Pastor Edmund Nantes OP berbicara tentang Persaudaraan Dominikan Menuju Kedewasaan Iman (PEN@ Katolik/soni)
Pastor Edmund Nantes OP berbicara tentang Persaudaraan Dominikan Menuju Kedewasaan Iman (PEN@ Katolik/soni)

Setiap pagi, puluhan orang bangun dan memanjatkan ibadat harian, yang dilantunkan lagi sebelum tidur malam. Mereka berdoa rosario, melakukan doa kontemplatif dan berkumpul tiap hari Minggu untuk membahas Injil. Mereka melakukan semua kegiatan Persaudaraan Dominikan Awam (PDA) seperti yang dilakukan chapter-chapter PDA lain. Perbedaannya, Chapter PDA itu melakukan semua itu dalam Penjara Negara Norfolk, AS. Sebanyak 17 orang dari 35 anggotanya sudah kaul kekal dalam Ordo Dominikan.

Pastor Edmund Nantes OP menceritakan tentang satu-satunya Chapter PDA dalam penjara itu kepada 140 anggota PDA Indonesia yang melaksanakan retret nasional ketiga bertema “Bersama Santa Maria, Santo Dominikus dan Santa Katarina Siena, PDA Berproses Mencapai Kedewasaan Iman” di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, 6-8 September 2019.

Mantan Provinsial Ordo Dominikan Provinsi Filipina yang mencakup Indonesia itu berbicara tentang “Persaudaraan Dominikan Menuju Kedewasaan Iman” dengan menguraikan peran persaudaraan dalam kedewasaan, tahap-tahap kedewasaan rohani, hubungan antara iman dan karya belas kasih, karya belas kasih untuk mewartakan kebenaran, studi untuk mempersiapkan pewartaan kebenaran, hubungan antara studi dan doa, persaudaraan, serta pertemuan rutin.

Pertumbuhan menuju kedewasaan iman, menurut Rektor Seminari Tinggi Antarkeuskupan Antonino Ventimiglia di Pontianak itu, tidak bisa terjadi secara terpisah, karena “manusia diciptakan Tuhan untuk jadi makhluk yang selalu berelasi dengan orang lain, dan untuk bertumbuh, manusia perlu keluarga, persahabatan, komunitas, Gereja, dan negara.”

Landasan persaudaraan hidup orang Kristen didasarkan pada sifat Trinitarian Allah dan interaksi dengan umat. Dan, kehadiran Yesus dalam Firman-Nya serta Ekaristi membentuk, menguatkan, menginspirasi, mendorong, menguduskan persaudaraan, kata imam itu.

Agar kehidupan Kristen lebih intens, jelas imam Dominikan itu, sejak dulu pria dan wanita membentuk atau bergabung dalam komunitas atau persaudaraan religius. “Seminari adalah kehidupan komunitas yang sangat penting. Meski banyak komunitas tidak baik, meski ada pergulatan kekuasaan dan gagasan serta kecemburuan, ada juga hal-hal baik berupa persahabatan dan pertukaran ide, dan inilah yang penting dari kehidupan komunitas. Dengan persaudaraan mereka saling menguatkan dan pergi ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil keselamatan.”

Pastor itu berharap PDA dewasa dalam hidup, yakni “tabah dalam iman meski mengalami banyak kesulitan, nyaman dengan doa vokal dan mental, tertarik pada kontemplasi, siap mendampingi, mengajar atau melayani orang lain, dan aktif dalam kegiatan Gereja.”

Karya kasih, lanjut imam itu, adalah tindakan menjalani dua perintah Allah terpenting yakni “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” dan menurut tradisi Katolik ada dua kelompok karya ini yakni karya kasih jasmani yang berhubungan dengan kebutuhan materi sesama dan karya kasih rohani.

Karya kasih jasmani menanggapi kebutuhan jasmani manusia, yakni memberi makan orang lapar, memberi minum orang haus, memberi pakaian orang telanjang, memberi tempat tinggal orang tuna wisma, mengunjungi orang di penjara, mengunjungi orang sakit, dan menguburkan orang mati.

Sedangkan karya kasih rohani memberi bantuan rohani seperti menegur orang berdosa, mengajar orang yang tidak mengerti, menasihati yang ragu, menghibur yang berduka, sabar menanggung tuduhan palsu, memaafkan semua luka dari pihak lain, berdoa bagi yang hidup dan mati.

Dan, tanda kedewasaan iman “adalah melakukan karya cinta yang bersumber dari cinta kasih kepada Allah,” kata Pastor Nantes seraya mengutip Mat 25:40, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku (Mat 25:40).

