Paus Fransiskus bertemu dengan Kardinal Blase Cupich (foto file)   (Vatican Media)
Paus Fransiskus bertemu dengan Kardinal Blase Cupich (foto file) (Vatican Media)

Dalam wawancara dengan Crux, layanan berita Katolik on-line, Kardinal Blase Cupich dari Amerika Serikat menggambarkan pertemuan puncak anti-pelecehan yang diminta oleh Paus Fransiskus merupakan awal reformasi di seluruh dunia guna merubah budaya menyangkut cara Gereja melindungi anak-anak.

Kardinal Blase Cupich dari Chicago, menurut laporan John-Patrick Lovett dari Vatican News, adalah bagian dari Panitia Pelaksana pertemuan ketua-ketua konferensi-konferensi waligereja yang akan berlangsung 21-24 Februari 2019 dengan fokus pada perlindungan anak-anak di dalam Gereja.

Dalam wawancara dengan Crux itu, Kardinal Cupich menegaskan, panitia “berkomitmen memperoleh hasil-hasil khusus dari pertemuan ini yang mencerminkan pikiran Paus Fransiskus.” Kardinal juga menekankan peran konsultatif “baik para klerus serta pria dan wanita awam, yang telah memperlihatkan keahlian dan pengalaman” di bidang pelecehan.

Menurut kardinal itu, dengan meminta pelaksanaan pertemuan puncak di bulan Februari itu, Paus Fransiskus sedang mengupayakan “keterlibatan penuh Gereja global dalam menjamin perlindungan anak-anak di seluruh dunia dari pelecehan seksual yang dilakukan para klerus.”

Paus memahami bahwa pelecehan seksual itu merupakan masalah global, kata Kardinal Cupich, “dan dia ingin memperkuat komitmen bersama kita sebagai sebuah Gereja untuk membangun kemampuan bereaksi, akuntabilitas, dan transparansi.”

Dengan memanggil semua ketua konferensi waligereja dari seluruh dunia, kata kardinal itu, Paus mengupayakan “pemahaman komprehensif atas kegagalan masa lalu dan juga solusi global ke depan.”

Kardinal Cupich mengatakan, dia menyadari adanya harapan besar akan hasil positif dan konkret dari pertemuan Februari itu. Namun, lanjut kardinal, untuk sepenuhnya mengatasi masalah pelecehan seksual, diperlukan transformasi yang lebih mendalam.

Paus Fransiskus menyerukan “perubahan budaya,” lanjut Kardinal. Yaitu, “reformasi cara mendekati pelayanan. Sebab, selain sebagai kejahatan, pelecehan seksual anak di bawah umur oleh klerus adalah soal korupsi pelayanan kita. Inilah mengapa pertemuan ini harus dipahami sebagai bagian dari komitmen jangka panjang untuk mereformasi, seraya menyadari bahwa satu pertemuan tidak akan menyelesaikan setiap masalah,” kata kardinal.

Kardinal Cupich menyimpulkan dengan menggambarkan pertemuan Februari di Vatikan itu sebagai “awal dari sebuah proses … Awal reformasi sedunia yang perlu dilangsungkan terus-menerus dan akan melibatkan proses inisiatif dari tingkat regional, nasional dan keuskupan.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)  Foto Vatican Media

Tinggalkan Pesan