Muhammadiyah2
Penandatangan dokumen melawan euthanasia dari agama Yahudi. Katolik dan (Kristen) dan Islam memperlihatkan dokumen dan penandatangan pada Paus Fransiskus (PEN@ Katolik/pcp – Tangkapan Layar dari Rome Reports.com)

“Kami menentang segala bentuk euthanasia – yakni tindakan mencabut nyawa yang langsung, sadar dan sengaja – serta bunuh diri dengan bantuan dokter – yang merupakan dukungan bunuh diri langsung, sadar dan disengaja – karena secara fundamental tindakan itu bertentangan dengan nilai yang tidak bisa dicabut dari kehidupan manusia, dan karena itu salah secara inheren dan konsekuen, moral dan agama, dan harus dilarang tanpa kecuali.”

Itulah sebuah pernyataan pertama dalam sejarah dunia yang isinya melawan euthanasia yang dibuat dan ditandatangani bersama oleh wakil-wakil tiga agama monoteistik Abrahamik, yakni Yahudi, Muslim dan Kristiani. Wakil Indonesia dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga ikut bertanda tangan. Pernyataan mengenai persoalan mengakhiri hidup seperti euthanasia, bunuh diri dengan bantuan dokter, dan perawatan paliatif itu lalu dikeluarkan di Vatikan pada hari yang sama, Senin, 28 Oktober 2019.

Perawatan paliatif, menurut Wikipedia, adalah pelayanan kepada pasien yang penyakitnya sudah tidak bereaksi terhadap pengobatan kuratif, atau tidak dapat disembuhkan secara medis. Tujuan perawatan paliatif adalah untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dalam menghadapi setiap penyakit yang diderita dan mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan tenang dan nyaman tanpa merasa tertekan atas penyakit yang diderita, baik secara fisik maupun psikis yang berbasis spiritual.

Istilah agama monoteistik Abrahamik berasal dari Abraham, tokoh Perjanjian Lama, yang diakui oleh orang-orang Yahudi, Kristen, Muslim dan lain-lain.

Mereka tegas mengutuk segala tekanan kepada pasien yang sekarat untuk mengakhiri hidupnya dengan tindakan-tindakan aktif dan sengaja, dan menulis, “Perawatan untuk orang yang sekarat, adalah bagian dari pelayanan kita akan karunia Ilahi kehidupan ketika penyembuhan tidak lagi dimungkinkan, serta tanggung jawab manusiawi dan etika kita terhadap pasien yang sekarat (dan sering) menderita.”

Mereka menambahkan, “Perawatan holistik dan penuh hormat terhadap seseorang harus mengakui dimensi manusiawi, spiritual, dan religius yang unik dari orang yang sedang sekarat sebagai sebuah tujuan mendasar.”

Yang berada di belakang deklarasi itu adalah Rabi Avraham Steinberg dari Israel. Dia usulkan gagasan itu kepada Paus Fransiskus, yang pada gilirannya mempercayakannya kepada Akademi Kepausan untuk Kehidupan dari Vatikan. Ketua akademi itu Uskup Agung Vincenzo Paglia melibatkan dan mengkoordinir sekelompok orang dari lintas iman untuk menyusun deklarasi itu.

Setelah dokumen itu dirilis, 30 penandatangan diterima dalam audiensi dengan Paus di Vatikan. Di antara mereka ada beberapa kardinal, rabi, termasuk David Rosen dan dua dari Indonesia yakni Syamsul Anwar dari  Muhammadiyah dan Marsudi Syuhud dari NU.

Agama-agama Abrahamik mendorong dan menyatakan dukungan untuk perawatan paliatif yang berkualitas di mana saja dan untuk semua orang. “Bahkan ketika upaya untuk terus mencegah kematian tampaknya membebani secara tidak masuk akal,” tulis mereka, “kita secara moral dan religius berkewajiban memberikan kenyamanan, keringanan rasa sakit dan gejala yang efektif, pertemanan, perawatan dan bantuan spiritual kepada pasien yang sekarat dan kepada keluarganya.”

Seraya menghimbau adanya hukum dan kebijakan yang melindungi hak dan martabat pasien sekarat untuk menghindari euthanasia dan mempromosikan perawatan paliatif, mereka berkomitmen melibatkan agama-agama lain dan semua orang berkehendak baik.

Uskup Agung Paglia menekankan pentingnya dimensi ekumenis dan antaragama dalam prakarsa bersama itu. Dengan demikian, kata uskup agung itu, bisa ditemui bidang-bidang yang bisa digabungkan dan menghasilkan buah persekutuan guna melayani semua orang, yang dalam diri mereka “kita semua melihat putra dan putri Allah.”

Menurut Pastor Markus Solo SVD dari Dewan Kepausan untuk Dialog antar-Umat Beragama di Vatikan, sehari setelah penandatanganan itu, Marsudi Syuhud dan Kiyai Imam Pituduh dari PBNU berkunjung ke dewan tempat imam itu berkarya.

“Kita ingin melanjutkan kerjasama dan saling mendukung dalam memajukan perdamaian, menghormati hak hidup dan nyawa orang, pemberantasan paham-paham sempit dan radikal, melindungi kebebasan beragama dan beribadah, serta mengembangkan persahabatan yang sudah selalu baik ini. (PEN@ Katolik dari beberapa sumber di Vatikan)

Silahkan melihat video di bawah ini:

https://www.youtube.com/watch?time_continue=63&v=BWx2p5LXT_8

Kunjungan NU

Tinggalkan Pesan