Minggu Palma di Filipina (foto CBCPNews)
Minggu Palma di Filipina (foto CBCPNews)

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan, 14 April 2019: Lukas 19:28-40/Lukas 23:1-49)

Salah satu karunia terbesar bagi umat manusia adalah memori. Ini memberi kesadaran akan identitas kita. Biologi mengajarkan kita bahwa hampir semua bagian tubuh kita akan tergantikan saat kita hidup. Stephen yang berusia satu tahun secara biologis berbeda dari Stephen yang berusia tiga puluh tahun. Semua sel tubuhnya telah digantikan dan akan terus digantikan sampai ia wafat. Apa yang menyatukan Stephen yang berusia tiga puluh tahun dengan dirinya yang lebih muda serta diri di masa depannya adalah ingatannya.

Memori tidak hanya memungkinkan kita terhubung dengan diri kita sendiri, tetapi juga menghubungkan kita dengan orang lain. Kita dapat mengenali orang tua, saudara, dan teman-teman kita karena kita mengingat semua hal baik yang kita terima dari mereka. Ingatan kita membentuk siapa kita. Jadi, penyakit yang merusak ingatan kita seperti Alzheimer, adalah salah satu yang paling kejam. Orang-orang dengan Alzheimer secara bertahap tidak lagi dapat mengingat orang-orang yang mencintai mereka, dan bahkan mereka tidak dapat mengingat melakukan fungsi dasar mereka seperti makan dan pergi ke kamar kecil.

Salah satu keunikan manusia adalah bahwa kita tidak hanya memiliki ingatan individu, tetapi kita memiliki ingatan bersama. Ingatan bersama ini diturunkan dari generasi ke generasi, dan ini membentuk identitas kelompok. Kita adalah orang Indonesia, Filipina, India, Amerika, atau bangsa lain karena kita memiliki memori bersama yang menyatukan kita sebagai suatu bangsa. Ketika suatu bangsa dipengaruhi oleh jenis “alzhaimer” yang menghancurkan ingatan bersama mereka, mereka mulai kehilangan identitas mereka sebagai suatu bangsa. Kardinal Robert Sarah dari Guinea mengingatkan bahwa Eropa sedang dalam krisis dan dalam bahaya pembubaran. Dia berpendapat bahwa alasannya adalah bahwa orang-orang Eropa mulai melupakan akar sejarah dan budaya mereka, memori bersama mereka.

Kita umat Kristiani berbagi memori inti dan fundamental yang sama. Minggu Palma atau Yesus yang memasuki kota Yerusalem menandai dimulainya drama Injil yang paling penting, drama Pekan Suci. Memori ini begitu penting bagi pengikut Yesus perdana sehingga episode ini direkam dalam keempat Injil dengan sangat rinci (Mat 21:1-11, Markus 11:1-11, dan Yohanes 12:12-19), meskipun dengan beberapa tekanan berbeda. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa Pekan Suci terutama Perjamuan Terakhir, Kisah Sengsara, Wafat dan Kebangkitan adalah memori inti dan mendasar dari setiap orang Kristiani sejati.

Inilah mengapa Gereja merayakan Pekan Suci setiap tahun bukan karena ia hanya ingin mengadakan acara besar, tetapi perayaan ini menghubungkan kembali kita dengan memori inti yang menjadikan kita sebagai orang Kristiani. Namun, kita tidak hanya mengingat peristiwa masa lalu, dan kita bukan hanya sekedar penonton. Melalui kekuatan liturgi, kita menghidupkan kembali kisah-kisah mendasar tentang Yesus Kristus. Bersama dengan Kristus, kita memasuki Yerusalem. Bersama-sama dengan Dia, kita merayakan Perjamuan Terakhir. Bersama-sama dengan Dia, kita dianiaya, disalibkan dan mati. Bersama-sama dengan Dia, kita dimakamkan di makam yang gelap. Dan bersama-sama dengan Dia, kita dibangkitkan dari kematian.

Namun, itu adalah pilihan kita untuk mengikuti-Nya atau melawan-Nya: untuk menjadi orang-orang yang seru “Hosanna” atau orang-orang yang berteriak “Salibkan Dia”; untuk menjadi seorang murid yang berjalan di jalan salib atau murid-murid yang melarikan diri dari-Nya; untuk disalibkan bersama Yesus atau untuk menyalibkan Yesus. Sekarang hanya pengikut Yesus yang benar yang dapat bersama-sama dengan Yesus dibangkitkan dari kematian. Pekan Suci adalah waktu kita untuk membuat pilihan untuk mengikuti Yesus atau untuk melawan Dia.

Diakon Valentinus Bayuhadi Rusneo OP

 

Tinggalkan Pesan