cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (16)
Foto File dari Paus Fransiskus yang menemui peserta konferensi tentang perdagangan manusia 11 April 2019 (Vatican Media)

Dalam kunjungan Jumat Belas Kasih yang dilakukan Paus Fransiskus ke sebuah panti korban perdagangan manusia yang dikelola oleh Komunitas Paus Yohanes XXIII, Paus mengatakan, “Saya tidak menyangka bertemu di sana wanita yang dihina, yang terluka hatinya dan yang menderita.”

Pernyataan itu ditulis Paus Fransiskus dalam kata pengantar sebuah buku baru dalam Bahasa Italia tentang perdagangan manusia berjudul “Donne crocifisse. La vergogna della tratta raccontata dalla strada” (Perempuan-perempuan tersalib. Rasa malu perdagangan manusia seperti yang diceritakan dari jalanan). “Sungguh, perempuan-perempuan tersalib,” tulis Paus dalam buku karya Pastor Aldo Buonaiuto, seorang imam dari Komunitas Paus Yohanes XXIII.

Di sana, Paus menggambarkan, dia mendengarkan “kisah-kisah menyentuh dan sangat manusiawi dari wanita-wanita malang ini, beberapa di antaranya memeluk anak mereka.” Setelah itu, kata Paus, dia merasa perlu “meminta pengampunan atas siksaan nyata yang harus mereka alami karena klien mereka, banyak dari mereka menyebut diri mereka Kristen.”

Padahal menurut Paus, “seseorang tidak pernah boleh ditawarkan untuk dijual.” Paus kemudian memuji apa yang dia sebut sebagai “karya penyelamatan dan rehabilitasi berharga dan berani” yang dilakukan oleh penulis buku itu, Pastor Aldo Buonaiuto, selama bertahun-tahun.

Paus juga menyatakan kesadarannya akan bahaya yang ditimbulkan oleh karya itu, termasuk kemungkinan pembalasan oleh sindikat kejahatan yang bagi para perempuan-perempuan itu merupakan “sumber keuntungan ilegal dan memalukan yang tidak ada habisnya.”

Paus berharap buku itu dibaca banyak orang. Jika kita ingin “memerangi eksploitasi dan penghinaan kehidupan manusia secara efektif,” tulis Paus, kita perlu menceritakan “kisah-kisah di balik jumlah mengejutkan” orang-orang yang diperdagangkan.

“Korupsi adalah penyakit yang tidak berhenti dengan sendirinya,” lanjut Paus. “Kita perlu meningkatkan kesadaran individu dan kolektif,” juga di dalam Gereja.

Paus kemudian menegaskan, “Segala bentuk pelacuran akan menjadi perbudakan, tindakan kriminal, kejahatan menjijikkan yang membingungkan antara bercinta dengan dorongan hati dan penyiksaan perempuan yang tak berdaya.”

Pelacuran, tulis Paus, adalah “luka bagi kesadaran kolektif.” Gagasan bahwa seorang perempuan dapat dieksploitasi seperti komoditas yang digunakan dan dibuang, tegas Paus, adalah “patologis” (menyimpang dari norma bahkan menunjukkan gangguan mental. Red.)

Pelacuran adalah “penyakit kemanusiaan,” lanjut Paus, “cara berpikir yang salah tentang masyarakat.” Membebaskan para budak ini, kata Paus, “adalah tanda belas kasihan, kewajiban bagi semua orang yang berkehendak baik.”

“Pribadi-pribadi dan institusi-institusi tidak dapat tetap acuh tak acuh di depan tangisan kesakitan mereka,” tegas Paus. “Tidak seorang pun boleh berpaling atau mencuci tangan mereka dari darah tak berdosa yang bercucuran di jalan-jalan dunia.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus mendadak kunjungi 20 wanita yang diselamatkan dari prostitusi

Tinggalkan Pesan