Gereja Santa Clara
Penandatanganan prasasti Gereja Santa Clara Bekasi Utara oleh Walikota Bekasi Rahmat Effendi dan Mgr Suharyo (Foto oleh Wahyu/Komsos Santa Clara)

Ketika menyiapkan Misa Pemberkatan Gereja Santa Clara Bekasi Utara, muncul pertanyaan dalam diri Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo, “Apakah artinya menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran?” Pertanyaan itu muncul untuk menjawab apa harapan dari memiliki gedung baru itu yang diambil dari Injil Yohanes 4:23.

Pemberkatan gereja itu dilakukan oleh Mgr Suharyo pada Pesta Santa Clara 11 Agustus 2019 yang merupakan ulang tahun ke-21 Paroki Santa Clara. Misa dilanjutkan dengan Peresmian Gereja Santa Clara berupa pemukulan gong oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan dan penandatanganan prasasti oleh Walikota Bekasi Rahmat Effendi dan Mgr Suharyo.

Menurut Mgr Suharyo, ada banyak jawaban untuk pertanyaan itu, “tetapi yang paling penting bukanlah menjelaskan arti kalimat itu tetapi pertanyaannya apakah menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran bisa dilihat dari buah-buahnya.”

Pelindung paroki itu, Santa Clara. “Pastilah Santa Clara adalah penyembah Allah dalam roh dan kebenaran,” tegas Mgr Suharyo. Tanda-tanda dan buah-buahnya, jelas uskup, bisa terlihat dalam pembaharuan dan perubahan hidup Santa Clara. “Santa Clara semula dari keluarga bangsawan kaya. Hidupnya mewah tidak berkekurangan. Tapi, pada satu titik dia berubah, hidupnya diperbarui, dia hidup bagi Tuhan dalam kemiskinan,” jelas Mgr Suharyo.

Mungkin itu aneh bagi kita, kata ketua KWI itu, “tetapi itu yang terjadi dalam hidup Santa Clara, dan karena perubahan dan pembaharuan itu, Santa Clara menjadi suara hati pada zamannya dan selanjutnya mempunyai banyak pengikut sampai sekarang, Ordo Santa Clara (Klaris), ordo yang menjadi salah satu suara hati zaman kita sekarang ini.”

Buah-buah apa yang bisa menunjukkan bahwa umat Paroki Santa Clara sudah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran di gereja baru itu? Jawabannya juga banyak, kata Mgr Suharyo seraya mengusulkan satu saja.

Menurut banyak orang, jelas uskup, “sebagian dari masyarakat kita terkena atau terjangkit penyakit sosial yang namanya komunalisme. Cara berpikir masyarakat yang terjangkit itu juga sakit. Misalnya, yang bukan bagian kelompok saya adalah saingan bahkan musuh saya. Jadi orang sakit, ya berpikir sakit. Dengan berpikir seperti itu, orang tak lagi berpikir mana yang baik dan mana yang benar, tapi menang atau kalah. Maka tidak mengherankan dalam masyarakat yang kena penyakit seperti itu yang namanya kekerasan digunakan untuk menang karena tidak mau kalah.”

Gejala-gejalanya, menurut uskup, bisa mudah terlihat. “Nah, kita juga dengan mudah bisa terjangkit penyakit seperti itu, pikirannya untung rugi, menang kalah, bukan baik atau benar. Salah satu tanda bahwa kita sungguh beribadah dalam roh dan kebenaran yaitu kalau kita dalam pilihan-pilihan hidup selalu berpegang pada mana yang baik dan mana yang benar dan mengambil keputusan berdasarkan hal itu, karena kalau kita berpikir menang dan kalah, maka semuanya akan hancur.”

Gereja Santa Clara yang indah, menurut Mgr Suharyo, disiapkan untuk umat paroki itu ”agar kita pun menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, dan itu kelihatan dari buah-buah, dari cara berpikir yang selalu ingin melakukan yang baik dan memilih yang benar.”

