Unjuk rasa di Hong Kong (Reuters)
Unjuk rasa di Hong Kong (Reuters)

Dengan meningkatnya ketegangan di Hong Kong, Kardinal John Tong meminta umat Katolik untuk berdoa bagi situasi di kota itu, dan menyerukan saling menghormati dan dialog antara pemerintah dan pengunjuk rasa.

Protes besar-besaran berubah menjadi kekerasan di Hong Kong minggu ini, ketika para demonstran mencoba menyerbu gedung-gedung pemerintah untuk memblokir debat soal undang-undang kontroversial yang akan memungkinkan ekstradisi ke Cina daratan.

Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet kepada para pengunjuk rasa pada hari Rabu, 12 Juni 2019. Tujuh puluh dua orang terluka, termasuk 21 petugas polisi.

Administrator Apostolik Hong Kong Kardinal John Tong Hon, mengatakan kepada Radio Vatikan, Kamis, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News bahwa tindakan kekerasan seharusnya tidak menjadi bagian dari aksi sipil.

“Jika orang-orang menggunakan kekerasan, tindakan itu harus dihukum,” kata Kardinal Tong yang berada di Roma minggu ini menemani sebuah kelompok antaragama dalam kunjungan ke Vatikan. Kardinal mengatakan para pemimpin dari enam agama telah membahas situasi itu dan menyetujui permohonan bercabang tiga.

Pertama, mereka menyerukan penghormatan terhadap kebebasan individu. “Jika [pengunjuk rasa] keluar untuk mengungkapkan pendapat mereka, mereka harus dihormati,” kata Kardinal Tong.

Kedua, para pemimpin agama Hong Kong menjauhkan diri dari kekerasan yang meletus di kota. Kardinal Tong mengatakan adalah pendapat pribadinya bahwa kekerasan harus dicela. Namun kelompok antaragama, katanya, menyetujui perlunya menentang sikap kekerasan, termasuk “menyakiti orang lain, menggunakan kekerasan, dan melempari polisi dengan batu.” Kardinal meminta rakyat Hong Kong “untuk berusaha menjaga stabilitas dan ketertiban masyarakat.”

Ketiga, kelompok antaragama, yang mewakili Katolik, Kristen Protestan, Konfusianisme, Taoisme, Budha, dan Islam, meminta pemerintah Hong Kong dan pengunjuk rasa untuk duduk bersama membicarakan masalah itu “sehingga melalui dialog kami mencoba mencapai konsensus.”

Tujuannya, kata Kardinal Tong, adalah untuk membantu Hong Kong “menjadi stabil” dan agar orang-orang “menikmati kedamaian dan ketenangan.”

Kardinal Tong lalu menyerukan kepada semua umat Katolik untuk berdoa bagi situasi di Hong Kong.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan