Relikui Skapulir Santo Paus Yohanes Paulus II diarak ke Katedral Maumere (PEN@ Katolik/yf)
Relikui Skapulir Santo Paus Yohanes Paulus II diarak ke Katedral Maumere (PEN@ Katolik/yf)

Menyongsong 50 tahun Ordo Karmel di Indonesia, Oktober 2019, Ordo Karmel mendatangkan Relikui Skapulir Santo Paus Yohanes Paulus II ke Maumere selama tiga hari dan dirayakan tanggal 29 Juli 2019 dengan Misa di Katedral Maumere yang dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Maumere Pastor Teleforis Jenti OCarm didampingi 20 imam Karmel.

Misa, yang diawali perarakan yang diikuti kelompok Tri Tunggal Mahakudus, Kelompok Skapulir dari Lela dan Habibola, serta Karmelit Awam Wairklau itu, menurut Pastor Jenti, dirayakan untuk menghormati Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel dan pakaian kesuciannya Skapulir Coklat Karmel “yang telah diberikan untuk kita semua dan menjadi tanda rahmat untuk dunia dan umat beriman yang setia mengenakannya.”

Pastor Jenti mengutip Paus Pius XII yang mengatakan “devosi Skapulir Karmel menurunkan dua kali lipat hujan rahmat ke dalam dunia.” Banyak orang kudus, kata vikjen, memiliki devosi kepada pakaian kesucian Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel ini dan Santo Paus Yohanes Paulus II adalah salah satunya.

Dalam buku berjudul “Rahmat dan Misteri,” Santo Paus Yohanes Paulus II yang pernah merayakan Misa di Gelora Samador Maumere tahun 1989 mengatakan, “saya menerima Skapulir Karmel sejak usia 10 tahun saat Komuni Pertama dan saya mengenakannya sampai sekarang.”

Vikjen mengisahkan, tanggal 13 Mei 1981 ketika Santo Paus Yohanes Paulus II ditembak di Lapangan Santo Petrus Vatikan, orang kudus itu mengenakan Skapulir Karmel dan terkena darah. Paus itu mengatakan, “Santa Perawan Maria dari Fatima yang dirayakan hari itu telah mengalihkan kematian dan membuat saya tetap hidup, sedangkan Skapulir Karmel menutup lukaku itu dan menyembuhkannya. Selama perawatan di rumah sakit, ia pun setia mengenakan Skapulir Karmel.”

Tujuan kedatangan Relikui Skapulir Santo Paus Yohanes Paulus II, menurut vikjen, adalah untuk “meningkatkan devosi kepada Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel dan kecintaan kepada Skapulir Coklat Karmel serta meningkatkan kecintaan dan devosi kepada Santo Yohanes Paulus II yang sejak masa kecilnya setia mengenakan Skapulir Karmel.”

Dalam homilinya, Pastor Stefanus Buyung OCarm menggarisbawahi pentingnya skapulir yang merupakan tanda kemenangan dan kehidupan, dan mengenakan skapulir berarti mengenakan jubah Maria. “Secara fisik kita memiliki gambar dan patung Maria di rumah kita yang merupakan sarana indah hidup perjalanan kita. Menerima Maria secara spiritual berarti belajar dari Maria tentang keutamaan hidup Maria yang ujung-ujungnya mampu mengubah hidup kita,” kata Pastor Buyung.

Komisaris Ordo Karmel Indonesia Timur itu melanjutkan, bagian integral dari kehidupan Karmelit adalah menyerahkan diri kepada Bunda Maria.

Relikui Skapulir Santo Paus Yohanes Paulus II sudah dua minggu berada di Indonesia, dengan rute Roma-Jakarta-Malang-Surabaya-Maumere-Bajawa-Manggarai-Bali dan kembali ke Italia. (PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

Relikuis Skapulir

Tinggalkan Pesan