Mgr Mandagi 2
Mgr Patrus Canisius Mandagi MSC bersama 16 uskup serta gubernur Maluku dan para pejabat di Maluku (Foto dari Frater FB Herman Mandagi CMM)

“Sudah 25 tahun saya menjalani hidup sebagai uskup. Selama kurun waktu itu ada banyak tantangan dan kesulitan yang saya alami, namun saya tidak menyerah. Benarlah apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus, ‘menyerah berarti kita membunuh pengharapan dan impian.”

Uskup Keuskupan Amboina dan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC mengatakan hal itu kepada PEN@ Katolik sehari setelah uskup itu merayakan 25 Tahun Episkopal (Tahbisan Uskup) di Katedral Santo Fransiskus Xaverius Ambon.

Misa dengan konselebran utama  Mgr Mandagi itu dihadiri 16 uskup lainnya, termasuk uskup emeritus, lebih dari 100 imam, sekitar 50 biarawan-biarawati, serta tokoh pemerintah, DPR dan TNI dan Polri serta umat yang memenuhi katedral hingga halaman luar katedral itu. Homili Misa itu diberikan oleh Uskup Agung Palembang Mgr Aloisius Sudarso SCJ.

“Mengapa saya tidak menyerah?” tanya Mgr Mandagi yang juga menjawab karena “Cinta Tuhan lebih dahsyat dan hebat daripada tantangan dan penderitaan yang saya alami. Kristus di atas segala-galanya. Nil nisi Christum. Cuma Kristus.”

Mgr Mandagi ditahbiskan Uskup tanggal 18 September 1994 dengan moto Nil Nisi Christum (Tidak ada apa pun selain Kristus, cfr. Gal 2:20). Uskup yang lahir di Kamangta, Sulawesi Utara, 27 April 1949 itu ditahbiskan imam 18 Desember 1979 dan dipilih menjadi uskup tanggal 10 Juni 1994.

Dalam sambutan di akhir Misa, Mgr Mandagi berterima kasih kepada “sahabat-sahabatnya,” yakni gubernur dan berbagai bupati serta walikota Ambon di Maluku, para anggota DPR, TNI dan Polri, tokoh-tokoh agama, para uskup, keluarga, Keluarga MSC, para imam di Keuskupan Amboina, para biarawan dan biarawati, teman-teman awam, seluruh umat Keuskupan Amboina, umat Keuskupan Agung Merauke, serta umat Muslim dan umat Protestan, dan lain-lain.

Gubernur Maluku Murad Ismail hadir setelah Misa dan memberikan sambutan di dalam gereja sebelum berkat. Sekretaris Jenderal KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC memberikan sambutan atas nama KWI. Hadir juga semua pejabat provinsi dan tokoh-tokoh semua agama termasuk Islam.

Hadir juga dalam perayaan itu, Suster Beatrix Mandagi DSY, kakak dari Mgr Mandagi, serta adik-adiknya Frater Lukas Mandagi CMM, Pastor Fransiskus Mandagi MSC, dan adik terbungsu Frater Herman Mandagi CMM. Dari enam bersaudara hanya satu yang tidak menjadi pastor atau biarawan-biarawati, yakni Sintje Mandagi. Kakak tertua yang sudah meninggal dunia itu menjalani hidup berkeluarga. “Keluarga saya sendiri, satu normal dan lima abnormal menurut pandangan manusia, tetapi tidak menurut pandangan Allah, tegas Mgr Mandagi saat itu.

Ada informasi bahwa dalam rangka perayaan syukur itu diterbitkan emat buku semua dengan cover Mgr Mandagi yakni: Aneka Pandangan Mgr PC Mandagi MSC dalam Membangun Peradaban, Gereja di atas Batu Karang, Teguh Berkarya di tengah Badai, dan Suara Kemanusiaan di tengah Tangisan Maluku. (PEN@ Katolik/paul c pati)

Mgr Mandagi
Suasana Misa Perayaan 20 Tahun Tahbisan Uskup Mgr Mandagi MSC. (Foto dari FB Frater Herman Mandagi CMM)
Mgr Mandagi bersama  kakaknya (suster) serta tiga adiknya, satu imam dan dua frater (Foto dari FB Frater Herman Mandagi CMM)
Mgr Mandagi bersama kakaknya (suster) serta tiga adiknya, satu imam dan dua frater di tengah para uskup dan pejabat Maluku (Foto dari FB Frater Herman Mandagi CMM)

1 komentar

  1. Redaksi artikel ini sangat mudah untuk dipahami oleh pembaca. Ketika redaksi sebuah artikel apa pun mudah dipahami pembaca, maka yang patut diberi apresiasi adalah Tim Editor. Saya tidak melihat apa yang seharusnya menjadi kelemahan penulis atau pun kekeliruan Tim Editor Pena Katolik, melainkan sumbangsi gagasan saya tentang pokok permenungan Yang Mulia Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC selama 25 tahun menjadi Uskup Amboina. “Cinta Tuhan lebih dahsyat dari penderitaan saya”, kata hati Uskup Amboina. Sebuah ungkapan hati yang bermakna tentang kesejatian hidup. Yang dihayati bukan lagi apa yang memberi arti tentang kegembalaannya sebagai uskup, tetapi bagaimana memaknai totalitas kegembalaannya dalam diri Kristus yang tersalib. Penderitaan yang dialaminya menjadi alasan untuk membuktikan kesejatian Cinta Kristus. Kristus adalah Tuhan, Penebus. Maka yang dihayati oleh Yang Mulia selama 25 tahun menjadi Gembala Umat di Gereja Lokal keuskupan Amboina adalah kedahsyatan cinta Tuhan di atas penderitaannya. Dengan kata lain, memaknai cinta Tuhan di balik aneka potret penderitaan. Sebuah pokok permenungan inspiratif, sebab memahami segala bentuk penderitaan dalam Cinta Tuhan. Kata hati yang sarat makna. Dengan usia kegembalaan itu tentunya bisa dihitung sejauh mana buah-buah kesuksesan selama kegembalaannya, tetapi juga kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi dalam kurun waktu itu. Apa pun kata orang tentang kejayaan Yang Mulia sesungguhnya bersumber pada totalitas penghayatan mendalam antara cinta dan penderitaan Kristus. Kristus, Putra Tunggal Allah rela menderita karena cinta. Tuhan Yesus menderita demi keselamatan manusia dan penderitaan-Nya menjadi alasan bahwa cinta itu sebuah kekuatan yang berdaya guna. Semoga keteladanan hidup Yang Mulia menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun. Proficiat 25 tahun menjadi Uskup Amboina. Semoga generasi muda saat ini semakin tergerak hatinya untuk menjadikan cinta sebagai alasan untuk melayani. Bilamana cinta tidak menjadi sebuah alasan atas pelayanan sosial, maka tak ada arti baginya untuk memilih beriman kepada Allah melalui Kristus dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Proficiat pula atas kepercayaan Takhta Suci untuk menjadi Uskup Administrator di Keuskupan Agung Merauke.

Tinggalkan Pesan