cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (11)

Siapa pun yang mencintai Allah harus mencari Dia di antara orang miskin, di dalam saudara-saudara Yesus, kata Beato Angelo Paoli OCarm. Maka, kata Paus Fransiskus, waspadailah orang kontemplatif yang tidak berbelas kasih. Kelembutan gaya Yesus melindungi kita dari godaan untuk menjauhi luka-luka tubuh Kristus, “yang masih terlihat sampai sekarang di tubuh saudara-saudari kita yang ditelanjangi, dihina dan diperbudak.”

Paus Fransiskus berbicara dengan sekitar 100 anggota Ordo Karmelit, yang resmi dikenal sebagai Ordo Saudara-Saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, yang di Roma untuk Kapitel Umum bertema, “’Kamu adalah saksi-saksi-Ku’ dari satu generasi ke generasi berikut: dipanggil untuk setia pada karisma Karmelit kita.”

Dalam pertemuan 21 September itu, Paus mendorong warga Karmelit untuk berhati lembut dan berbelas kasih. “Kalau suatu hari, di sekitar kita tidak ada lagi orang sakit dan lapar, ditinggalkan dan dihina, dan orang kecil, asal mula tradisi mengemis kalian,” lanjut Paus, “bukan karena mereka tidak ada lagi, tetapi sebenarnya karena kita tidak melihat mereka.”

Maka, Paus mendorong mereka berkontemplasi dan mencari Tuhan di antara orang miskin serta menemani orang dalam persaudaraan dengan Allah dengan mengajarkan mereka berdoa dan menjalani iman dengan cara-cara Roh Kudus.

Karisma Karmelit terdiri dari hidup setia kepada Yesus dan setia melayani Dia melalui komitmen untuk mencari wajah Allah yang hidup lewat doa, persaudaraan, dan pelayanan.

Karena itu, dalam laporan Robin Gomes dari Vatican News, Paus mengatakan misi Karmelit akan berbuah manakala misi itu berakar dalam hubungan pribadi mereka dengan Allah yang ditandai kesendirian, kontemplasi dan pemisahan dari dunia. Cara kontemplasi Karmelit, kata Paus, mempersiapkan mereka untuk melayani umat Allah melalui pelayanan atau kerasulan apa pun yang berpusat terutama pada perjalanan spiritual manusia.

Paus juga mengatakan, kalau kecemasan akan ribuan hal tentang Allah itu tidak berakar kepada-Nya, cepat atau lambat kita akan kehilangan Dia di jalan. Menurut Santa Maria Magdalena dari ‘Pazzi, ini terjadi kalau “suam-suam kuku” merayap masuk dalam hidup bakti, nasihat-nasihat injili hanya menjadi rutinitas, dan kasih Yesus tidak lagi jadi pusat kehidupan. Ini juga terjadi kalau keduniawian merayap masuk, lanjut Paus.

Sebagai orang yang hidup lebih banyak “di dalam” daripada “di luar,” Paus mendorong mereka menemani orang untuk “berteman” dengan Tuhan. Namun, jelas Paus, ini bukan persoalan mengajar menimbun doa, tetapi menjadi pria dan wanita beriman, teman-teman Allah, yang tahu cara berjalan dengan cara-cara roh.

Dalam hal ini, mereka harus waspada terhadap merosotnya komunitas agama menjadi “kelompok kerja.” Sebaliknya, kata Paus, kehidupan komunitas menghasilkan ketenangan, memikat umat Allah dan menulari sukacita Kristus Yang Bangkit.(PEN@ Katolik/pcp)

Tinggalkan Pesan