Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ berbicara dalam Temu Kebatinan (Tebat) Katolik XXXIV di Ambarawa (PEN@ Katolik/lat)
Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ berbicara dalam Temu Kebatinan (Tebat) Katolik XXXIV di Ambarawa (PEN@ Katolik/lat)

Komunitas kebatinan Katolik merupakan orang-orang Katolik yang memiliki kepekaan batin dan kekhasan untuk selalu berakar pada Kristus. Melalui kepekaan batin yang dianugerahkan Tuhan dan olah rohani yang mendalam, orang-orang Katolik dalam komunitas kebatinan mengekspresikan dan mewujudnyatakan imannya pada Tuhan, sesama dan alam semesta.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang(Komisi HAK KAS) Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ berbicara dalam Temu Kebatinan (Tebat) Katolik XXXIV bertema “Hidup Batin Menguatkan Semangat Berbagi Pelayanan” di Ambarawa, 27-28 Juli 2019, yang diikuti 200 peserta, antara lain dari Semarang, Ambarawa, Magelang, Yogyakarta, Surakarta, Kudus, dan Wonogiri.

Tema itu, menurut Pastor Didik, menunjukkan bagaimana olah batin dan olah rohani yang berakar pada Kristus dirasakan daya kekuatannya, selalu menggerakkan keinginan luhur peserta yang biasa disebut pandemen kebatinan untuk terlibat dalam karya keselamatan  Allah.

“Semangat itu tampak dalam karya-karya pelayanan yang dilaksanakan para pendemen kebatinan  seturut panggilan masing-masing,” kata Pastor Didik seraya menambahkan bahwa Keuskupan Agung Semarang pantas bersyukur karena memiliki umat yang bersemangat dalam menghayati dan menghidupi iman Katolik itu.

Pastor yang rayakan Sewindu Tahbisan Imamat, 27  Juli 2019, itu juga berbicara tentang hidup mistik Kristiani yang sudah lama dihidupi dalam tradisi Katolik. “Hidup mistik Kristiani memungkinkan manusia selalu mengalami kebersamaan dengan Tuhan,” kata Pastor Didik seraya berharap peserta Tebat makin mampu merasakan kasih dan bimbingan Roh Kudus sehingga menjadikan hidupnya bermakna.

Tebat itu juga menghadirkan Pastor Aloys Budi Purnomo Pr dan Pastor Florentinus Harto Subono Pr sebagai narasumber. Pastor Budi yang pernah menjadi Ketua Komisi HAK KAS (2008-2019) itu berbicara tentang pentingnya manusia hidup dalam ruang batin yang hening agar selalu bening, “bening dan jernih dalam rasa, karsa dan karya, bening dan bersih dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, bening dan suci dalam hati, jiwa dan raga.”

Menurut Pastor Budi, keheningan menjadi ruang perjumpaan personal dengan Tuhan, menjadi daya perjumpaan dengan sesama, menjadi gerak dalam bertindak. “Tuhan ditemukan bukan dalam gelombang badai dan guntur melainkan dalam angin sepoi-sepoi basah yang penuh berkah dan anugerah,” kata imam itu.

Menurut Pastor Subono, sikap batin orang yang mencari Allah adalah keyakinan dan pengalaman  bahwa Allah mengasihi dirinya dan pengalaman itulah yang mendorong orang untuk membalas kasih Allah. “Dalam kerinduan itu ada kegairahan hidup, ada nyala energi positif, tidak ada kecemasan dan kebimbangan, karena Tuhan pasti juga merindukan kita yang dikasihinya,” kata imam itu. (PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

Peserta Temu Kebatinan (Tebat) Katolik XXXIV   (PEN@ Katolik/lat)
Peserta Temu Kebatinan (Tebat) Katolik XXXIV (PEN@ Katolik/lat)

 

Tinggalkan Pesan