Paus bertemu orang sakit dan pengasuhnya di Chili Januari 2018. (Vatican Media)
Paus bertemu orang sakit dan pengasuhnya di Chili Januari 2018. (Vatican Media)

Dalam pesan untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-28, Paus Fransiskus mendorong agar kehangatan manusia dan pendekatan pribadi Kristus, Orang Samaria yang Baik Hati, dimiliki oleh relawan, pekerja dan orang-orang yang berprofesi di bidang kesehatan. Pesan itu dirilis di Vatikan pada hari Jumat, 3 Januari 2020.

Setiap tahun Gereja Katolik merayakan Hari Orang Sakit Sedunia, 11 Februari 2020, pada Pesta Santa Perawan Maria di Lourdes. Tema peringatan tahun ini: “Datanglah kepadaku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan aku akan memberi kelegaan kepadamu,” diambil dari Injil Matius (11:28).

Kata-kata solidaritas, penghiburan dan pengharapan Kristus, jelas Paus seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News, adalah untuk sangat banyak orang sederhana, miskin, sakit, berdosa, yang terpinggirkan oleh beban hukum dan sistem sosial yang menindas. Belas kasih dan kehadiran Yesus yang menghibur, kata Paus, merangkul orang-orang dengan sepenuhnya, setiap orang dalam kondisi kesehatannya, tanpa membuang siapa pun, tetapi mengajak semua orang untuk ikut hidup bersama Dia dan mengalami kasih-Nya yang lembut.

Yesus, jelas Paus, melakukannya karena Dia sendiri menjadi lemah, menanggung penderitaan manusia dan menerima penghiburan dari Bapa-Nya. Menurut Paus, hanya yang secara pribadi mengalami penderitaan mampu menghibur orang lain.

Paus mencatat, kadang-kadang kehangatan manusia kurang dalam pendekatan terhadap penderita penyakit kronis dan tidak dapat disembuhkan, penyakit psikologis, situasi-situasi yang menuntut rehabilitasi atau perawatan paliatif, berbagai bentuk ketidakmampuan, penyakit anak-anak atau geriatri … “Yang diperlukan adalah pendekatan pribadi terhadap orang sakit, bukan hanya menyembuhkan tetapi juga merawat, mengingat penyembuhan manusia yang integral.”

Selain terapi dan dukungan, kata Paus, mereka mengharapkan perawatan dan perhatian. “Singkatnya, kasih.” Paus menambahkan, “Di samping setiap orang yang sakit, ada juga keluarga, yang menderita dan membutuhkan dukungan dan hiburan.”

Yang sakit, kata Paus, menarik mata dan hati Yesus. “Kristus tidak memberi kita resep, tetapi melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya, Dia membebaskan kita dari cengkeraman kejahatan,” kata Paus. Dalam hal ini, “Gereja ingin semakin menjadi “penginapan” dari Orang Samaria yang Baik Hati, yaitu Kristus (lih. Luk 10:34), yaitu rumah tempat kalian bisa menjumpai kasih karunia-Nya, yang terungkap dalam kedekatan, penerimaan dan pertolongan.”

Bapa Suci mengakui peran kunci yang dimainkan petugas kesehatan, seperti dokter, perawat, petugas medis dan administrasi, asisten dan relawan dalam merawat orang sakit. Sebagai pria dan wanita yang juga memiliki kelemahan dan penyakit, petugas layanan kesehatan ini menunjukkan betapa benarnya bahwa “begitu hiburan dan kelegaan dari Kristus diterima, pada gilirannya kita dipanggil memberi kelegaan dan hiburan bagi saudara-saudari kita.”

Dalam melayani orang sakit, Paus mendesak orang-orang yang berprofesi di bidang kesehatan agar “kata benda ‘orang’ lebih diprioritaskan daripada kata sifat ‘sakit’. Paus mendesak mereka untuk “selalu berusaha meningkatkan martabat dan kehidupan setiap orang, dan menolak kompromi ke arah euthanasia, bunuh diri yang dibantu atau penindasan hidup, bahkan dalam kasus penyakit terminal.”

“Ingatlah bahwa hidup itu suci dan milik Allah,” kata Paus. Karena itu, “kehidupan tidak bisa diganggu gugat dan tidak ada orang yang bisa mengklaim hak untuk membuang kehidupan itu dengan bebas.” Paus menambahkan, “Hidup harus disambut, dilindungi, dihormati dan dilayani dari awal hingga akhirnya: alasan manusiawi dan iman akan Allah, pencipta kehidupan, menghendakinya.”

“Dalam beberapa kasus,” ungkap Paus, “keberatan hati nurani menjadi keputusan yang diperlukan jika kalian ingin konsisten dengan jawaban ‘ya’ kalian untuk hidup dan untuk umat manusia,” dengan demikian “yang paling benar adalah menjaga hak asasi manusia, hak untuk hidup.” Paus menambahkan, “Kalau kalian tak bisa lagi memberikan obat, kalian masih bisa memberi perawatan dan penyembuhan, melalui gerakan dan prosedur yang memberikan hiburan dan bantuan bagi orang sakit.

Paus menyesal bahwa dalam perang dan konflik kekerasan, pekerja dan fasilitas kesehatan diserang, dan di beberapa daerah, otoritas politik berupaya memanipulasi perawatan medis untuk keuntungan mereka sendiri, sehingga membatasi otonomi resmi profesi medis.

Melihat ada banyak orang di seluruh dunia “tidak punya akses ke perawatan medis karena hidup dalam kemiskinan.” Paus mendesak lembaga-lembaga kesehatan dan para pemimpin pemerintahan untuk tidak mengabaikan keadilan sosial.

Bapa Suci mengakhiri pesannya dengan berterima kasih kepada semua relawan kesehatan yang melayani orang sakit, sering dengan mengkompensasi kekurangan struktural, sambil mencerminkan citra Kristus, Orang Samaria yang Baik Hati, dengan tindakan kasih dan kedekatan mereka yang lembut. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan