Pameran
PEN@ Katolik/lat

Pesta demokrasi yang semestinya menggembirakan dan membahagiakan justru berada dalam situasi kritis karena cenderung terlalu politis dalam rangka Pilpres dan Pileg 2019. “Eskalasi ketegangan memanas oleh karena keterbelahan dua kubu pendukung Paslon Capres-Cawapres. Plus kubu penyeru ajakan Golput, suasana bukannya adem ayem tentrem, melainkan kian memanas,” kata Pastor Budi Purnomo Pr.

Maka, imam itu bersama panitia memilih menyerukan kerukunan, kemanusiaan dan kebangsaan dengan melaksanakan Pameran Seni Rupa bertema “Kian Berbagi Berkat bagi Kerukunan, Kemanusiaan dan Kebangsaan,” yang diselenggarakan di Pastoran Johannes Maria Semarang, 23-24 Maret 2019.

Pemeran, yang dilakukan atas kerja sama para pelukis, Tim Karya Kerasulan Jurnalistik INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan bersinergi dengan Sanggar Seni Tosan Aji Gedongsongo Ungaran, dan Campus Ministry Unika Soegijapranata dan didukung Gusdurian Semarang, itu menjadi kelanjutan Pameran Lukisan 21-25 Maret 2018 bertajuk “Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita.”

Sebanyak 51 karya dari beragam materi, cat minyak di kanvas, cat air di kertas, akrilik di kanvas, pastel dan pensil di kertas hasil karya 20 orang yang terdiri dari para imam, bruder, suster, aktivis perempuan, penyandang disabilitas dan autisme dipamerkan.

“Prinsip dan semangat kami adalah berbagi untuk kerukunan, kemanusiaan dan kebangsaan. Pameran dilaksanakan dalam semangat demokrasi yang membahagiakan dan menggembirakan. Karenanya, pameran diwarnai pula pentas seni dan sastra berupa musik hadroh dari UIN Walisongo, 15 penari Sufi dari ponpes Al-Islah, dan pembacaan puisi oleh Sosiawan Leak, Kelana Siwi, dan Arbi,” kata Pastor Budi.

Kalau dalam pameran juga dilaksanakan festival mewarnai telur perdamaian yang bisa diikuti anak-anak maupun orang dewasa, maka pada prosesi pembukaan, Sosiawan Leak, Kelana Siwi, dan Arbi secara bergantian membaca puisi.

Ketua Panitia MA Sutikno berharap pameran seni rupa ini bisa memacu siapapun untuk semakin mencintai Indonesia baik kini maupun yang akan datang dan ketua The Soegijapranata Institute (TSI) Thedorus Sudimin mengapresiasi para seniman yang terus berkreasi.

“Semangat kerukunan, kemanusiaan, dan kebangsaan, inilah yang bisa disumbangkan oleh kaum seniman yang hari ini datang di sini, berkumpul di sini guna merayakan dan guna mengambil bagian, guna memberikan sumbangan untuk membangun masyarakat yang rukun, manusiawi, dan sungguh mencintai tanah air kita. Selamat menikmati acara ini, sehingga kita bisa sungguh membawa tiga kata kunci yaitu membangun kerukunan, kemanusiaan, dan kebangsaan,” kata Sudimin.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah Taslim Sahlan mengilustrasi lukisan tak sekadar lukisan, tapi membawa pesan tertentu. “Hari ini, kita belajar dari kaum muda yang menorehkan tinta-tinta emasnya. Tidak hanya sekadar lukisan, tetapi itu bahasa kemanusiaan, bahasa perdamaian, dan bahasa kerukunan yang semua kita harus belajar,” katanya. Ketika kelompok-kelompok tertentu saling melemparkan ketidaknyamanan, sebaliknya, kita menawarkan kesejukan, katanya.

Selain lukisan Mother Teresa, dalam pameran itu lukisan seorang biarawan Katolik dengan perempuan berjilbab karya Joko Susilo, serta lukisan karya Pastor Suryonugroho berjudul “Gadis Pengungsi di Tengah Laut” tentang kepiluan pengungsi yang harus pergi dari satu negara ke negara lain untuk menghindari perang. (PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

Pameran 4Pameran 5Pameran 3

Semua foto di atas PEN@ Katolik/lat
Semua foto di atas PEN@ Katolik/lat

Tinggalkan Pesan