Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC. Foto dari Dokpen KWI
Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC. Foto dari Dokpen KWI

Papua Youth Day (PYD) atau Pertemuan Orang Muda Katolik se-Papua akan diselenggarakan di Keuskupan Agung Merauke 23-29 Juni 2019. “Ini merupakan kegiatan OMK se-tanah Papua yang bertujuan, pertama, mempertemukan dan mempersatukan OMK, agar mereka bertemu dengan saudara-saudari seiman di tanah ini.”

Pernyataan itu ditulis Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC dalam Surat Gembala Prapaskah 2019 yang dibacakan di gereja-gereja sekeuskupan pada Misa Rabu Abu, 6 Maret 2019.

Tujuan lain menurut uskup adalah, “mengalami dan menemukan sukacita dengan tinggal di keluarga-keluarga Katolik di paroki-paroki sekitar tempat penyelenggaraan, melatih mereka berorganisasi, bekerja sama, dan membekali mereka dengan Ajaran Sosial Gereja dan keterampilan lain, dan mensyukuri rahmat Tuhan yang mereka alami selama persiapan, pelaksanaan dan keikutsertaan dalam PYD.”

Melalui surat gembala itu, Mgr Nicholaus mengatakan, “saya mendorong dan melibatkan keluarga-keluarga, para pastor, bruder, suster dan frater untuk mengikutsertakan OMK paroki masing-masing pada kegiatan PYD. Masing-masing paroki diminta mengutus 50 OMK sebagai peserta.”

Uskup berharap Panitia PYD “bekerja sebaik-baiknya dan sering mengirim informasi sehingga pelaksanaan PYD berjalan dengan baik pula.” Para pastor paroki juga diminta “membicarakan hal ini dengan keluarga-keluarga, agar mereka bersedia menerima OMK dari keuskupan-keuskupan lain untuk tinggal di rumah mereka.”

Dalam surat itu uskup berterima kasih kepada pemerintah daerah, instansi-instansi, dan swasta serta dewan paroki, dan kelompok kategorial yang banyak membantu kegiatan uskup itu. “Semoga Tuhan memberkati dan melindungi kita sekalian dalam melaksanakan apa yang baik bagi diri sendiri, keluarga, OMK, umat Allah dan masyarakat. Selamat berpantang dan berpuasa,” ucap uskup.

Sebelumnya dijelaskan tentang tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) nasional 2019 “Literasi Teknologi dan Keutuhan Ciptaan.” Ketika alat-alat komunikasi, komputer dan handphone disertai jaringan internet dan berbagai media sosial seperti facebook, instagram, youtube, whatsapp, amat berkembang, “kita semua digugah menggunakannya secara bertanggung jawab,” tulis uskup.

Tiap orang, kata uskup, “wajib mengembangkan kemampuan, mengkritisi yang dikemukakan di koran, televisi dan masyarakat.” Menyadari masih banyak masyarakat bingung dan cemas dengan berita-berita tidak jelas dan kebenarannya diragukan (hoax), “Kita wajib membantu memecahkan masalah itu. Alat-alat komunikasi yang makin canggih, semestinya makin mempersatukan dan membantu kehidupan manusia semakin rukun, saling menghargai dan menyejahterakan, bukan merusak, menciptakan permusuhan dan memisahkan.”

Juga disinggung tentang bencana alam, pencemaran air sungai dan sumber air minum, hilangnya hewan di hutan dan peminggiran masyarakat pemilik hak ulayat. “Dalam hal ini, gerakan penyadaran akan hak-hak ulayat perlu digalakkan. Juga adanya kontrak kerja yang jelas, adanya dokumen-dokumen penting milik masyarakat adat, perlu dibantu oleh semua pihak yang terkait dengan urusan pertanahan dan lingkungan hidup.”

Menurut uskup, penjualan tanah akibat tidak adanya uang untuk makan minum dan penguasaan hutan yang tidak adil perlu dibicarakan dalam forum yang resmi dan melibatkan semua pemangku kepentingan. “Perkembangan ilmu dan teknologi dan penempatan SDM berpendidikan tinggi di semua bidang pelayanan, mestinya membuat lingkungan hidup makin memberikan kenyamanan dan ketenteraman hidup, bukan sebaliknya, mendatangkan bencana dan kemalangan,” tulis uskup.

Juga disinggung Keluarga Katolik yang terlibat pada Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Merauke (KAME) yang menetapkan tema tahun 2019,

“Keluarga Katolik KAME yang Sejahtera.” Kesejahteraan, tegas uskup, bisa terwujud lewat keterlibatan dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP). (PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

1 komentar

  1. menurut pengakuan kepala suku Nduga Ruben yg pernah mengalami operasi
    militer sejak awal thn 1960an. bahkan bp Ruben pernah mengalami penembakan kaki kiri pada operasi militer 1977. maka ketika anak cucu kami melihat tentara atau polisi brrpakayan lengkap anak cucu org Nduga sangat takut.orgtua Nduga juga takut.

Tinggalkan Pesan