Suasana Sinode Amazon
Suasana Sinode Amazon

Seorang uskup dari Amazon mengangkat isu penahbisan imam bagi pria yang menikah, dengan alasan “viri probati” atau Gereja tidak punya pilihan lain saat ini. Uskup itu mengatakan, masyarakat adat tidak mengerti selibat. Uskup itu juga berbicara tentang pentingnya meningkatkan peran wanita, seraya mengatakan bahwa kita membutuhkan solusi konkret, seperti membuka diakonat untuk wanita.

Itu salah satu persoalan tentang kehadiran Gereja bagi orang Amazon yang dibicarakan dalam  Sinode Amazon. Seorang uskup dari Amazon, Mgr Erwin Kräutler CPPS mengangkat hal itu dalam pembicaraan dengan wartawan.

Selain itu, kata Prefek Dikasteri Vatikan untuk Komunikasi Dr Paolo Ruffini saat mengawali jumpa pers setelah sesi pagi Sinode Amazon, 9 Oktober 2019, di Kantor Pers Tahta Suci, Vatikan, ada pembicaraan juga tentang pentingnya perubahan cara hidup dalam Gereja, pertobatan ekologis yang mendalam, dan keharusan bagi agama Kristen untuk mengembangkan moralitas ekologis.

Selain Mgr Kräutler, jumpa pers itu juga mendengarkan dua ahli, Dr Carlos Afonso Nobre dan Dr Ima Célia Guimarães Vieira.

Namun, menurut Christopher Wells dari Vatican News, sebelum tiga orang itu bicara, Sekretaris Komisi Informasi Pastor Giacomo Costa SJ menguraikan diskusi tentang pelayanan-pelayanan yang bisa dipercayakan kepada kaum awam, dan tentang dorongan bagi wanita untuk melakukan pekerjaan gerejawi yang sudah mereka lakukan.

Imam itu membahas juga kepentingan dan makna dialog, serta makna Sinode sebagai “sounding board” (dewan yang memberi reaksi atas ide yang disampaikan) yang bisa membantu Gereja untuk melakukan cara hidup berbeda di dan dengan ciptaan.

Uskup Kräutler yang merupakan uskup emeritus Xingu di Brasil, mencela pembangkit tenaga listrik tenaga air, khususnya pembangkit tenaga listrik di Bellemonte. Tenaga surya, kata uskup, bisa menyediakan energi cukup. Janji-janji kepada masyarakat setempat, tegas uskup itu, masih tetap tidak terpenuhi. Uskup itu juga berbicara tentang masalah yang menimpa kota-kota, termasuk perdagangan narkoba dan pengangguran.

Menanggapi pertanyaan jurnalis setelah presentasi utama, Uskup Kräutler berbicara tentang cara Gereja bisa membantu membela penduduk asli dengan menarik perhatian pada yang terjadi di Amazon hari ini.

Satu pertanyaan diajukan, apakah persoalan perhatian pastoral untuk penduduk kota diabaikan dalam Sinode. Uskup Kräutler mengakui, mayoritas besar penduduk Amazon, atau 80%, tinggal di kota-kota, dan katanya, Gereja harus memberikan pelayanan pastoral bagi semua orang, baik di perkotaan maupun pedesaan. Masalahnya bagi para uskup, lanjutnya, adalah cara menjangkau orang; dan dia bersikeras bahwa Gereja harus hadir setiap saat, bukan hanya sesekali.

Peraih Hadiah Nobel Perdamaian Dr Carlos Alfonzo Nobre, ilmuwan iklim dari Brasil, berbicara tentang kontribusi sains dalam diskusi tentang Amazon. Secara khusus, ia mengatakan bahwa sains bisa membantu mengidentifikasi risiko dan mengusulkan solusi. Kemajuan ilmiah modern, katanya, bisa memberikan solusi dalam menjaga kesehatan Amazon, sambil memberikan kualitas hidup lebih besar bagi orang-orang wilayah itu.

Warga Brazil lain, Dr Ima Célia Guimarães Vieira, anggota Commissione Nazionale per il Medioambiente conama, menekankan keragaman besar di Amazon. Dia menyesalkan hilangnya keanekaragaman hayati di Amazon. Guimarães Vieira juga fokus pada situasi masyarakat adat yang terisolasi, suku-suku asli yang memiliki kontak terbatas dengan dunia. Dia bahagia karena Sinode mengangkat tema ekologi integral, tema yang sangat penting bagi negara asalnya.

Akhirnya, menjawab pertanyaan tentang orang yang menyangkal pemanasan global, Dr Nobre mengatakan, “negasionisme” perubahan iklim tidak mewakili mayoritas penduduk. Kenyataannya,  lanjutnya, sebagian besar orang menghormati konsensus ilmiah itu. Dr Nobre mengatakan, justru karena Sinode itu menerima hasil penelitian ilmiah maka Sinode Amazon mendapat kredibilitas tertentu.(PEN@ Katolik/pcp)

Tinggalkan Pesan