Paus Fransiskus dalam sebuah perayaan di depan Basilka Lateran
Paus Fransiskus dalam sebuah perayaan di depan Basilka Lateran

Paus Fransiskus sebagai Uskup Roma merayakan Pesta Pemberkatan Basilika Lateran yang juga dikenal sebagai Katedral Paus dan disebut sebagai ‘induk semua gereja’ dengan mempercayakan tiga ayat bacaan liturgi Misa itu kepada umat, imam, dan pekerja pastoral Keuskupan Roma.

Setiap tahun, pada hari raya memperingati pemberkatan Basilika Santo Yohanes Lateran oleh Paus Sylvester I, 9 November 324 Masehi, Paus mengunjungi Basilika tertua di Dunia Barat itu. Dan dalam homili Misa 19 November 2019, Paus meminta mereka untuk “bermeditasi dan berdoa untuk mereka.”

Ayat pertama untuk seluruh umat keuskupan Roma diambil dari Mazmur Tanggapan: “Sebuah sungai yang alirannya menyukakan kota Allah.” Umat Kristiani yang tinggal di kota ini “seperti sungai yang mengalir dari Bait Allah,” kata Paus, “mereka membawa Sabda kehidupan dan harapan yang mampu membuat padang pasir di hati kita menjadi subur.”

Mengacu pada Santo Yohanes Lateran sebagai “Induk Gereja Roma,” Paus berdoa agar basilika itu bisa “mengalami penghiburan karena melihat sekali lagi ketaatan dan keberanian anak-anaknya, yang penuh antusiasme di musim baru evangelisasi ini.” Paus menggambarkannya sebagai “menemui orang lain, berdialog dengan mereka, mendengarkan mereka dengan kerendahan, keanggunan dan kemiskinan hati.”

Paus mempersembahkan ayat kedua, dari Surat Santo Paulus kepada jemaat di Korintus, kepada para imam: “Tidak seorang pun dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” Inti pelayanan kalian, kata Paus, adalah “membantu umat untuk selalu berada di bawah kaki Tuhan untuk mendengarkan Firman-Nya, menjauhkan dari semua keduniawian dan kompromi buruk, menjaga dasar itu dan akar-akar yang diberkati dari bangunan spiritual, mempertahankannya dari serigala-serigala rakus dan dari mereka yang ingin membelokkannya dari jalan Injil.”

Paus menyatakan rasa terima kasihnya kepada para imam Roma dan mengatakan kepada mereka bahwa dia mengagumi iman dan cinta mereka kepada Tuhan, kedekatan mereka dengan umat dan kemurahan hati mereka dalam memperhatikan orang miskin. “Kalian lebih tahu daerah-daerah kota daripada orang lain, dan kalian menyimpan wajah, senyum, dan air mata dari begitu banyak orang di hati kalian,” kata Paus.

Paus mencadangkan ayat terakhir untuk para pekerja pastoral. Paus menjelaskan kisah Injil tentang Yesus mengusir para pedagang dan para penukar uang dari Bait Allah. “Kadang-kadang, untuk merusak kekeraskepalaan orang dan membimbing mereka melakukan perubahan radikal, Tuhan memilih untuk mengambil tindakan keras,” kata Paus.

Allah ingin agar Bait Suci-Nya menjadi rumah doa bagi semua orang, “oleh karena itu Yesus memutuskan menggulingkan meja penukar uang dan mengusir binatang-binatang.” Yesus tahu, kata Paus, provokasi ini akan sangat merugikan-Nya, saat mereka bertanya kepada-Nya, “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Tuhan menjawab dengan mengatakan, “Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.”

“Dalam hidup kita sebagai orang berdosa, sering terjadi bahwa kita menjauhkan diri dari Tuhan,” kata Paus. “Kami menghancurkan Bait Suci Allah, yakni setiap kita… Namun Tuhan perlu tiga hari untuk membangun kembali bait-Nya di dalam diri kita.”

Paus mendorong tim pastoral untuk menemukan “cara-cara baru untuk bertemu mereka yang jauh dari iman dan dari Gereja.” Tidak seorang pun, betapa pun terluka oleh kejahatan, dikutuk untuk dipisahkan dari Allah di bumi ini selamanya, kata Paus.

“Kita kadang-kadang menghadapi ketidakpercayaan dan kebencian,” kata Paus, “tetapi kita harus berpegang pada keyakinan bahwa Allah membutuhkan tiga hari untuk membangkitkan Anak-Nya dalam hati seseorang.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Paus Fransiskus di Basilika Santo Yohanes Lateran (Vatican Media)
Paus Fransiskus di Basilika Santo Yohanes Lateran (Vatican Media)

Tinggalkan Pesan