Mgr Rolly Untu MSC (screenshot)
Mgr Rolly Untu MSC (screenshot)

Dalam menyongsong datangnya Terang, kita perlu menkondisikan hidup kita dan lingkungan kita, supaya terhitung layak huni. Lingkungan yang layak huni sudah digambarkan oleh Nabi Yesaya dalam Yesaya 11:6-9, tulis Uskup Manado Mgr Benedictus Rolly Untu MSC dalam Surat Adven Uskup Keuskupan Manado 2019 berjudul “Lingkungan hidup layak huni” yang ditandatangani di Manado, 29 November 2019 dan diedarkan ke semua paroki dan biara di keuskupan itu dan dibacakan dalam video Youtube.

Memasuki tahun liturgi yang baru, dengan merayakan Hari Minggu Pertama Masa Adven, 1 Desember 2019, kata uskup itu, ada ritual dan simbol kecil dan sederhana, tapi penuh makna untuk dijalani dalam masa Adven yakni Krans Adven, yang memiliki siklus hidup penuh harapan, “yang selalu bergerak menuju cahaya yang semakin terang benderang.”

Bersyukur atas perjalanan hidup sepanjang tahun liturgi yang sudah lewat, yang sudah dimeriahkan dengan peristiwa-peristiwa dan perayaan iman, Mgr Rolly mengatakan bahwa rangkaian peristiwa dan perayaan iman itu, “menegaskan bahwa kita memang terus bergerak maju, melayakkan kita untuk menyongsong datangnya ‘Terang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang yang sedang datang ke dalam dunia’” (Yoh. 1-9).

Mgr Rolly juga menegaskan, pertemuan Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmed At-Tayyeb di Abu Dhabi, 4 Februari 2019, “membuka hati dan budi masyarakat dunia untuk membangun dunia yang layak huni, dengan menegaskan niat bersama untuk membangun persaudaraan manusia demi perdamaian dunia dan hidup berdampingan.”

Dunia layak huni, jelas uskup, adalah ruang yang memberi peluang bagi semua anggota untuk nikmati hidup berdampingan, tidak saling mengancam, tidak saling menghancurkan, tidak saling mengucilkan. “Hidup bersama diperjuangkan sambil mengedepankan kepentingan bersama dengan tetap menghormati kekhasan masing-masing pribadi dan kelompok,” tegas Mgr Rolly.

Juga digambarkan, cita-cita hidup bersama adalah kerukunan dan kedamaian yang menjamin kenyamanan dalam menjalani hidup dan menjalankan karya-karya hidup masing-masing. “Masing-masing anggota menjadi batu-batu yang hidup membangun lingkungan yang layak huni itu. Yang satu tidak perlu menjadi sandungan bagi yang lain. Semua anggota saling menerima untuk mewujudkan persaudaraan insani yang inklusif dan bersama-sama bersyukur dan bergembira.”

Dijelaskan, Sidang KWI 2019 yang diikutinya di Bandung, 4-14 November 2019, mengambil tema ‘Persaudaraan Insani untuk Indonesia Damai’. “Sambil mengenang perjalanan bersama sebagai satu bangsa, sungguh terasa betapa mahalnya kerukunan dan kedamaian itu. Terlalu banyak biaya harus digelontarkan untuk itu, terlalu banyak energi harus dihabiskan untuk mewujudkannya terlalu banyak waktu dan pekerjaan harus dikorbankan untuk itu, bahkan terlalu banyak nyawa melayang untuk menanggapinya. Kerukunan dan kedamaian itu memang harus dibayar mahal. Untuk mewujudkannya perlu ada perubahan dalam tata kelola pergaulan dan interaksi sosial, interaksi sosial itu perlu diletakkan di atas dasar kokoh yaitu pengakuan akan persaudaraan insani,” tulis uskup.

Menurut Mgr Rolly, kesaksian tentang persaudaraan insani ditemukan secara sangat mengagumkan di kandang Betlehem. Di sana, tampil anak-anak manusia berkehendak baik membangun lingkungan layak huni, sebagai pelaku perubahan, yang mau keluar dari kotak fanatisme (keluarga, suku, agama, keyakinan, status, jabatan) dan mewartakan persaudaraan insani.

“Yesus menjadi pelaku perubahan dan pembaharuan yang luar biasa. Yesus mengubah kandang dan palungan menjadi rumah layak dihuni oleh manusia. Palungan yang siapkan untuk domba, kini menjadi tempat yang nyaman untuk anak domba Allah,” tulis Mgr Rolly.

Bahkan, lanjut uskup, “kandang yang menjadi tempat berteduh segerombolan binatang kini menjadi rumah perjumpaan yang sangat nyaman antarmanusia. Dunia malam yang menakutkan untuk para gembala berubah menjadi malam penuh kedamaian dan membangkitkan keberanian untuk hidup.”

Dikatakan, para ilmuwan dan bijak dari Timur memuncaki petualangan mereka di kandang itu. “Di situ mereka menemukan jawaban untuk segala petualangan keingintahuan mereka. Di situ mereka diterima dan di situ pula mereka menyerahkan masa depan mereka kepada Emmanuel.”

Sungguh kandang itu menjadi rumah layak huni, tegas Mgr Rolly, “karena orang-orang berbeda yang bertemu di dalamnya tidak memersoalkan perbedaan, tetapi merenungkan masa depan mereka, menegaskan tujuan hidup mereka, menemukan cita-cita mereka sebagai manusia, yaitu keselamatan.”

Di dalam rumah ada ruang berbeda, di dalam rumah ada aspirasi berbeda, di dalam rumah ada ideologi berbeda, tetapi tulis Mgr Rolly, mereka semua bersatu di bawah tuntutan visi yang sama yaitu “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14).

Keuskupan Manado meliputi di tiga provinsi, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah dengan keragaman agama dan budaya. “Kemajemukan adalah fakta tak terhindarkan sebagai konteks di mana Gereja hadir, hidup dan berkarya,” tulis Mgr Rolly.

Fakta itu, lanjut uskup, harus dimengerti sebagai panggilan bagi Gereja untuk memberikan tanggapan, “dimulai dengan berusaha memahami perbedaan yang mewarnai keragaman itu, selanjutnya menegaskan ada kebaikan dan kebenaran di dalam masing-masing agama dan budaya, kemudian menghargai kebenaran dan kebaikan itu, akhirnya saling menerima menghormati dan merangkul sebagai anggota  persaudaraan insani.”

Dengan demikian, tulis Mgr Rolly, “kita sudah berkontribusi membangun lingkungan yang layak huni untuk semua anggota persaudaraan insani yang memersatukan kita adalah nilai-nilai kemanusiaan.”(PEN@ Katolik/michael)

 

1 komentar

Leave a Reply to Vincent Batal