Paus Fransiskus dalam audiensi umum (AFP)
Paus Fransiskus dalam audiensi umum (AFP)

Paus Fransiskus menghabiskan sebagian besar waktu Audiensi Umum untuk membicarakan kunjungannya ke Maroko baru-baru ini. Seraya menggambarkan tema perjalanan, “Abdi Harapan,” Paus mengatakan kepada umat beriman di Lapangan Santo Petrus bahwa “memberi harapan di zaman kita adalah membangun jembatan antarbudaya.”

Dalam Audiensi Umum hari Rabu, 3 April 2019, Paus mendapat kesempatan untuk bersyukur atas kunjungan apostoliknya ke Maroko akhir pekan lalu. Secara khusus, Paus berterima kasih kepada Raja Mohammed VI atas sambutan hangatnya. Di atas segalanya, dia berterima kasih kepada Tuhan karena “mengizinkan saya mengambil langkah maju di jalan dialog dan perjumpaan dengan saudara-saudari Muslim kita, sebagai ‘Abdi harapan’ di dunia saat ini.”

Paus lalu mengatakan, “Memberi harapan di zaman kita berarti membangun jembatan antarbudaya, dan itulah sukacita dan kehormatan bagi saya yang bisa melakukan ini di Kerajaan Maroko, dengan bertemu rakyat dan pemimpin politiknya.” Paus ingat, dia dan Raja Mohammed “menegaskan kembali peran penting yang dimiliki agama dalam membela martabat manusia, dengan meningkatkan perdamaian dan keadilan, serta dengan merawat ciptaan, rumah kita bersama.”

Tema lain yang sangat penting, kata Paus, adalah persoalan migrasi. Paus melihat komitmen Gereja di Maroko terhadap kaum migran dan berkomentar banyak orang bersaksi dengan mengatakan “kehidupan orang yang beremigrasi berubah dan kembali menjadi manusia saat mereka menemukan komunitas yang menyambut mereka sebagai pribadi. Ini mendasar.”

Masih tentang tema migrasi, Paus minta agar diperhatikan Perjanjian Global untuk Migrasi yang Aman, Tertib dan Teratur” yang telah diratifikasi di Marrakech, Maroko, Desember lalu.

Seperti Takhta Suci, komentar Paus, “kami telah memberikan sumbangan yang dirangkum dalam empat kata kerja: menyambut kaum migran, melindungi kaum migran, memajukan kaum migran, dan mengintegrasikan kaum migran. Ini bukan masalah menjatuhkan program kesejahteraan dari atas,” kata Paus, “tetapi membuat jalan bersama melalui empat aksi ini, membangun kota-kota dan negara-negara yang, sambil menjaga identitas budaya dan agama masing-masing, terbuka terhadap perbedaan dan tahu cara menghargai mereka dalam tanda persaudaraan manusia.”

Dalam pernyataan spontan, Paus mengatakan bahwa mungkin ada orang ingin tahu “mengapa saya menemui umat Muslim, bukan hanya umat Katolik? Mengapa di sana ada begitu banyak agama?” Paus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan mengatakan, “dengan umat Islam, kita adalah keturunan dari bapa yang sama, Abraham.”

Paus menjelaskan bahwa Allah mengizinkan banyak agama karena kehendak permisifnya; Dia ingin membiarkan kenyataan ini: “ada begitu banyak agama, beberapa agama lahir dari budaya, tetapi mereka selalu melihat ke langit, melihat Tuhan,” kata Paus.

Di akhir audiensi, Paus mengingatkan bahwa 3 April dirayakan sebagai Hari Olahraga Sedunia PBB untuk Perdamaian dan Pembangunan VI. Olahraga, tegas Paus, “adalah bahasa universal yang merangkul semua orang dan membantu mengatasi konflik serta menyatukan orang.”

“Olahraga juga merupakan sumber sukacita dan emosi besar,” kata Paus, “dan inilah sekolah tempat kebajikan ditempa demi pertumbuhan manusiawi dan sosial dari individu-individu dan komunitas-komunitas. Semoga kalian menjalani hidup dan olahraga dengan baik.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus: Ekumenisme amal kasih memungkinkan kaum religius jadi sesama bagi semua orang

Paus kunjungi suster Puteri Kasih yang 28 tahun bantu dan hidup bersama umat Muslim di Maroko

Paus Fransiskus dan Raja Mohammed VI membuat seruhan untuk Yerusalem

Paus Fransiskus dedikasikan hari Minggu untuk umat Katolik yang jumlahnya sedikit di Maroko

Tinggalkan Pesan