Pohon Natal sudah berdiri di Vatikan di saat Adven, menanti kedatangan  Juruselamat (Foto diambil dua tahun lalu oleh PEN@ Katolik/pcp)
Pohon Natal sudah berdiri di Vatikan di saat Adven, menanti kedatangan Juruselamat (Foto diambil 1 Desember 2017 oleh PEN@ Katolik/pcp)

(Renungan berdasarkan bacaan Injil Minggu Adven Pertama [A], 1 Desember 2019: Matius 24:37-44)

Kita memasuki masa Adven. Waktu ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru. Masa itu sendiri adalah persiapan bagi kita untuk menyambut Natal, kedatangan Yesus Kristus. Kata Adven berasal dari kata Latin “Adventus” yang berarti “kedatangan.” Warna liturgi yang dominan adalah ungu yang menandakan harapan penuh sukacita akan kedatangan Juruselamat kita.

Gereja selalu mengajarkan bahwa ada dua kedatangan Yesus. Kedatangan pertama adalah dua ribu tahun yang lalu di Betlehem, ketika Yesus dilahirkan dalam keluarga sederhana Yusuf dan Maria. Kedatangan kedua akan terjadi pada akhir zaman, dan tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi. Itu rahasia Tuhan, dan siapa pun yang mencoba memprediksi pasti akan gagal dan menjadi nabi palsu.

Khususnya, hari Minggu Adven pertama berfokus pada kedatangan Yesus yang kedua. Dari bacaan Injil, kita dapat melihat setidaknya dua karakteristik dari kedatangan ini. Pertama, akan ada penghakiman dan pemisahan antara yang baik dan yang jahat. Kedua, kedatangan akan sama sekali tak terduga seperti hari Air Bah di zaman Nuh dan keluarganya atau seperti pencuri di malam hari. Karena akan ada penilaian berdasarkan hidup kita serta waktu yang tidak terduga, kita diharapkan selalu siap dengan tekun berbuat baik.

Tujuan masa Adven adalah untuk mengingatkan bahwa Tuhan pasti akan datang, dan kita siap untuk kedatangan itu entah kapanpun itu. Bagaimana kita akan bersiap untuk kedatangan Yesus?

Jawabannya sangat sederhana: menjadi kudus dan tetaplah kudus. Tentunya, ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, namun kita dapat belajar dari orang-orang kudus. Sekali lagi, beberapa dari kita mungkin mengatakan sulit untuk menjadi orang kudus, dan hampir tidak mungkin menyerupai Yohanes Paulus II yang adalah Paus suci, atau meniru Bunda Teresa dari Calcutta yang menghabiskan hidupnya di daerah kumuh India dan melayani orang miskin tanpa lelah, atau seperti Santo Stefanus yang dilempari batu sampai mati karena menjadi saksi Yesus. Memang, tampaknya mustahil jika kita fokus pada kebesaran orang-orang kudus ini, tetapi sebenarnya, ada banyak orang kudus yang menjalani kehidupan sangat sederhana.

Santa Teresa dari Anak-Anak Yesus, yang menghabiskan hidupnya yang sangat sederhana di dalam sebuah biara, pernah menulis, “Jangan lewatkan kesempatan untuk berkorban kecil, di sini dengan wajah tersenyum, di sana dengan kata-kata yang ramah; selalu melakukan hal yang paling kecil dan melakukan semuanya demi kasih.” Ada banyak hal dapat kita persembahkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kecanduan pada ponsel, obsesi untuk menjadi gila kerja, waktu untuk hobi kita, dan kecenderungan untuk mengeluh. Sementara Santo Martin de Porres, seorang bruder Dominikan, yang menghabiskan hidupnya dengan membersihkan biara dan melayani orang miskin, menunjukkan kepada kita bahwa jalan kekudusan tidak selalu dahsyat, “Segalanya, bahkan menyapu, membersihkan sayuran, menyiangi kebun dan merawat orang sakit bisa menjadi doa, jika dipersembahkan kepada Tuhan.”

Cara untuk mempersiapkan kedatangan kedua Yesus adalah dengan menjadi kudus, dan menjalani kehidupan yang suci dapat dilakukan dalam melakukan hal-hal biasa dalam kasih dan untuk Tuhan.

Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Tinggalkan Pesan