Uskup Agats-Asmat Mgr Aloysius Murwito OFM. PEN@ Katolik/krm
Uskup Agats-Asmat Mgr Aloysius Murwito OFM. PEN@ Katolik/krm

Satu setengah tahun lalu, Uskup Agats-Asmat Mgr Aloysius Murwito OFM berjumpa dengan tim “Ayo Sekolah Ayo Kuliah” (ASAK) Paroki Santo Laurensius Alam Sutera, Tangerang. Hasilnya, sejumlah anak dari Keuskupan Agats-Asmat menerima bantuan dana sehingga bisa mengenyam pendidikan di sejumlah tempat di Jakarta dan Tangerang.

“Kami berterimakasih kepada tim ASAK Paroki Santo Laurensius ini karena melalui jasa baik mereka sejumlah anak Asmat belajar di sini dan diharapkan kelak akan mengabdi untuk Agats-Asmat,” kata Mgr Murwito selesai memimpin Misa Syukur 50 Tahun Gereja Agats-Asmat yang dirayakannya di gereja paroki itu, 5 Mei 2019.

Mgr Murwito berada di Alam Sutera sejak sehari sebelumnya untuk Misa penggalangan dana untuk kebutuhan di keuskupannya. Sekretaris Uskup Agats-Asmat Pastor Medardus Eko Budi Setiawan OSC dan Ketua PSE Keuskupan Agung Jakarta Pastor Chris Puspo SJ menjadi konselebran dalam Misa-Misa inkulturasi yang dipimpin uskup itu.

Menurut Mgr Murwito, misi Katolik di keuskupannya dimulai tahun 1953 oleh Pastor Segward MSC yang datang di daerah itu dengan perahu dayung dan tinggal di sana selama tiga minggu. Tahun 1958, misionaris OSC dari Amerika datang atas permintaan Uskup Agung Merauke.

Waktu itu, daerah ini sangat susah. Demografinya sangat menantang dan daerah itu dikenal sebagai daerah perang. Para misionaris membentuk kelompok kecil umat kemudian pewartaan Injil. Tahun 1969 dibentuk sebuah paroki di daerah itu.

Awalnya, Asmat hanyalah nama sebuah kecamatan. Namun, karena jumlah umat meningkat dan kehidupan menggereja berkembang, wilayah itu ditingkatkan menjadi keuskupan dan kebutuhan pun meningkat, termasuk untuk pendidikan anak-anaknya.

Sumbangan pun datang dari Jakarta, khususnya Pengabdian Usahawan Katolik (PUKAT) Keuskupan Agung Jakarta dan Panitia Peduli Keuskupan Agats yang terbentuk di Jakarta ikut memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak Asmat yang belajar di Yogyakarta.

“Perjumpaan dengan ASAK di paroki ini sebagai malaikat penyelamat. Mereka membantu putera-puteri Asmat dengan tulus,” kata uskup.

Menurut data yang diperoleh PEN@ Katolik, 19 umat dari Asmat sedang belajar di jenjang SMP, SMA dan Perguruan Tinggi di Jakarta dan Tangerang. Ketika Mgr Murwito datang mereka pun hadir dan menyanyi bersama selesai Misa di halaman gereja.

Uskup itu mengakui pendidikan di keuskupannya belum maksimal karena kesadaran masyarakat untuk sekolah masih sangat rendah. “Walau punya yayasan yang membidangi pendidikan, lembaga itu tidak menerima sepeser pun dari orangtua murid. Itu tantangan tersendiri di keuskupan memiliki 12 paroki dengan luas sebesar 36.000 km2 itu. (PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

 

Tinggalkan Pesan