Para pejabat Konferensi Waligereja Filipina yang dipimpin ketuanya, Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles (tengah), mengadakan konferensi pers setelah sidang pleno CBCP di Manila, 28 Januari 2019. ROY LAGARDE
Para pejabat Konferensi Waligereja Filipina yang dipimpin ketuanya, Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles (tengah), mengadakan konferensi pers setelah sidang pleno CBCP di Manila, 28 Januari 2019. ROY LAGARDE

Kepala hirarki Katolik mengucapkan kata-kata kasar terhadap berlanjutnya perdagangan narkoba di Filipina dengan menyebut mereka sebagai pengedar “kematian dan kegelapan.” Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles yang mengetuai Konferensi Waligereja Filipina mendesak orang-orang untuk tidak terpikat oleh perdagangan narkoba dan tidak pernah bernegosiasi dengan “kejahatan.”

“Dalam berita kami melihat harga narkoba bukan hanya ribuan tetapi miliaran. Mereka itu setan!” seru Uskup Agung Valles. Dia menyesal karena ini bisa berarti lebih banyak orang muda bahkan keluarga “hancur.” Uskup agung itu menegaskan, “Kami tahu betul itu menghancurkan kalian secara fisik, masa depan kalian, kalian bisa menjadi pembunuh, semua kegelapan dari narkoba, kami tahu akhirnya.”

Mgr Romulo Valles berbicara dalam Misa peluncuran program rehabilitasi narkoba keuskupan agung itu di Paroki Santo Yoseph Pekerja, di Kota Davao, hari Minggu 31 Maret 2019. Dalam homilinya, uskup agung itu mengeluarkan kecaman keras terhadap pengiriman narkoba baru-baru ini dan terus berlanjut yang diselundupkan ke negara itu.

Sementara pencegahan penyalahgunaan narkoba adalah prioritas, uskup agung itu juga menekankan tentang rehabilitasi korban narkoba dan pengembalian ke masyarakat. Dikatakan, Gereja dan sektor-sektor lain harus menjangkau para korban narkoba “sekalipun itu tidak praktis bagi dunia.”

“Setiap orang berharga di mata Allah. Itulah ajaran yang tidak bisa disentuh. Hidup itu berharga. Tidak ada diskusi tentang itu,” kata Uskup Agung Valles.

Awalnya membantu orang-orang muda pengguna narkoba bertahun-tahun lalu, Program Sagop Kinabuhi (selamatkan kehidupan) diluncurkan kembali tahun 2016 untuk membantu merehabilitasi mantan pengguna narkoba.

Sejak saat itu, program ini telah berkembang ke lebih banyak paroki guna meningkatkan kerohanian, moralitas, keterampilan, dan kapasitas pendidikan para penyalur narkoba. “Inilah tanda umat Katolik, berbelas kasih dan penyayang,” kata uskup agung itu.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Roy Lagarde/CBCPNews)

 

 

Tinggalkan Pesan