PEN@ Katolik/Samuel
PEN@ Katolik/Samuel

Mungkin untuk dunia, Ordo Dominikan atau Ordo Pewarta (OP) sudah tidak asing lagi. Ada yang mengatakan ordo ini adalah ordo intelektual, dan ada yang mengatakan Ordo ordo yang bergerak dalam dunia pendidikan dan dunia pengkhotbah, dan ada yang mengatakan ordo yang dekat dengan pengikut Fransiskus dari Assisi, dan masih banyak lagi.

Pengikut ordo ini banyak kita lihat di Instagram dan berbagai media lain adalah orang-orang yang mengenakan jubah putih dan hitam. Kerap kali mereka juga menggunakan baju putih-putih atau jubah putih dengan tutup kepala yang khas.

Bagi saya pribadi, yang hidup di Kalimantan, cara hidup Dominikan merupakan hal baru, karena kehadiran mereka di Kalimantan Barat masih sangat baru dan masih agak asing di telinga saya. Ternyata, setelah saya telusuri, Ordo Dominikan merupakan salah satu ordo tertua di dunia. Singkat cerita, ordo ini muncul sejaman dengan ordo Fransiskan yang didirikan oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Namun, bukan itu pembahasan saya kali ini.

Saya hanya ingin mengungkapkan apa yang saya pelajari dari cara hidup lima frater calon imam dari Ordo Dominikan yang perjalanannya beberapa hari di Keuskupan Agung Pontianak (KAP) saya ikuti. Menarik bahwa sesuai teladan hidup Santo Dominikus, pendiri ordo itu, saya mengamati bagaimana mereka menghayati semangat belajar, berdoa, persaudaraan dan pelayanan yang menjadi ciri khas kehidupan mereka.

Semangat dan kerinduan untuk mengembara dan belajar bisa jelas saya lihat dalam keseriusan mereka untuk mendengarkan semua masukan dan penjelasan di mana saja mereka berkunjung di wilayah KAP ini. Semangat mereka untuk melayani dan membela yang kecil dan menderita terlihat dari kemauan mereka untuk mengunjungi saudara-saudara di lapas dan rutan. Cara mereka berjalan dan beraktivitas bersama, misalnya saat mendokumentasikan keberadaan mereka dalam suatu tempat tidak dengan swafoto tapi saling mendokumentasikan, sungguh sangat memperlihatkan semangat persaudaraan.

Perjalanan para frater itu dimulai dengan mengunjungi STKIP Pamane Talino di Ngabang, Landak, Kalimantan Barat. Dalam visitasi itu mereka menghadiri juga audiensi STKIP Pamane Talino kepada Bupati Landak Karolin Margret Natasa, di Kantor Bupati Landak, 19 Juni 2019. Di sana mereka mendengarkan pembahasan kerjasama pendidikan yang bisa dilakukan antara STKIP milik KAP yang dijalankan oleh Ordo Dominikan itu dengan Pemerintah Kabupaten Landak.

Dari Ngabang, mereka kembali ke Pontianak. Di sana, tepatnya di Gedung Pusat Pastoral, tanggal 20 Juni 2019, Pastor Andreas Kurniawan OP yang berkarya sebagai ekonom KAP memperkenalkan mereka tentang KAP dan mempersilakan mereka melihat pemandangan Kota Pontianak, khususnya Katedral Pontianak dari lantai atas gedung itu.

Di hari yang sama, para frater diajak mengenal situs dan peninggalan sejarah Kalimantan Barat dari tiga garis suku terbesar yakni Cina, Dayak dan Melayu di Museum Pontianak serta mempelajari Rumah Radakng Pontianak di Jalan Sungai Bangkong, Pontianak Kota, sekaligus melihat pemandangan kota Pontianak dari Rumah Radakng.

Keesokan harinya, 21 Juni 2019, mereka belajar tentang Seni Budaya Dayak dari pengrajin Christian Mara, dan langsung melihat pembuatan alat musik dari gong, dau, sape. Hari itu, mereka juga mengunjungi Biara Suster Dominikan dari Beata Imelda di Palapa, Pontianak.

Tanggal 22 Juni 2019, para frater Dominikan ini diajak oleh Fransiskus Edy OP, Dominikan Awam dari Chapter Santo Dominikus de Guzman Pontianak untuk berkunjung ke Lapas Anak di Sungai Raya untuk memberikan peneguhan kepada anak-anak yang berada di lapas itu. Dari situ, mereka mengunjungi rutan di kecamatan yang sama. Di sana mereka juga ikut dalam ibadat ibadat dipimpin oleh Bruder Eko OFMCap dari Biara San Lorenzo.

Dalam sharingnya di rutan, Frater Rocky OP mengatakan, “Keutamaan yang paling penting adalah keragaman hidup yang harus kita syukuri. Hanya lewat kejadian dan peristiwa besarlah kita bisa lebih bijak untuk belajar. Dalam kesempatan ini, saya mau mengatakan bahwa keutamaan yang paling utama yaitu menerima dan bersyukur atas kesempatan hidup yang Tuhan berikan kepada kita.”

Foto bersama mengakhiri kunjungan ke lapas dan rutan. Namun, Frater Elson OP berharap agar di suatu saat, “kami bisa berjumpa lagi bukan di dalam lapas dan rutan, tetapi di luar, saat kalian sudah menjadi orang sukses.”

Tanggal 23 Juni 2019, para frater diajak oleh Fransiskus Edy menuju Radio Republik Indonesia Pontianak. Di sana mengisi talk show renungan pagi. Di siang hari, mereka kembali mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Pontianak.

Tanggal 25 Juni 2019, bersama Pastor Johanes Robini Marianto OP, Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP  dan Pastor Andreas Kurniawan OP,  dan kelima frater itu berkunjung kepada Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus. Kunjungan itu merupakan kunjungan penutup untuk para frater Dominikan itu ke Kalimantan Barat. (PEN@ Katolik/Samuel)

Frater OP 2Frater OPFrater OP 1

Tinggalkan Pesan