BDI a

Beberapa pria dan wanita yang pernah menerima Beasiswa Dominikan Indonesia (BDI) untuk studi di Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) Surabaya menyadari, keluarga BDI merupakan keluarga besar yang saling menopang, sehingga keberhasilan mereka juga merupakan hasil kerja sama banyak orang, maka saat berhasil mereka tidak boleh lupa untuk berbagi.

Kesadaran dan niat itu terungkap kembali dalam Temu Alumni BDI di Surabaya seperti yang diungkapkan kepada PEN@ Katolik oleh salah seorang pendamping BDI, Retno Dewi Pulung Sari. Dosen Fakultas Hukum di UKDC itu menghadiri kegiatan itu bersama pendamping lainnya, Niniek Barnadi dan Pastor Andreas Kurniawan OP (Pastor Andrei).

Memang, “dalam pendampingan kepada penerima beasiswa itu sejak awal, mereka diminta memiliki mimpi atau berani bermimpi dan berani berbagi dengan kondisi apapun yang mereka miliki.”

20 lebih penerima BDI yang mewakili lima angkatan penerima BDI menghadiri temu alumni pertama BDI yang dilaksanakan untuk bersyukur atas wisuda yang diterima angkatan keempat. Angkatan kelima kini sedang menempuh skripsi. Mereka ngobrol santai “karena sudah lama tidak bertemu” dan bertukar cerita tentang jalan yang sedang di tempuhnya saat ini untuk mencapai masa depan.

Kegiatan 6 Desember 2019 itu diisi juga dengan Misa yang dipimpin Pastor Andrei. Dalam homili, Pastor Andrei mengingatkan kembali mengenai mimpi yang selalu harus mereka miliki. “Mimpi yang dimiliki saat menjadi mahasiswa, akan lebih mudah diraih jika memahami setiap proses yang harus ditempuh dan jika saling menopang,” kata imam itu.

Menurut Pastor Andrei, beberapa alumni yang sudah bekerja, sudah bisa merengkuh mimpinya, sedangkan yang belum meraih mimpinya, tidak boleh berhenti memimpikan dan mewujudkannya. “Tidak boleh menyerah,” tegas imam Dominikan itu.

Menurut Pastor Andrei, penerima BDI bukan saja menerima beasiswa tetapi juga pendampingan selama masa kuliah, “dan banyak alumni sudah bekerja sesuai mimpi mereka, misalnya yang kuliah akuntansi dengan minat perpajakan kini sedang bekerja di bagian pajak.”

Hasilnya, dari lulusan 2019 atau angkatan keempat yang diwisuda 23 November 2019 tercatat tiga nama penerima BDI yang memiliki prestasi gemilang. Devi Dian Amalia, meraih IPK 3,95 dan Kredit Poin Kegiatan Kemahasiswaan (KPKK) sebesar 1.130 dan menjadi wisudawan terbaik UKDC 2019. Selain Devi, dua penerima BDI memperoleh penghargaan wisudawan aktif berprestasi, yakni Wartalena Irena Halawa dengan KPKK tertinggi sebesar 1.300 serta Iga Astri dengan KPKK sebesar 700.

“Kami berhasil memperoleh prestasi karena proses pembinaan selama perkuliahan oleh para pendamping,” kata Devi. Mayoritas penerima BDI itu menyampaikan, keberhasilan mereka terjadi karena proses saling membantu di antara para penerima BDI saat kuliah di UKDC, dan karena mengingat banyak umat yang ikut membantu pembiayaan SPP mereka.

Niniek bersama Pastor Andre mempersiapkan penghargaan khusus bagi angkatan keempat yang berhasil meraih penghargaan itu, dan meski Melani Gunawan dan Maria Agnes Roosmi Pratiwi yang ikut membidani temu alumni itu tidak bisa hadir, namun hari itu Melani menyajikan makan malam kesukaan anak-anak, ”nasi bakmoy.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Tinggalkan Pesan