Karya kasih rohani lebih penting daripada karya kasih jasmani karena keselamatan jiwa lebih penting daripada keselamatan tubuh. Tapi, tegas imam itu, di saat darurat, lebih penting menjawab kebutuhan jasmani. “Jadi, dalam situasi hidup dan mati, seseorang yang sekarat karena kelaparan harus diberi makanan segera daripada dinasehati,” kata imam itu mengutip Summa Theologica II-II.32.2.

Meskipun tidak menampik pentingnya karya kasih jasmani, Pastor Nantes mengingatkan, “Santo Dominikus memberikan penekanan khusus pada urgensi  keselamatan jiwa lewat pewartaan kebenaran.”

Sejak awal, Ordo Pewarta yang didirikan oleh Santo Dominikus dilembagakan untuk pewartaan dan keselamatan jiwa. “Untuk mencapai tujuan itu, Ordo Pewarta membagikan kehidupan para Rasul dalam bentuk yang dipahami Santo Dominikus” yakni hidup bersama (persaudaraan), doa dan studi yang memuliakan Allah dan menguduskan kita, serta keselamatan dunia, dan menyiapkan kita untuk pewartaan lewat karya kasih jiwa dan raga.

Pastor Nantes juga mengutip kata Master baru Ordo Pewarta Pastor Gérard Francisco Timoner III OP tentang pewarta: “Kita adalah pewarta. Pewartaan bukan apa yang kita lakukan. Pewartaan adalah siapa kita. Misi bukanlah apa yang kita lakukan. Misi adalah siapa kita. Dan kalau itu sudah jelas, semua hanya akan sekedar mengikuti. Kita adalah pewarta bahkan saat kita tidak sedang mewartakan. Kita adalah pewarta bahkan kalau di usia tua kita, kita tidak bisa lagi berbicara. Kita adalah pewarta bahkan jika kita tidak ditahbiskan. Kita adalah pewarta bahkan jika kita sakit. Kita adalah pewarta bahkan jika kita sedang melakukan penelitian serius sendirian di kamar kita. Kita adalah pewarta ketika kita membantu orang kurang beruntung. Kita adalah pewarta. Itulah identitas kita.”

Untuk menjadi pewarta kebenaran, kata Pastor Nantes, anggota PDA harus studi atau belajar terlebih dahulu karena “tak seorang pun memberikan apa yang dia sendiri tidak miliki (nemo dat quod non habet) dan supaya yakin atau beriman perlu pemahaman (fides quaerens intellectum).” Pastor Nantes yakin, lebih mengerti akan lebih bersemangat. “Untuk bisa jawab apakah orang Katolik sembah patung, misalnya, setiap chapter harus buat program studi bersama agar bisa belajar banyak.”

“Teologi, atau pencarian siapakah Allah, dan kekudusan tidak dapat dipisahkan, dan tanda kedewasaan iman adalah kemampuan mewartakan Injil yang berdasar dari studi dan doa (kontemplasi),” jelas imam itu. Bagi Dominikan, lanjutnya, jalan menuju kekudusan juga lewat studi. “Objek studi kita adalah Tuhan sendiri dan karya-karya-Nya. Agama kita bukan mengutamakan karya kita sendiri tetapi karya-Nya dalam hidup kita, maka kita harus semangat belajar apa yang Dia lakukan,” kata Pastor Nastes.

Menyadari bahwa kita tidak bisa mencintai apa yang tidak kita ketahui, pengetahuan tanpa cinta tidak bisa bertindak, dan cinta tanpa pengetahuan tidak bisa mengetahui apa yang benar-benar baik, Pastor Nantes mengajak anggota PDA mengenal Allah, karena dengan demikian “semakin kita mencintai Dia.”

PDA, menurut imam itu, dibentuk oleh persaudaraan yang setia dalam doa, tekun dalam studi, dan semangat melayani, dan “komunitas persaudaraan adalah sumber utama yang menyuburkan dan mempertahankan komitmen panggilan setiap anggotanya.” Oleh karena itu, chapter PDA mengadakan pertemuan rutin minimal sekali dalam sebulan untuk berdoa, pengakuan dosa, pembelajaran, dan pembicaraan tentang karya.

Maka, katanya, anggota PDA Indonesia di mana pun berada, termasuk dalam pertemuan rutin, harus bersemangat menuju kedewasaan iman dengan doa bersama, studi bersama dan pelayanan bersama. “Hendaknya anggota PDA bersama-sama bersemangat dalam laudare atau berdoa dan memuji Allah, benedicere atau studi dan memberkati Allah dengan komtemplasi kebenaran-Nya, dan praedicare atau melayani dan mewartakan Allah dengan karya belas kasih jiwa dan raga,” kata Pastor Nantes. (PEN@ Katolik/paul c pati)

Pastor Nantes 7

Tinggalkan Pesan