cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (15)
Misa di Casa Santa Marta (Vatican Media)

“Jangan menghakimi; jangan menghukum; maafkan: dengan cara ini kalian meneladani belas kasihan Bapa. Dalam Misa di Casa Santa Marta, Vatikan, 18 Maret 2019, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa kita perlu ‘meneladani Tuhan’, ‘berjalan di hadapan Bapa’.”

Dimulai dengan Injil Santo Lukas, Luk. 6:36-38, Paus berbicara terutama tentang belas kasihan Allah, yang mampu mengampuni bahkan perlakuan “yang paling jelek.”

Belas kasihan Tuhan adalah hal yang begitu luar biasa, sangat luar biasa. Kita tidak boleh melupakan ini. Betapa banyak orang [berkata]: “Saya telah melakukan hal-hal yang begitu mengerikan. Saya telah membeli tempat di neraka, saya tidak bisa kembali.” Tetapi apakah mereka memikirkan tentang belas kasihan Allah? Mari kita mengingat cerita tentang janda miskin yang pergi mengaku dosa kepada Curé of Ars (Sang Pastor dari Ars, Santo Yohanes Maria Vianney. Red.). Suaminya bunuh diri; melompat dari jembatan ke sungai. Dan dia menangis. Dia berkata, “Tetapi saya orang berdosa, seorang wanita miskin. Tapi suamiku yang malang! Dia ada di neraka. Dia bunuh diri, dan bunuh diri adalah dosa besar. Dia berada di neraka.” Dan Curé of Ars berkata, Tapi tunggu sebentar, Bu, karena di antara jembatan dan sungai ada belas kasihan Tuhan.” Tetapi sampai akhir, sampai akhir, ada belas kasihan Allah.

Paus Fransiskus berkata bahwa Yesus memberikan tiga saran praktis yang membantu kita membiasakan diri untuk berbelas kasih. Pertama: jangan “menghakimi”. Kita harus menahan diri untuk tidak menghakimi, terutama pada masa Prapaskah:

Itu juga kebiasaan yang tercampur dalam kehidupan kita bahkan tanpa kita menyadarinya. Selalu! Bahkan dengan memulai percakapan: Apakah kaulihat apa yang dia lakukan? Menghakimi orang lain. Mari pikirkan berapa kali kita menghakimi setiap hari. Kita semua. Tetapi selalu melalui awal percakapan, komentar tentang orang lain: “Tapi lihat, orang itu sudah operasi plastik! Lebih jelek dari sebelumnya.”

Dalam homilinya, Paus mengajak semua orang untuk mempelajari kebijaksanaan kemurahan hari, cara utama untuk mengatasi ‘gosip.’ Ketika kita bergosip tentang orang lain, kata paus, “kita terus menghakimi, terus-menerus mencela, dan sulit memaafkan:

Tuhan mengajar kita: “Berilah dan kamu akan diberi:” bermurah hatilah dalam memberi. Jangan menjadi kantong-kantong tertutup;” bermurah hatilah dalam memberikan kepada orang miskin, kepada mereka yang membutuhkan, dan juga dalam memberikan banyak hal: dalam memberikan nasihat, dalam memberikan senyuman kepada sesama, dalam tersenyum. Berilah dan kamu akan diberi. Dan kamu akan diberi dengan takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang, yang tumpah,” karena Tuhan akan bermurah hati: Kami memberi satu, dan Dia memberi kami seratus dari semua yang telah kami berikan. Dan inilah sikap yang … Pentingnya beramal, tetapi tidak hanya amal dalam bentuk materi, tetapi amal spiritual juga: menghabiskan waktu untuk orang yang membutuhkan, mengunjungi seseorang yang sakit, memberikan senyuman.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan