Nara sumber dan beberapa peserta seminar bertema “JDP, Respon Pemerintah dan Masa Depan Dialog bagi Tanah Papua. (PEN@ Katolik/frBastian)
Nara sumber dan beberapa peserta seminar bertema “JDP, Respon Pemerintah dan Masa Depan Dialog bagi Tanah Papua. (PEN@ Katolik/frBastian)

Demi menanggapi dan meneruskan dialog yang sudah dirintis oleh Almarhum Pastor Neles Kebadaby Tebay Pr dan untuk memperingati 40 hari kematiannya, Jaringan Damai Papua (JDP) menyelenggarakan seminar terbuka bertema “JDP, Respon Pemerintah dan Masa Depan Dialog bagi Tanah Papua.” Seminar itu dilakukan di sebuah hotel di Abepura, Jayapura, 23 Mei 2019.

Peserta yakin, seperti dikatakan Pastor Yanuarius Matopai You Pr, narasumber yang juga teman angkatan Almarhum Pastor Neles, dalam seminar itu bahwa nama “Kebadaby” memiliki arti inoperative yakni “pembuka jalan (perintis dan orang yang selalu berjalan di depan atau lebih awal).”

“Kebadaby bukanlah sekedar nama, melainkan identitas jati diri Pastor Neles. Nama Kebadaby kini sungguh terkenal dan dikenang bukan hanya oleh orang Papua tetapi masyarakat Indonesia dan dunia,” lanjut imam yang merupakan Ketua Yayasan STFT Fajar Timur Abepura itu. Pastor Neles dikenal sebagai figur dialog yang mendorong semua pihak untuk terlibat memperjuangkan kedamaian bersama.

Seminar itu mendengarkan paparan dari Koordinator JDP Jakarta Dr Adriana Elisabeth, Rektor Uncen Dr Ir Apolo Safanpo ST, MT, Sekretaris Dewan Adat Papua Leo Imbiri, Imanuel Tebay yang merupakan adik kandung Pastor Neles, dan eksekutif United Liberation Movement for West Papua Markus Haluk.

Melihat terjadinya konflik sekarang tanpa disertai kekerasan, Adriana Elisabeth mengatakan, konflik juga memotivasi setiap orang untuk menyadari tentang hidupnya, tetapi perlu dihindari konflik yang mencederai orang. “Ketika terjadi konflik, diperlukan dialog sebagai pendekatan alternatif menuju perdamaian,” katanya.

Dialog, lanjutnya, “adalah gerakan yang membuka peluang bagi berbagai pihak untuk duduk dan membicarakan masalah di Papua. Dialog adalah panggilan dan media yang mendorong setiap orang (anak-anak Papua) untuk membicarakan masalah serta mencari solusi demi kesejahteraan bersama.”

Dialog yang urgen dibicarakan di Papua, jelasnya, adalah masalah pendidikan, mengubah mentalitas dan kesehatan demi menyelamatkan nyawa orang, serta dialog tentang kedamaian yang tidak terlepas dari pelanggaran HAM, budaya dan politik di Tanah Papua.

“Ada seorang gadis cantik, elok rupa dan menarik perhatian banyak lelaki. Gadis itu sangat cantik sehingga dijaga orang tuanya. Setiap hari ada lelaki berlalu-lalang di depan rumah membuat orang tuanya tidak mau melepaskan anak gadisnya sampai tergoda. Beberapa lelaki memiliki strategi untuk merampas gadis itu. Cara yang dipakai adalah membunuh kedua orang tua. Ada juga yang datang bertemu orang tua dan membicarakan secara baik-baik untuk menikahi anak perempuannya.”

Gadis cantik itu, kata Apolo Safanpo, adalah tanah Papua yang menjadi objek incaran para penguasa asing. “Kini tanah Papua dan penghuninya berada dalam bahaya dan sampai saat ini ada darah muda anak negeri yang berteriak dari dalam rahim si gadis Papua,” katanya.

Maka, putra Asmat itu mengajak semua pihak untuk membenahi masalah Papua melalui dialog dan rekonsiliasi massal demi perdamaian bersama. Harus ada pengakuan akan setiap kesalahan, permintaan maaf, dan ganti rugi,” katanya.

Menurut Markus, dialog adalah sebuah proses dan kita sendirilah yang melakukannya. “Dialog perlu dilakukan terang benderang seperti yang dilakukan oleh Kebadaby, yang menjadi jembatan antara Indonesia dan Papua. Dalam iman, harapan dan kasih, Kebadaby sudah berani mengangkat pena memperjuangkan perdamaian dan menjadi teladan bagi generasi penerusnya,” katanya.

Sahabat Kebadaby yang merupakan anggota JDP, Septer Manufandu, mengatakan bahwa Kebadaby adalah sosok orang tua yang selalu punya waktu, perangkul dan bukan sekadar fasilitator bagi semua pihak yang berkonflik. Dalam usaha dialog, “beliau berusaha berbagi informasi apapun yang dimilikinya dan sungguh percaya pada setiap orang yang dekat dengannya.”

Usaha dialognya bukan untuk mempertahankan NKRI harga mati atau Papua merdeka harga mati, “melainkan mempertemukan semua pihak yang bertikai untuk duduk bersama, membicarakan masalah bersama dan hasil akhirnya diberikan sepenuhnya kepada pihak yang bertikai untuk memutuskan mana yang terbaik demi kesejahteraan bersama.”

Dialog yang diembannya lahir dari budaya orang Mee-Papua. “Kata dialog disederhanakan dengan ilustrasi cara membuat kebun. Dalam adat Mee-Papua, setiap orang memiliki peran-peran khusus saat membuka kebun. Peran laki-laki adalah menebang pohon dan peran perempuan menanam bibit dan memelihara sampai memanen hasilnya.”

Selanjutnya dikatakan, hasil dialog bukanlah ditentukan oleh Kebadaby, tapi oleh orang yang berkonflik. “Ilustrasi sederhana yang digunakan Kebadaby untuk menjelaskan hasil dialog adalah cara menangkap ikan. Setiap nelayan pergi menjaring ikan tidak pernah tahu berapa hasil yang akan diperolehnya tetapi ia terus bertolak ke tempat yang dalam untuk menebarkan jalanya.” (PEN@ Katolik/Frater Sebastianus Ture Liwu Pr)

Artikel Terkait:

Indonesia kehilangan imam intelektual, brilian, inspiratif dan putra terbaik Papua

Tinggalkan Pesan