Pastor Patricius Hartono Pr bersama umat Katolik dan petani di daerah Bedono, Ambarawa, dan Magelang, kembali membudidayakan tanaman jali dalam gerakan budidaya tanaman jali (PEN@ Katolik/lat)
Pastor Patricius Hartono Pr bersama umat Katolik dan petani di daerah Bedono, Ambarawa, dan Magelang, kembali membudidayakan tanaman jali dalam gerakan budidaya tanaman jali (PEN@ Katolik/lat)

Alunan musik yang tercipta dari peralatan musik dari bambu yang dimainkan oleh anak-anak berbusana tradisional Jawa terdengar menemani para petani dan sejumlah tamu dari berbagai agama yang duduk lesehan dekat ladang seluas 2000 meter persegi milik Realino Suwignyo di Desa Losari, Kecamatan Grabag, Magelang.

Ketika matahari mulai condong ke Barat, mulailah acara tradisional sebelum panen (wiwitan) tanaman biji-bijian yang tumbuhannya mirip tanaman jagung yang disebut jali, tanaman pangan yang keberadaannya dilupakan orang saat ini.

Selain mempromosikan gerakan ekologi, seni-budaya dan pendampingan anak-anak desa, Pastor Patricius Hartono Pr bersama umat Katolik dan petani di daerah Bedono, Ambarawa, dan Magelang, kembali membudidayakan tanaman jali.

Seorang tokoh membawa uba rampai ke ladang jali membuka upacara Wiwitan Jali di sore tanggal 22 Juli 2019. Di sana, dia berdoa sejenak, kemudian memetik tanaman jali dengan cara memotong batangnya. Setelah itu dia membawa jali itu ke tempat acara dan disiram air kelapa muda. Dan, empat tokoh agama Islam, Kristen Protestan, Buddha dan Katolik berdoa bergantian.

Wiwitan Jali adalah acara para petani yang ingin sekali menghargai pusaka warisan pemberian Tuhan melalui perantaraan para leluhur, kata Pastor Hartono yang mengenakan caping. “Mengingat-ingat ketika kecil, kita hidup dengan makan jali, namun 40 tahun kemudian lupa. Maka lupa caranya menanam, lupa caranya mengolah, lupa caranya memelihara-membudidaya,” kata imam itu.

Dengan mengawali dan membuka acara itu, Pastor Hartono berharap peserta mengingat dan memelihara lagi tanaman khas di kawasan itu, dari Ambarawa sampai lereng Sindoro-Sumbing, “dan itu menjadi berkah,” kata imam itu.

Meski acara itu seputar jali, tapi Pastor Hartono melihatnya menjadi sarana kebersamaan dan kerukunan. “Selain petani, anak-anak, orang dewasa, ibu-ibu, tokoh-tokoh pemerintah dan tokoh-tokoh lintas agama datang dalam acara ini, sehingga dengan sendirinya, acara ini membangun kebersamaan. Perbedaan melebur jadi satu,” kata imam itu.

Dari panenan ini, jelas imam itu, dirinya dan seluruh peserta ‘dipaksa’ mengingat-ingat kebudayaan mereka. “Kalau mau mengambil dari sawah ya mesti mengembalikan. Maka, tradisi panen diimbangi dengan deselan. Ini bukan masalah gugon tuhon (mitos). Ini soal nalar sederhana saja, kalau orang hanya mengambil tidak pernah mau memberi, itu tidak bermartabat. Tidak bermoral. Itu yang paling utama,” ungkap imam itu.

Kepala Desa Losari, Junadi, mengapresiasi acara itu karena bisa menghadirkan berbagai  komunitas dan agama. “Itu ide besar, ya seperti ini, bisa mengumpulkan saudara-saudari yang bersatu. Jadi, Indonesia itu satu. Bukan Islam, bukan Buddha, bukan Katolik, bukan Kristen, tapi Indonesia, supaya anak-anak nanti mengerti ternyata kita serumah tidak sama. Se-Indonesia tidak sama. Maka, kita harus rukun. Dengan even seperti ini supaya anak-anak terbuka hatinya, jika kita tidak hidup sendiri. Kita bersama-sama hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” kata Junadi.

Menurut Realino Suwignyo, jali adalah tanaman pangan yang mudah perawatannya. “Saya tertarik menanam jali karena perawatannya yang sangat mudah. Ini saja tanpa pupuk, tanpa perawatan istilahnya,” katanya. Suwignyo menanam jali karena tanaman itu bisa menjadi tanaman pangan pengganti beras yang lebih baik. “Kesan saya, ternyata makanan jali itu enak. Kalau dimakan, di perut juga enak. Tahan kenyang,” katanya.

Menurut praktisi kuliner, Irena Frieda, jali yang kadar gulanya rendah, bisa jadi pengganti bahan makanan selain beras, bisa dijadikan nasi jali. “Nasi jali cukup mampu dipadukan dengan aneka lauk yang sehari-hari kita makan seperti halnya nasi. Jali juga bisa diolah untuk makanan ringan atau snack,” katanya.

Cara pengolahan jali relatif mudah. “Sama seperti beras ketan, harus direndam dulu. Karena agak keras, jadi harus direndam agak lama. Kalau saya semalaman. Besok mau diolah, malam sudah direndam,” katanya. Makanan dan minuman berbahan jali seperti bubur jali dan wedang tajin jali dinikmati peserta di penghujung acara itu.

Supaya pemahaman jali semakin mendalam, Pastor Hartono membuat slogan “Jali, Ojo Lali!” (Jali, Jangan lupa!). “Slogan itu untuk mengingat bahwa inilah harta mereka yang harus diwarisi tetapi juga diwariskan kepada generasi berikut dengan langkah yang sekarang dimulai kembali yakni membudidayakan, kembali mengolah, mengembangkan teknologinya dan kemudian mengkonsumsi,” kata imam itu.

Kalau nanti ada ada surplus, lanjut imam itu, bisa menjadi berkah ke pemasaran lebih luas. “Tetapi yang utama sebagai kebudayaan, ini harta kita. Maka harus kita jaga, kita kembangkan dan kita pakai. Itu yang utama,” kata Pastor Hartono yang menyebut jali sebagai pusaka berwujud makanan atau pusaka boga yang layak untuk terus dilestarikan.(PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

Tanaman jali
Tanaman jali
Anak-anak pun makan jali
Anak-anak pun makan jali

 

Tinggalkan Pesan