan manusia, namun manusia tidak memperhatikannya. Di sana mereka belajar mengenai bumi dan alam yang sudah mulai tergerus oleh jaman. Di sana, juga ada nilai rohani yang mereka petik yakni bagaimana mencintai alam dari sudut pandang rohani. Mereka belajar berteman dengan alam dengan menanam dan merawat kembali alam itu sehingga alam memberikan kehidupan kepada manusia.

Sebagai ketua panitia, bagaimana Anda mendorong teman-teman panitia?

Saya memiliki prinsip, segala sesuatu yang dipercayakan kepada saya adalah amanah yang harus saya jalankan dengan selalu melibatkan Tuhan, yang selalu saya bawa dalam doa, karena perjalanan ini tidak gampang. Demikian pula dalam menyemangati teman-teman panitia. Kalau ada teman yang mulai loyo, saya rangkul dan ajak bicara demi keberhasilan sekolah, yayasan, serta demi kepentingan bersama, bukan kepentingan saya.

Apakah semangat Santo Dominikus menyertai Anda dalam pelaksanaan DYG 2020 ini?

Ya jelas! Semangat Santo Dominikus yang pertama-tama saya simpan dalam diri saya adalah ‘kalau saya mau menyelamatkan orang lain, saya harus menyelamatkan diri saya dulu’. Maka, dalam kebersamaan dengan panitia ini, pertama-tama saya harus mengisi rohani saya, karena sebagai manusia saya juga kadang down dan tidak semangat. Tetapi dengan semangat Dominikus itu saya menyelamatkan diri sendiri dulu sehingga bisa menyelamatkan teman-teman yang sudah loyo dan anak-anak yang sudah tidak bergairah. Maka Santo Dominikus bagi saya adalah sosok yang membaharui diri saya terus-menerus. Prinsipnya selalu saya pegang.

Apakah panitia juga mendapat dukungan dari cabang lainnya?

Ya, kantor cabang yang lain sangat membantu kami. Ketika kumpul atau briefing pertama keempat cabang Yayasan Santo Dominikus ini saya melihat dengan jelas bagaimana mereka membantu kami. Ketika saya tuangkan program DYG 2020 yang disusun panitia, mereka lalu memberikan masukan berdasarkan pengalaman yang sangat memacu saya.

Apa yang mereka persiapkan terbukti di malam Farewell Party. Dalam acara puncak itu saya melihat dukungan mereka. Acara itu luar biasa. Itulah bentuk dukungan mereka. Itu bentuk konkret dukungan mereka. Mereka telah mempersiapkan semuanya dengan cara yang luar biasa sejak jauh hari.

Tapi, target adalah anak-anak, supaya menjadi pewarta. Apakah mereka sungguh terlibat?

Ketika kami berikan pembatasan jumlah peserta, menurut sharing dari cabang, ternyata antusiasme anak-anak untuk ikut luar biasa. Ketika didata, banyak yang minta ikut, tetapi tidak bisa, karena cabang harus melakukan seleksi sesuai kemampuan, keterlibatan serta keterbatasan SDM mereka untuk melayani. Tidak semua cabang mempunyai kemampuan untuk mengirim anak-anak dalam jumlah besar.

Di Cimahi, ketika kami minta anak-anak berperanserta di bagian-bagian tertentu, mereka sungguh melakukan dengan baik dan tidak mengeluh. Beberapa anak yang saya jumpai mengatakan, “Saya senang Pak, bisa berjumpa orang lain yang selama ini saya tidak tahu. Dan ketika saya ngobrol ternyata enak sekali.” Jadi anak-anak menemukan banyak teman baru. Memang sebelumnya kami tegaskan, kalau tidak mengikuti kegiatan ini mereka akan kehilangan kesempatan yang tidak mungkin terjadi setiap tahun bahkan sekian tahun. Maka mereka antusias untuk ikut dan itulah kebahagiaan saya sebagai ketua panitia.

