Beato Mariano Mullerat i Soldevila
Beato Mariano Mullerat i Soldevila

“Seorang umat beriman yang menjalani Pembaptisannya dengan sungguh-sungguh.” Begitulah ungkapan penghargaan yang diberikan Kardinal Angelo Becciu kepada martir awam asal Spanyol, Mariano Mullerat i Soldlevila (1897-1936), bapa sebuah keluarga, yang beatifikasinya terjadi di Tarragona, Spanyol, 23 Maret 2019. Martir yang bergelar dokter dan menjabat walikota ini memahami kebenaran ini: “cinta terjadi karena memberi diri sendiri.”

Dalam upacara itu, Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus itu menegaskan bahwa “puncak kekudusan dicapai dengan mengikuti jalan cinta: tidak ada jalan lain! Menurut catatan Wikipedia, postulator penggelaran kudusnya saat ini adalah Pastor Gianni Festa OP.

Saat “gelombang besar kebencian” dan penganiayaan terhadap agama Kristen dalam Perang Saudara Spanyol, Mariano Mullerat i Soldevila “menolak mengungsi dan tetap di posnya.” “Dia terus menjalankan misinya sebagai dokter untuk menolong orang-orang membutuhkan, dengan semangat evangelis . . . Dengan demikian, ia menjadi rasul sejati, yang menyebarkan parfum kebaikan Kristus di sekelilingnya.”

Kardinal itu memberikan penghormatan kepada umat awam itu sebagai, ”siswa dan suami teladan, dan model seorang bapa, yang terlibat dalam kehidupan sosial dan politik untuk menyebarkan dengan berani humanisme Kristen . . . seorang umat beriman yang menjalani Pembaptisannya dengan sungguh-sungguh.” Sejak tahun-tahun pertama hidupnya, Beato Mariano “memahami kebenaran ini: bahwa cinta terjadi karena memberi diri sendiri.”

Dalam kegiatannya sebagai dokter, walikota, dan wartawan, Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus itu melihat “kehidupan Kristen yang jelas dan koheren. Terus terbuka demi kebutuhan orang lain.” Mariano Mullerat i Soldevila mempersiapkan orang sakit untuk menerima Sakramen-Sakramen, dan juga merawat orang-orang yang termiskin secara gratis.

“Melihat situasi penganiayaan agama, yang meledak hebat di musim panas 1936, Beato Mariano sadar bahwa dia mempertaruhkan nyawanya, karena semua orang mengenalnya, karena identitasnya sebagai orang beriman dan kerasulannya yang kuat,” lanjut kardinal seraya mengingat kemartirannya.

“Karena gaya hidup evangelisnya yang terbuka, ia dianggap oleh milisi sebagai orang “publik yang bertindak atas nama agama Katolik.” Ia ditangkap dan dibunuh oleh musuh-musuh Kristus: ia membayar imannya kepada Yesus melalui penangkapan, pemenjaraan dan kematian akibat kekerasan di usia 39.

Kardinal Becciu menekankan, “Kami sangat tersentuh oleh intensitas cinta kasih yang diperlihatkan oleh Beato baru itu, yang mencapai titik tertinggi dalam sikap heroiknya dengan memaafkan para algojo bahkan membungkuk menyembuhkan luka salah satu dari mereka berdua. Dia menanggapi kekerasan dengan pengampunan, kebencian dengan kebaikan hati.”

Beatifikasi Mariano Mullerat i Soldevila, kata kardinal itu, “hendaknya tidak hanya membangkitkan dalam diri kita perasaan kagum biasa.” Dia bukanlah pahlawan sederhana atau pribadi dari waktu yang jauh. “Kata-kata dan gerak-geriknya berbicara dan mendorong kita menata diri kita lebih sepenuhnya kepada Kristus . . . tidak kalah oleh keputusasaan dan menjauhi kelemahan.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan zenit.org)

maria-mullerat-i-soldevila-galeriametges.-cat 1

Tinggalkan Pesan