Paus Fransiskus menemui para kapelan dan relawan Kerasulan Stella Maris (Vatican Media)
Paus Fransiskus menemui para kapelan dan relawan Kerasulan Stella Maris (Vatican Media)

“Karena lebih dari 90 persen perdagangan dunia diangkut oleh berbagai jenis kapal, ketergantungan masyarakat kita pada industri maritim tidak dapat dibantah. Tanpa pelaut, ekonomi global akan macet, dan tanpa nelayan, banyak bagian dunia akan kelaparan. Saya minta kalian agar menyampaikan penghargaan dan dorongan saya kepada para pelaut dan nelayan yang kalian temui, banyak di antaranya bekerja dalam waktu yang lama dan ribuan mil jauhnya dari tanah kelahiran mereka dan dari keluarga mereka.”

Paus Fransiskus berbicara dalam audiensi dengan para direktur nasional, kapelan, dan sukarelawan Stella Maris, Kerasulan Laut, 27 Juni 2019. Menurut Paus, Kerasulan Stella Maris, yang aktif di lebih dari tiga ratus pelabuhan di seluruh dunia, memberikan bantuan materi dan spiritual bagi para pelaut, nelayan, dan keluarga mereka yang seringkali berada jauh dari mereka.

Paus menjelaskan, kehidupan pelaut atau nelayan tidak hanya ditandai oleh isolasi dan jarak. Kadang-kadang, lanjut Paus, kehidupan mereka “sangat dipengaruhi oleh pengalaman memalukan berupa pelecehan dan ketidakadilan, perangkap dari yang terlibat dalam perdagangan manusia, dan pemerasan kerja paksa.”

Selain itu, menurut Paus, terkadang mereka tidak mendapatkan gaji yang pantas atau tertinggal di pelabuhan yang jauh. “Selain ancaman alam – badai dan topan – mereka harus menghadapi ancaman manusia, seperti pembajakan atau serangan teroris. Mereka melintasi lautan-lautan dan laut-laut dunia, mendarat di pelabuhan yang tidak selalu menyambut mereka dengan baik,” jelas Paus.

Kapelan dan sukarelawan Stella Maris, menurut Paus, telah dipercayakan dengan misi kehadiran, yakni membawa Kabar Gembira Tuhan Yesus ke dunia pelayaran yang kompleks dan beragam. “Kunjungan harian kalian ke kapal membuat kalian bisa bertemu orang-orang dalam situasi yang konkret, kadang-kadang tenang, kadang-kadang cemas bahkan sangat bermasalah,” kata Paus.

Dengan kasih sayang dan kebijaksanaan, lanjut Paus, para kapelan dan sukarelawan itu memberi kesempatan bagi para pelaut dan nelayan untuk mencurahkan isi hati mereka. “Itulah pelayanan pertama dan paling berharga yang kalian berikan. Pelayanan paling penting bagi pelaut dan nelayan adalah mendengarkan mereka, mendengarkan kebutuhan material dan spiritual mereka.”

Mendengarkan, lanjut Paus, bisa kemudian mengarah pada aksi. “Saya mendorong kalian untuk menggandakan upaya untuk menghadapi masalah yang terlalu sering menjadi buah keserakahan manusia. Saya berpikir tentang perdagangan manusia, kerja paksa dan pelanggaran hak manusia dan buruh dari begitu banyak pria dan wanita yang tinggal dan bekerja di laut. Melalui pelayanan kalian, kalian bisa membantu memulihkan martabat mereka,” kata Paus

Paus mengamati, banyak pelaut datang menemui kapelan atau imam membawa masalah hati nurani yang tidak pernah bisa mereka ungkapkan, karena begitu jauh dari rumah dan dari tanah asal mereka. “Dialog dengan kapelan bisa membuka cakrawala harapan baru. Jadi yang ingin saya katakan, berbelas kasihlah, berbelas kasihlah, agar begitu banyak hati mengalami perdamaian,” kata Paus. (PEN@ Katolik/paul c pati/Kantor Pers Tahta Suci)

Tinggalkan Pesan