Dalam berbagai penampilan, lagu-lagu dan yel-yel nampak anak-anak SD, SMP dan SMA bergairah menjadi pewarta, mengikuti jejak Santo Dominikus, ada apa dalam diri mereka?

Saya kira mereka tidak salah memilih sekolah ini, karena di sini selalu ditanamkan semangat Santo Dominikus yaitu keceriaan, sukacita dan memulai dari apa yang ada. Dalam konteks ini, mereka membuat sesuatu yang mungkin tidak dipikirkan orang lain. Mereka bisa karena mereka memulai dari apa yang ada. Dengan demikian, persaudaraan menjadi sangat kuat.

Memang, dalam konteks zaman milenial seperti ini tidaklah gampang mencari situasi persaudaraan. Maka sekolah tetap menawarkan cara-cara Santo Dominikus yang dulu sehingga Santo Dominikus hidup kembali. Itu yang membuat mereka antusias bergabung di sekolah-sekolah yang dijalankan oleh Yayasan Santo Dominikus. Itulah yang saya lihat. Maka, kami tidak pernah merasa takut bahwa sekolah ini akan habis atau tutup.

Bagaimana semangat santo Dominikus ditanamkan kepada anak-anak didik?

Saya pribadi menanamkan teladan atau hidup saya sebagai guru agama. Menjadi guru agama itu tidak gampang. Selain mengajar teori, orang akan menilai saya dari sikap dan kehidupan saya sehari-hari. Maka, saya berusaha memberi contoh yang baik. Saya harus mengolah dan membiarkan diri saya dilihat orang tanpa harus bicara.

Saya merasa dengan bekerja di sekolah milik Yayasan Santo Dominikus dengan sendirinya semangat Santo Dominikus selalu muncul. Dan, saya selalu memperkaya pengenalan saya akan Santo Dominikus dengan belajar dari para suster dan sekarang para pastor yang sudah mulai masuk Indonesia, dan yang paling penting membaca buku-buku berhubungan dengan Santo Dominikus.

Saya juga senang bahwa sekarang Santo Dominikus mulai merambah ke tempat asal saya di Ngabang, Landak, Kalimantan Barat. Saya bahagia sekali karena sekarang di Ngabang, para imam Dominikan (OP) dipercayakan oleh Uskup Agung Pontianak untuk menjalankan STKIP Pamane Talino.

Apa mimpi Anda tentang persekolahan ini?

Yang berharap adalah para alumni dan yang sedang belajar di sini nanti menjadi sosok yang dinilai orang sebagai orang yang baik, yang punya karakter tersendiri, yakni karakter Santo Dominikus yang juga menghargai perbedaan dengan orang yang mungkin yang tidak berkecukupan dan yang membutuhkan uluran tangan.

Kami harapkan alumni persekolahan ini sungguh menjadi alumni yang kuat, tahan banting, dan bersemangat Santo Dominikus yang selalu membangun semangat persaudaraan.

Anda tidak tertarik menjadi Dominikan Awam?

Saya sendiri pernah masuk Dominikan Awam, tetapi setelah saya renungkan ternyata saya belum sanggup menjalaninya karena dinamika pekerjaan saya, karena susahnya membagi waktu untuk sekolah, apalagi sebagai wakil kepala sekolah, dan untuk keluarga. Saya lalu mohon maaf kepada suster. Namun, tidak ikut Dominikan Awam bukan berarti mengurangi semangat saya. Meski tidak langsung masuk Dominikan Awam, sejak di Cimahi saya sudah mengambil peran di bidang pewartaan dalam Dewan Pastoral Paroki Cimahi.***

Artikel Terkait:

Saat Dominican Youth Gathering pelajar sekolah Katolik belajar saling mengasihi di pesantren

Pewarta milenial dari Persekolahan Santo Dominikus bagikan refleksi cinta lewat Instagram

Peserta Dominican Youth Gathering diajak berdoa tekun, berbicara benar, bertindak penuh kasih

Tinggalkan Pesan