Paus Fransiskus dalam audiensi umum 7 April 2019. ANSA
Paus Fransiskus dalam audiensi umum 7 April 2019. ANSA

Dalam Audiensi Umumnya, Paus Fransiskus menyampaikan katekese tentang “Bapa Kami” dengan fokus pada Doa Tuhan itu dalam terang Pekan Suci, ketika umat Katolik seluruh dunia memperingati misteri-misteri penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus yang mulia. Paus memilih tiga doa Yesus kepada Bapa dalam penderitaan-Nya.

Permohonan pertama adalah dari Perjamuan Terakhir, ketika Tuhan, “menengadah ke langit dan berkata: ‘Bapa, telah tiba saatnya: permuliakanlah Anakmu’ – dan kemudian – ‘permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kau miliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada’.” (Yohanes 17.1-5).

Paus menunjuk paradoks doa Yesus, yang meminta kemuliaan ketika “penderitaan-Nya sudah di harapan pintu.” Paus menjelaskan bahwa kemuliaan Biblis ini adalah wahyu Allah, manifestasi khas dan definitif dari keselamatan dan kehadiran-Nya di antara manusia. Dan Yesus adalah manifestasi ini, yang dilakukan-Nya pada Paskah, yang dimuliakan saat Dia terangkat di salib.

Demikianlah Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya, menyingkirkan tabir terakhir dan mengejutkan kita lebih dari sebelumnya. Kita melihat kemuliaan Allah itu segalanya cinta: yang murni, yang tak terkendali, dan yang tak terpikirkan, yang melampaui segala batasan dan ukuran.

Paus mendesak umat Kristiani untuk berdoa seperti Yesus meminta kepada Bapa agar mereka dapat menerima bahwa “Allah adalah kasih.” Berkali-kali, kata Paus, kita membayangkan Tuhan sebagai tuan dan bukan sebagai Bapa, seorang hakim keras dan bukan Juru Selamat yang penuh belaskasih.

Pada Paskah, kata Paus, Tuhan mendekatkan jarak, mengungkapkan diri-Nya sendiri dalam kesederhanaan cinta yang menuntut cinta kita. Dan ketika kita menjalani segala sesuatu dengan cinta dan dari hati, kita mempermuliakan Dia, karena “kemuliaan sejati adalah kemuliaan cinta.” Hanya cinta yang memberi kehidupan pada dunia.

Paus menunjukkan bahwa kemuliaan ini adalah kebalikan dari kemuliaan duniawi, di mana seseorang dikagumi, dipuji, diakui dan menjadi pusat perhatian. Paradoksnya, kemuliaan Tuhan tanpa tepuk tangan, tanpa penonton. Pada Paskah, kata Paus, kita melihat Bapa memuliakan Putra dan Putra memuliakan Bapa – tidak ada dari mereka yang memuliakan diri-Nya. Paus meminta umat Kristiani untuk memeriksa diri mereka sendiri apakah mereka menghidupi kemuliaan Tuhan atau kemuliaan mereka; apakah mereka mau menerima atau juga memberi.

Paus kemudian berbicara tentang doa Yesus di Taman Getsemani setelah Perjamuan Terakhir. Sementara para murid-Nya tertidur dan Yudas datang bersama para prajurit, Yesus merasakan “ketakutan dan kesedihan mendalam” akibat pengkhianatan, penghinaan, penderitaan dan kegagalan yang menanti-Nya. Di dalam jurang kesedihan dan kehancurannya, Dia berbicara kepada Bapa dengan “kata yang paling lembut dan manis: ‘Abba’,” yaitu, Bapa.

Dalam pencobaan-Nya, Yesus mengajarkan kepada kita untuk merangkul Bapa dalam doa agar mendapat kekuatan dalam melewati rasa sakit. “Di tengah-tengah cobaan,” kata Paus, “doa membawa kelegaan, kepercayaan dan kenyamanan.” Dalam pengabaian dan kehancuran batin-Nya, Yesus tidak sendirian, Ia bersama Bapa.

Di sisi lain, di dalam “Getsemani kita” kita sering memilih untuk tetap sendirian bukan berseru kepada “Bapa” dan mempercayakan diri kita kepada-Nya, seperti Yesus. Dengan tetap menutup diri sendiri, kita menggali terowongan dalam diri sendiri, langkah introvert menyakitkan yang hanya akan semakin dalam dan semakin dalam dalam diri kita sendiri.

Paus mencatat bahwa masalah terbesar kita bukanlah rasa sakit, tetapi bagaimana mengatasinya. Paus mengatakan, yang memberi jalan keluar adalah doa dan bukan kesendirian, karena doa adalah hubungan dan kepercayaan. Yesus mempercayakan segalanya kepada Bapa, membawa kepada-Nya perasaan-perasaan-Nya dan sepenuhnya mengandalkan-Nya dalam perjuangan-Nya. Mengingat kita masing-masing memiliki Getsemani sendiri, Paus mendesak umat Kristiani untuk berdoa kepada Bapa.

Akhirnya, Bapa Suci memberi perhatian pada doa Yesus yang ketiga: “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” (Lukas 23,34). Pada saat penyaliban-Nya, Yesus berdoa bagi mereka yang jahat kepada-Nya dan bagi para pembunuh-Nya. Itulah rasa sakit paling akut, ketika pergelangan tangan dan kaki-Nya ditusuk dengan paku dan ketika rasa sakit mencapai puncaknya, cinta mencapai klimaksnya. Pengampunan, karunia kekuatan yang luar biasa, lalu datang menghancurkan lingkaran kejahatan.

Akhirnya, Bapa Suci mendesak umat Kristiani untuk berdoa memohon rahmat guna menjalani hari-hari mereka dengan cinta demi kemuliaan Allah; untuk mengetahui cara mempercayakan diri kita sendiri kepada Bapa di tengah-tengah pencobaan seraya memanggilnya “Bapa”, dan dalam menjumpai Dia untuk menemukan pengampunan dan keberanian untuk mengampuni. “Bapa mengampuni kita dan Dia memberi kita keberanian untuk bisa mengampuni,” lanjut Paus. (PEN@ Katolik paul c pati berdasarkan laporan Robin Gomes/Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus dalam katekese Bapa Kami: Kita semua orang berdosa yang perlu pengampunan

Paus dalam audiensi: Dalam doa Bapa Kami kita berdoa untuk kebutuhan semua orang

Katekese Paus tentang doa Bapa Kami: Tuhan mencari setiap kita secara pribadi

Paus dalam Audiensi: Bapa Kami mengajarkan kita langsung menyapa Bapa tanpa rasa takut

Paus mendesak umat Katolik membuka hati bahwa Yesus sudah datang

Audiensi Paus: Allah Bapa mengasihi kita dengan cara yang tak bisa dilakukan seorang pun di dunia

Paus Fransiskus: Doa sejati adalah yang berbelas-kasih bukan kemunafikan atau trik

Tinggalkan Pesan