Pallium ditempatkan dekat makam Santo Petrus di tahun 2018  (Vatican Media )
Pallium ditempatkan dekat makam Santo Petrus di tahun 2018 (Vatican Media )

Saat Paus Fransiskus memberkati pallium-pallium pada hari raya Santo Petrus dan Santo Paulus, 29 Juni 2019, Vatican News menjelajahi sejarah dan tradisi di balik simbol kuno yang menghubungkan para Uskup Agung di seluruh dunia dengan Roma dan Penerus Petrus itu.

Pallium, yang terbuat dari wol domba, adalah pita putih yang lebarnya sekitar 5 cm. Dua pita yang sama lebarnya, dengan panjang sekitar 30 cm yang berisi potongan-potongan timah kecil yang dilapisi sutra, terbentang satu di depan dan satu di belakang.

Pallium yang dipakai di atas kasula adalah lambang jabatan seorang uskup agung metropolitan, yaitu, seorang uskup agung yang merupakan uskup dari keuskupan agung metropolitan.

Enam salib hitam menghiasi pallium dan ditempatkan di bagian depan dan belakang, di setiap bahu, dan di ujung potongan yang tergantung di depan dan belakang. Salib-salib di bagian depan, belakang, dan bahu kiri dan kanan juga berisi pin, yang disebut spinula (kata Latin yang berarti tulang kecil, atau duri). Salib-salib ini sering ditata dengan batu-batu berharga.

Pallium adalah kata Latin yang berarti mantel atau jubah. Asal mula yang tepat tentang penggunaan pallium di dalam Gereja Latin tidak diketahui. Ada yang mengira berasal dari konteks Romawi, yang lain mengira dari konteks Yunani.

Tertullianus, seorang pemimpin Gereja dan penghasil banyak tulisan selama masa awal Kekristenan, mengaitkan pallium (jubah masyarakat biasa Roma) dengan Kristus, dan menganjurkan umat Kristiani untuk menggunakannya. Dikatakan bahwa Santo Yustinus meninggal dengan menggunakan Pallium. Dia mati syahid tahun 165 M. Penggunaan pallium oleh Justin sesuai dengan penggunaan para filsuf Romawi.

Karena masyarakat mulai tidak menggunakannya, pallium semakin diadopsi dalam Gereja Latin di abad ke-6. Santo Paus Gregorius Agung memberikan pallium kepada para uskup yang ingin dia hormati. Pada abad ke-9, semua uskup metropolitan bisa mengenakan pallium di wilayah gerejawi mereka dan diberi mandat untuk memintanya dari Tahta Suci.

Saat ini, setiap tahun, pada hari raya Santa Agnes, dua ekor domba dibawa dari Tre Fontane, situs kemartiran Santo Paul, ke Basilika Santa Agnes di Via Nomentana. Setelah diberkati, domba-domba itu dibawa dan diberikan kepada Paus, kemudian mereka dipelihara oleh para suster yang tinggal di Basilika Santa Cecilia di Trastevere. Tepat sebelum Paskah, domba-domba itu dicukur dan wol mereka digunakan untuk membuat pallium bagi Uskup Agung yang baru diangkat.

Dulu seluruh pallium merupakan buatan tangan para suster. Namun, karena banyak uskup agung yang membutuhkan pallium setiap tahun, tidaklah mungkin praktik itu diteruskan. Sebaliknya, kini para suster memilih sebuah perusahaan untuk memproduksinya. Namun setiap pallium tetap berisi wol yang dicukur dari dua domba.

Tahun ini, 31 Uskup Agung yang diangkat tahun lalu menerima pallium. Mereka mewakili Keuskupan Agung di Australia, Haiti, Prancis, Angola, Republik Demokratik Kongo, Filipina, Brasil, Kenya, Vietnam, Rwanda, India, Indonesia, Kanada, Tanzania, Ghana, Peru, Meksiko, Amerika Serikat, Guam, Ekuador , Myanmar, Afrika Selatan, Spanyol, Italia dan Inggris. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Nuncio kalungkan pallium kepada Mgr Ruby sebagai lambang persatuan dengan Tahta Suci

Paus Fransiskus rayakan Pesta Santa Agnes dengan memberkati domba

Palium-2

1 komentar

  1. Menarik… Perlu tradisi tradisi ini selalu di wartakan .. agar pengetahuan umat tetap terpenuhi..

Tinggalkan Pesan