Kutabumi
Kardinal Suharyo mengenakan pakaian Misa berwarna merah untuk mengajak umat berani dan tegar dalam perutusan (PEN@ Katolik/krm)

Warna liturgi Hari Minggu, 27 Oktober 2019, menurut Kalender Liturgi, adalah hijau, tapi Ignatius Kardinal Suharyo, yang ketika memasuki halaman gereja disambut dengan ulos “sebagai ungkapan syukur,” merayakan Misa Penerimaan Sakramen Penguatan dengan jubah berwarna merah, simbol keberanian dalam beriman seperti para pelayanan Gereja di Keuskupan Agats.

Ketika tiba di halaman Gereja Paroki Santo Gregorius Agung, Kuta Bumi, Tangerang, Kepala Paroki Pastor Yustinus Sulistiadi Pr bersama Pastor Nemesius Pradipta Pr dan sekitar 700 umat menyambut Kardinal Suharyo dalam suasana penuh dengan lagu-lagu rohani dalam bahasa Batak dari Sumatera Utara.

Puluhan wanita berpakaian khas Batak berdiri di pinggir jalan yang dilewati uskup, dan setelah sekitar 50 meter berjalan, sepasang suami istri dari Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara (IKKSU) mengenakan ulos (kain khas Batak) ke bahu Kardinal Suharyo disertai syair-syair dalam sastra daerah Sumut dan terjemahannya.

Sejumlah anggota dewan paroki harian paroki itu menjelaskan kepada PEN@ katolik bahwa penyambutan itu sebagai tanda syukur atas terpilihnya Uskup Agung Jakarta itu sebagai kardinal ketiga di Indonesia dan diresmikan oleh Paus Fransiskus dalam konsistori 5 Oktober lalu di Basilika Santo Petrus, Vatikan.

Ketika memimpin Misa Penerimaan Sakramen Penguatan bagi 282 umat paroki itu, Kardinal Suharyo mengawali homili dengan mengungkapkan rasa gembira melihat adanya dinamika iman yang baik di paroki itu sehingga mencari jalan untuk selalu membangun persaudaraan antarumat beriman. “Beriman yang kreatif dan dinamis itu menjadi harapan kita semua,” kata kardinal.

Kemudian kardinal mengajak para penerima minyak Krisma itu untuk “selalu tampil berani dan tegar dalam setiap perutusan.” Kardinal lalu menjelaskan alasan mengapa hari itu menggunakan jubah berwarna merah sebagai simbol keberanian dalam beriman.

Kardinal mengisahkan perjumpaan dengan sekelompok umat di Keuskupan Agats, Papua. Diceritakan, setelah naik pesawat dari Jakarta dan mendarat di Timika, kardinal harus naik pesawat berukuran kecil berisi tujuh orang, kemudian menaiki speed yang membawanya bersama empat orang lain, dan berjalan kaki enam jam untuk sampai ke tujuan.

“Sangat melelahkan,” kata Kardinal Suharyo. Namun, ada sesuatu sangat memprihatinkan. “Di sana, di daerah itu, seluruh warga menderita penyakit kusta. Kondisi itu sudah lama dan bertahun-tahun,” lanjut kardinal.

Tiga orang suster dan seorang imam bertugas di sana untuk melayani masyarakat itu, kata Kardinal Suharyo. “Mereka setia melayani masyarakat yang menderita kusta. Selama tiga tahun berkarya, rupanya Tuhan memberikan keajaiban bagi wilayah itu. Setelah setia melayani selama tiga tahun di tempat itu, penyakit yang diderita warga setempat mulai berangsur-angsur sembuh,” kata kardinal.

Menurut Ketua Konferensi Waligereja Indonesia itu, “Semangat berani berkorban dan ketegaran ketiga suster dan seorang imam itu menjadi bukti nyata bahwa mereka melayani dengan tulus dan ikhlas meskipun banyak menghadapi kendala atau tantangan.”

Kardinal pun mengajak para penerima Sakramen Penguatan untuk mewujudkan iman yang tulus serta pengabdian yang tegar “walaupun perjalanan iman kadang-kadang dihadapkan dengan tantangan berat,” dan meminta seluruh umat Katolik untuk ikut peduli terhadap sesama di Papua.(PEN@ Katolik/Konradus R. Mangu)

Kardinal Suharyo  diterima secara adat Batak sebagai tanda syukur terpilih menjadi kardinal  (PEN@ Katolik/krm)
Kardinal Suharyo diterima secara adat Batak sebagai tanda syukur terpilih menjadi kardinal (PEN@ Katolik/krm)

Tinggalkan Pesan