Foto dari pxhere.com/
Foto dari pxhere.com/

Lonceng gereja di seluruh Filipina secara bersamaan dibunyikan selama 10 detik tanggal 10 Desember 2019 guna merayakan Hari Hak Asasi Manusia. Uskup Agung Caceres Mgr Rolando Tirona dari Sekretariat Nasional untuk Aksi Sosial (Nassa) mengatakan, prakarsa membunyikan lonceng itu merupakan penegasan komitmen Gereja terhadap solidaritas untuk kebaikan bersama. “Tetapi yang lebih penting, inilah cara kami yang paling sederhana untuk menunjukkan empati terhadap para korban pelanggaran hak asasi manusia, korban ketidakadilan, dan korban ketidaksetaraan yang terjadi di negara kami,” Mgr Tirona. “Inilah cara untuk menyatakan bahwa Gereja tidak membiarkan martabat manusia menjadi tidak manusiawi, dimanipulasi, dieksploitasi, dipinggirkan, dan dikesampingkan, dikecualikan, atau dijelekkan,” kata prelatus itu. Selain itu dirayakan Misa di berbagai paroki di seluruh negeri untuk perayaan itu. Dengan melakukan manifestasi solidaritas seperti itu, Nassa percaya “kami menyatakan kepedulian kami terhadap hak asasi manusia dalam konteks pemuridan, kesaksian, dan solidaritas Kristen.” Uskup Agung Caceres itu mengatakan upaya aktif untuk meningkatkan hak asasi manusia diperlukan karena banyak orang yang tertindas, dimanipulasi, dan dieksploitasi. Mgr Tirona menyesal, banyak orang bahkan jadi korban struktur masyarakat yang tidak adil, “dengan demikian mereka rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan pemerintah dan ‘kelompok-kelompok yang berkuasa’.” Menurut Mgr Tirona, “Sangatlah penting bahwa manusia melayani sesama manusia demi menjaga, melindungi, dan menjamin bahwa semua manusia menikmati manfaat yang sama dari kelimpahan ciptaan Tuhan.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan CBCPNews)

Tinggalkan Pesan