Selain Walikota Bekasi dan jajarannya serta Menteri ESDM, hadir juga Dandim, unsur TNI, Pangdam Jaya, Kapolres Bekasi, MUI dan FKUB, dan sekitar 2500 umat Katolik dari sekitar 8500 umat paroki yang dilayani para imam Ordo Kapusin Provinsi Medan. Provinsialnya, Pastor Setestinus Manalu OFMCap menegaskan, semangat Santo Fransiskus Asissi yang dibawa kepada umat paroki itu adalah berdamai dengan semua ciptaan, sesama manusia dan alam semesta. “Itulah semangat yang kita dalami dan bagikan bersama umat dan masyarakat serta pemerintah di sini,” kata imam itu.

Rahmat Effendi mengatakan “hampir tak bisa bicara” dan “hampir mengeluarkan air mata” karena bangga melihat umat Katolik yang menunggu 21 tahun bisa merasakan “pelayanan pemerintah yang adil secara proporsional dalam konteks ketentuan.” Sebagai walikota, lanjutnya, “dengan hati tulus dan keyakinan memberikan yang terbaik kepada sesama umat dalam hidup berbangsa dan bernegara, tidak boleh menarik ludahnya kembali.”

Walikota juga mengenang kasus Gereja Santo Stanislaus Kosta Bekasi ketika di hadapan muspida dia mengatakan, “tembak saja kepala saya, saya tak akan cabut ijin gereja tersebut, kecuali atas perintah hukum.” Itu semua, jelasnya, merupakan “konsistensi dari kebijakan yang keluar dari keimanan untuk memberikan secara proporsional hak warga negara.” Sejak 12 tahun lalu, dia telah mencanangkan tidak ada warga mayoritas dan minoritas di Kota Bekasi, “tetapi yang ada anak bangsa.”

Mgr Suharyo berharap, dengan berdirinya gereja baru itu umat Paroki Santa Clara selalu berusaha berbuat baik “demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama” dan berterima kasih kepada walikota yang memberikan IMB dan mengawalnya hari demi hari hingga hari ini. “Tanpa ijin walikota dan pendampingan tokoh-tokoh masyarakat dan pimpinan Polri dan TNI, gereja ini tidak akan bisa berdiri. Terima kasih setulus-tulusnya.”

Mgr Suharyo menjelaskan, homili panjang untuk umat dimaksudkan agar mereka rajin berbuat baik. “Umat Katolik diwarisi oleh para perintis sebelum zaman kemerdekaan warisan sangat berharga yang namanya ‘rasa cinta tanah air’. Bahkan satu-satunya di dunia, yang ada prefasi atau doa khusus untuk tanah air hanya Indonesia. Di Vatikan dan negara-negara Katolik tidak ada doa seperti itu. Itu karena sadar, umat Katolik di Indonesia diwarisi ‘rasa cinta tanah air’,” kata Mgr Suharyo yang dalam sambutannya mengajak semua untuk mengembangkan mewujudkan ‘rasa cinta tanah air’ dengan menyanyikan “Rayuan Pulau Kelapa.” (PEN@ Katolik/paul c pati)

Gereja Santa Clara 3
Gereja Santa Clara (Wahyu/Komsos Paroki Santa Clara)
Bagian dalam Gereja Santa Clara Bekasi Utara (Wahyu/Komsos Santa Clara)
Bagian dalam Gereja Santa Clara Bekasi Utara (Wahyu/Komsos Santa Clara)
Pemberkatan Gereja Santa Clara Bekasi (Wahyu/Komsos Santa Clara)
Pemberkatan Gereja Santa Clara Bekasi (Wahyu/Komsos Santa Clara)
Menteri ESDM Ignasius Jonan (kiri) dan Provinsial Ordo Kapusin Provinsi Medan Pastor Setestinus Manalu OFMCap (kanan) bersama Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo  (Wahyu/Komsos Santa Clara)
Menteri ESDM Ignasius Jonan (kiri) dan Provinsial Ordo Kapusin Provinsi Medan Pastor Setestinus Manalu OFMCap (kanan) bersama Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo (Wahyu/Komsos Santa Clara)

Tinggalkan Pesan