Empat calon imam dan satu calon diakon merebahkan diri di depan Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC. PEN@ Katolik/ym
Empat calon imam dan satu calon diakon merebahkan diri di depan Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC. PEN@ Katolik/ym

Setelah diarak dari tempat masing-masing, empat calon imam dan satu calon diakon tiba di halaman Katedral Santo Fransiskus Xaverius Merauke. Pihak keluarga lalu menyerahkan mereka kepada umat lewat pastor paroki dan dewan paroki Katedral Merauke yang kemudian menyerahkan mereka kepada Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC untuk ditahbiskan.

Bersama uskup dan para imam, para calon imam dan diakon itu kemudian diarak menuju tempat pentahbisan diiringi tarian adat masing-masing, Diakon Simon Petrus Takahanem Kaize MSC dengan adat Suku Marind, Diakon Everardus Resubun MSC dengan adat Kei, Diakon Frengky Fransiskus Pong Pr, Diakon Ayustus Erasmus Liem Pr dan Frater Randy Arnoldus Putra Lau Pr dengan adat Timor.

Misa tahbisan 23 Februari di Katedral Merauke itu dihadiri Provinsial MSC Indonesia Pastor Johny Luntungan MSC, Wakil Ketua DPR Papua Edoardus Kaize, Bupati Merauke Frederikus Gebze bersama isteri Rini Nebore Gebze dan Bupati Mappi Kristosimus Yohanes Agawemu, para pimpinan SKPD Kabupaten Merauke, biarawan dan biarawati, serta umat dan undangan.

Selain mengingatkan bahwa imam adalah untuk Tuhan dan juga umat Allah dan mereka ditahbiskan untuk melayani umat Allah serta memberikan seluruh perhatiannya kepada domba-domba-Nya, Mgr Nicholaus Adi Saputra minta para neomis (imam baru) untuk menjadi imam seumur hidupnya.

“Sekali imam, tetap imam, sekali ditahbiskan untuk umat Allah maka itu untuk seterusnya. Kalian didoakan oleh umat Allah untuk menjadi imam dan menaruh perhatian itu untuk seumur hidup,” kata uskup yang juga mengingatkan bahwa mereka adalah pemersatu umat.

Mgr Nicholaus melarang para imam mencalonkan diri sebagai bupati maupun anggota legislatif, melainkan “semestinya bisa mendoakan umat yang mencalonkan diri.” Uskup juga meminta mereka tidak terjerumus dalam perkembangan teknologi, “apalagi sampai kurang memberi perhatian kepada umat.”

Menyebut pastor-pastor sekarang adalah pastor-pastor millennial, Mgr Nicholaus mengajak umat untuk mengingatkan pastor untuk mematikan handphone sebelum Misa. “Jangan sampai saat Misa handphone bergetar dan kalau ketinggalan handphone jangan seperti ketinggalan nyawa. Ini bisa menyakiti semua orang,” kata uskup.

Mgr Nicholaus meminta kepada umat Katolik agar mendoakan para imam agar mereka tetap setia dalam panggilannya. “Tolong doakan mereka semua, supaya selalu setia menjadi imam seumur hidup. Doa tidak usah banyak-banyak, satu kali Salam Maria setiap hari, cukuplah untuk mereka,” kata uskup seraya meminta imam-imam baru agar mendoakan orangtua serta keluarga yang sudah merelakan mereka semua menjadi imam.

Pastor Johny Luntungan MSC mengakui, menjadi imam yang baik sangatlah tidak mudah dan imamat bukanlah jabatan atau kedudukan melainkan pelayanan. Maka, kata imam itu, “imam dituntut untuk setia dan sungguh-sungguh konsisten serta tidak memanfaatkan imamat untuk kepentingan diri sendiri.”

Provinsial MSC itu berharap mereka tidak menjadi imam plinplan. “Para imam jangan obral slogan-slogan biblis dan Anda bersembunyi di belakangnya, namun tidak menghayatinya. Kita semua diingatkan untuk menjadi pelayan-pelayan yang rendah hati, murah hati dan siap jemput bola, tidak duduk di belakang kursi panas untuk menanti disembah oleh umat,” kata Pastor Luntungan. (PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

PEN@ Katolik/ym
PEN@ Katolik/ym
Tahbisan Merauke 3
PEN@ Katolik/ym

Tinggalkan Pesan