Pastor Yohanes Hadi Suryono Pr bersama umat berkebutuhan khusus (Instagram OMK Santo Laurensius)
Pastor Yohanes Hadi Suryono Pr bersama umat berkebutuhan khusus (Instagram OMK Santo Laurensius)

Misa Minggu, 18 Agustus 2019, di Paroki Santo Laurensius Alam Sutera, Tangerang Selatan, dimeriahkan dengan Paduan Suara Komunitas Cacat Laetitia dan dihadiri oleh 21 umat berkebutuhan khusus (UBK) bersama seluruh anggota keluarganya dari paroki itu. Namun, Misa yang dihadiri sekitar 3000 umat itu bukan untuk umat yang cacat dan berkebutuhan khusus, tetapi Misa pesta nama paroki itu (Santo Laurensius) dan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Kepala Paroki Alam Sutera Pastor Yohanes Hadi Suryono Pr menjelaskan bahwa kehadiran saudara-saudari yang cacat dan berkebutuhan khusus karena dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dikeluarkan tanggal 1 November 1950 oleh Paus Pius XII di saat “martabat manusia sangat direndahkan oleh karena adanya peristiwa Perang Dunia I  dan II, dan tubuh manusia dianggap tidak berguna bahkan sia-sia.”

Tanda sangat direndahkan atau kurang dihargai, menurut Pastor Hadi , adalah “sebanyak 10 juta manusia mati sia-sia selama Perang Dunia I dan 50 juta manusia juga mati selama Perang Dunia II.” Maka, Bunda Maria dalam sejarah Keselamatan Allah sangat penting. “Sosok Bunda Maria dalam keberadaan sejarah manusia tampil sebagai figur yang sabar, setia, taat, tenang, lembut,” kata imam itu. Meskipun menghadapi banyak tantangan, Maria menjalani hidup dengan keutamaan-keutamaan itu, jelas imam itu.

Karena itu, dalam semangat Pesta Nama Santo Laurensius, Pastor Hadi mengajak umatnya memberikan rasa peduli terhadap UBK di paroki itu. “Santo Laurensius hidup dengan selalu peduli kepada yang lemah dan tersisih dan Bunda Maria sangat menyayangi kehidupan, sayang terhadap bayi dalam rahim-Nya. Maka teladan Santo Laurensius dan Bunda Maria menjadi teladan umat paroki ini, yakni menghargai martabat manusia,” harap imam itu.

Koordinator UBK Paroki Alam Sutera Made Wetane menjelaskan, sejak Juli dia mendata sebanyak 21 UBK hadir dalam Misa di gereja itu dan “jumlah itu kemungkinan akan bertambah.” Para UBK, lanjutnya, akan dilayani untuk menerima Komuni Pertama, Sakramen Krisma dan pelayanan pastoral lainnya.

Selain perjumpaan dengan kelompok UBK dan Komunitas Cacat Laetitia yang dijalankan oleh Lembaga Daya Dharma milik Keuskupan Agung Jakarta, pesta nama itu diisi dengan pembagian 500 anakan pohon palem kepada seluruh umat untuk menghijaukan pekarangan rumah masing-masing.(PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

Paduan Suara Komunitas Cacat Laetitia yang dijalankan oleh Lembaga Daya Dharma milik Keuskupan Agung Jakarta (PEN@ Katolik/krm)
Paduan Suara Komunitas Cacat Laetitia yang dijalankan oleh Lembaga Daya Dharma milik Keuskupan Agung Jakarta (PEN@ Katolik/krm)
Bergembira bersama Komunitas Cacat Laetitia dan umat berkebutuhan khusus Paroki Alam Sutera Tangerang (PEN@ Katolik/krm)
Bergembira bersama Komunitas Cacat Laetitia dan umat berkebutuhan khusus Paroki Alam Sutera Tangerang (PEN@ Katolik/krm)

Tinggalkan Pesan