Penjarahan di sebuah gereja di Santiago, Chili, (ANSA)
Penjarahan di sebuah gereja di Santiago, Chili, (ANSA)

Konferensi Waligereja Katolik Chili mengeluarkan pernyataan yang menyerukan diakhirinya kekerasan yang sedang berlangsung dan menyatakan solidaritas dengan umat beriman di kota-kota tempat terjadinya pencemaran terhadap tempat-tempat ibadah.

Dalam sebuah pernyataan, seperti dilaporkan oleh Francesca Merlo dari Vatican News, para uskup Katolik Chili mengungkapkan solidaritas dengan “semua umat Keuskupan Agung Santiago.” Sebuah paroki di keuskupan itu dijarah dan dicemarkan. Para uskup juga menyatakan kedekatan dengan “umat dan para gembala” dari kota-kota lain di mana tempat-tempat ibadah menjadi sasaran protes keras.

Hari Jumat, 8 November 2019, pengunjuk rasa dengan mengenakan penutup kepala menjarah sebuah Gereja Katolik di Santiago. Diperkirakan 75.000 orang telah berkumpul di sebuah lapangan dekat gereja itu untuk memprotes pemerintah yang sedang berkuasa Presiden Sebastian Piñera.

Kerumunan orang itu menyerbu Gereja La Asuncion kemudian mengangkat bangku-bangku gereja, patung-patung dan ikon-ikon religius lainnya untuk kemudian membakarnya.

Dalam pernyataan mereka, para uskup menulis bahwa “serangan terhadap gereja-gereja dan tempat-tempat doa, tanpa rasa hormat akan Allah atau bagi mereka yang percaya akan Dia, menyebabkan kita menderita.” Para uskup menegaskan, “gereja dan tempat ibadah lainnya itu suci.”

Chili dilanda 24 hari protes keras setelah Presiden Piñera menaikkan harga tiket metro. Protes, yang dimulai mahasiswa dengan melompati pintu putar, dengan cepat berubah menjadi bentrokan, penjarahan, dan pembakaran. Lebih dari 20 orang telah tewas dan Palang Merah Chili memperkirakan 2.500 lainnya telah terluka.

Para uskup mengatakan dalam pernyataan mereka bahwa tindakan kekerasan dari beberapa orang “menghalangi kita memberikan perhatian yang benar terhadap klaim mayoritas rakyat Chili, yang merindukan solusi nyata dan damai.”

Para pengunjuk rasa telah berjuang memperbaiki pendidikan, perawatan kesehatan dan sistem pensiun sementara menuntut pengunduran diri Presiden Piñera. Chili dianggap sebagai salah satu negara terkaya di Amerika Latin tetapi paling tidak setara secara sosial.

Para uskup menyatakan, “bersama dengan begitu banyak orang Chili, kami secara radikal menentang ketidakadilan dan kekerasan, mencelanya dalam segala bentuknya.”

Para uskup menyerukan kepada pihak berwenang agar “menggunakan hukum dan menerapkannya dengan semua sumber daya negara yang demokratis” guna menertibkan dan “membangun kembali koeksistensi warga.”

”Orang-orang tidak hanya bosan dengan ketidakadilan,” tulis pernyataan itu, “mereka juga lelah dengan kekerasan.” Akhirnya, para uskup mengatakan, bersama dengan banyak orang Chili, mereka sedang menunggu dialog yang diperlukan untuk membantu membangun kembali fondasi sosial yang diperlukan.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan