Pater Frans 10

 

Oleh Saudara Vredigando Engelberto Namsa OFM

“Perjalanan yang tak mudah dan tak pasti, namun yakin dan percaya ada sejuta harapan.” Begitulah kira-kira perjalanan hidup Pastor Frans Lieshout OFM yang akrab dipanggil Pater Frans. Ketika datang di Papua untuk mewartakan Kabar Sukacita bagi orang-orang di bumi Cenderawasih, Pater Frans belum tahu banyak hal tentang Papua saat itu. Dengan bermodalkan iman dan harapan, ia datang sebagai misionaris Fransiskan dari Belanda.

Pater Frans lahir di Monfoort, Belanda, 15 Januari 1935. Anak ketujuh dari 11 bersaudara itu menghabiskan masa kecilnya bersama keluarga asalnya dan mengenyam pendidikan dasar di kampung halamannya. Dampak Perang Dunia II dirasakan juga oleh Pater Frans bersama keluarganya.

Setelah tamat dari sekolah menengah (Gynasium) tahun 1955 dalam usia 20 tahun, Pater Frans masuk anggota Ordo Fratrum Minorum (OFM). Setelah menjalani studi filsafat dan teologi, Pater Frans ditahbiskan imam dalam Persaudaraan Fransiskan Provinsi Belanda. Sebelum ditugaskan ke Papua (kala itu New Guinea), ia menjalani kursus persiapan sebagai misionaris. April 1963, Pater Frans datang ke Papua.

Tiba di Papua, Pater Frans ditugaskan di Waris (sekarang Kabupaten Keerom) untuk bisa belajar bahasa Indonesia serta antropologi, sosiologi dan tentunya kebudayaan Papua. Agustus 1963-1964, Pater Frans membantu di Kantor Keuskupan Jayapura sebagai sekretaris. April 1964, ia ditugaskan sebagai pastor di Lembah Baliem, tempat ia berjumpa dengan orang Hubula dan kebudayaannya. Selain menjalankan tugas sebagai imam dan seorang Fransiskan, Pater Frans membuat banyak hal sesuai minatnya sebagai budayawan.

Mei 1967, Pater Frans ditugaskan sebagai pastor di Bilogai (Keuskupan Timika saat ini). Banyak hal baru dilakukan di sana sebagai pastor muda. Ia juga memberi banyak perhatian bagi dunia pendidikan di sana. Setelah bertugas sebagai Rektor SPG Teruna Bakti Waena, Jayapura, (Agustus 1973-1983), Pater Frans menjadi Pastor Koordinator untuk Paroki Katedral, APO dan Argapura, semua di Jayapura (Agustus 1983-1985) dan sejak Agustus 1996 menjadi Kepala Paroki Katedral Jayapura.

Agustus 2002 sampai 2007, Pater Frans bertugas sebagai Kepala Paroki Biak. Penugasan di Biak itu adalah penugasan terakhirnya. Maka, pada usia ke-72, Pater Frans memilih kembali ke Lembah Agung (Wamena) untuk menghabiskan masa pensiunnya di sana dan menulis buku. Salah satu buku terbaik yang ditulisnya adalah “Sejarah Gereja Katolik di Lembah Baliem.” Pater Frans sangat mencintai orang Hubula dan kebudayaannya.

Pater Frans pantang mundur mewartakan Kabar Baik bagi semua orang yang ia layani. Pater Frans menjadi pelaku pembawa damai di Papua pada umumnya dan Lembah Baliem khususnya. Ia juga aktif mengajar budaya Baliem dan Sejarah Gereja pada Postulan OFM di Pikhe Wamena. Ia bisa berbahasa Baliem dengan baik bahkan memimpin Misa menggunakan bahasa setempat.

Tahun 2011, untuk pertama kalinya saya berjumpa dengan Pater Frans di Wamena. Ia menjemput saya bersama beberapa saudara lain untuk mengikuti masa postulan. Betapa kagumnya saya ketika pertama kali melihat Pater Frans. Dengan rendah hati sebagai seorang Fransiskan ia mengatakan, “Saya Saudara Frans, saya datang menjemput saudara-saudara calon postulan.” Dari bandara, Pater Frans mengantar kami ke Pikhe, tempat kami akan melangsungkan masa postulan.

Frans mengajar budaya Baliem dan Sejarah Gereja. Ia tekun memperhatikan kami. Pernah saya bertanya kepada Pater Frans yang tinggal sekitar tujuh kilometer dari Postulan OFM Pikhe. “Pater nayak, tidak capek ka datang mengajar kami di sini?” Pater Frans menjawab, “Berto Nayak, bagi kalian saya datang untuk memberi pengabdian saya. Jarak tidak menghalangi saya untuk datang. Saya sendiri merasa senang dan bahagia bila berjumpa dengan kalian semua. Kalian adalah masa depan Ordo di Papua ini. Saya sudah tua.” Dari jawaban itu, saya bisa mengatakan Pater Frans adalah orang kuat dan rendah hati dalam memberikan diri bagi Persaudaraan OFM dan Gereja Katolik di Papua.

Bapa Fransiskus Asisi sangat mencintai kedamaian. Dia mengikuti perang untuk membela kota kelahirannya. Tetapi ketika mengalami pengalaman rohani yang luar biasa, dia menyadari bahwa peperangan tidak akan membawa kedamaian yang berasal dari Kristus. Ketika bertobat dan memulai hidup baru sebagai religius yang mencintai kedamaian, ia berani menyerukan damai itu kepada semua orang yang ia jumpai, bahkan rela menjadi martir di Timur Tengah demi kedamaian saat perang salib. Namun cita-citanya untuk menjadi martir kedamaian tidak tercapai. Di akhir masa hidupnya ia masih terus menyerukan damai. Pater Frans adalah salah satu Fransiskan yang menunjukan hal itu, ia membawa damai kepada orang Papua, ia datang dari Belanda tanpa meragukan situasi dan kondisi yang ada di Papua saat itu.

Setiap orang Kristen dipanggil untuk mewartakan damai. Tentu damai yang dimaksudkan berasal dari Tuhan. Setiap kita yang sudah dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, mempunyai kewajiban melaksanakan tugas ini. Dalam situasi apapun kita harus berani mewartakan damai. Kita harus berani keluar dari kenyamanan hidup kita, keluar dari kebiasaan buruk kita, keluar dari rasa ego kita, sehingga kedamaian bisa dirasakan oleh setiap insan manusia. Pater Frans menunjukan hal itu dengan tindakan nyata. Ia berani datang dari tempatnya untuk membawa damai itu.

Tahun 2019, bulan Agustus dan September, kesehatan Pater Frans terganggu, sehingga banyak menghabiskan waktu di Jayapura untuk berobat. Ia baru menyelesaikan operasi bulan September 2019. Oktober 2019, terdengar kabar bahwa Pater Frans memutuskan kembali ke negeri asalnya, Belanda. Bagi orang Wamena, itu suatu hal yang tak mungkin terjadi. Namun, apa boleh buat. Ada saat kita berjumpa dan ada saat kita berpisah.

Maka, 26 Oktober 2019, Pater Frans merayakan pesta perpisahan dengan seluruh masyarakat Wamena dan Moni di Jayapura. Tanggal 27 Oktober 2019, Pater Frans merayakan pesta perpisahan dengan saudara-saudara Dina Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua di Provinsialat dan tanggal 28 Oktober 2019, Pater Frans berangkat dari Papua ke Jakarta dan seterusnya ke Negeri Kincir Angin.***

Pater Frans

Pater Frans

 

 

1 komentar

  1. Doa Restu;
    Mewakili Umat Kristen Katholik, Orang Papua.

    Allah Tritunggal menyembuhkan segala penyakit yang membuat jiwa raga menjadi sakit akan disucikan oleh Darah Yesus.

    Amin.

Tinggalkan Pesan