Krusuhan Kamerun. Foto AFP
Krusuhan Kamerun. Foto AFP

Pastor Cosmas Ombato dari Kenya adalah seorang misionaris Mill Hill yang melayani sebagai pastor pembantu di Paroki Santo Martinus dari Tours di Desa Kembong, di barat daya Ekuador. Misionaris yang masih muda itu tertembak mati di wilayah Barat Daya Kamerun yang bermasalah, tempat ratusan orang tewas atau terlantar akibat eskalasi kekerasan separatis. Menurut laporan, imam itu terjebak dalam baku tembak antara militer dan separatis bersenjata.

Kekerasan telah berkobar di wilayah Barat Daya dan Barat Laut negara Afrika Barat dalam beberapa bulan pertempuran antara pasukan pemerintah dan militan bersenjata yang berbahasa Inggris yang menginginkan sebuah negara merdeka, demikian laporan Linda Bordoni dari Vatican News.

Pada bulan Oktober, seorang misionaris Baptis Amerika ditembak mati di kota Bamenda di Barat Laut, di mana sejumlah pelajar dan guru mereka diculik dari sekolah-sekolah. Seorang misionaris Kenya lainnya tewas di Buea di Barat Daya pada April 2017.

Krisis di Kamerun yang berbahasa Inggris dimulai tahun 2016 sebagai sebuah pemogokan industri oleh para pengacara dan guru yang meminta investasi dan pengembangan yang – menurut mereka – ditahan dari wilayah-wilayah Perancis dan Presiden yang baru-baru ini terpilih kembali, Paul Biya (83) yang telah berkuasa selama 36 tahun.

Kerusuhan itu menjadi konflik bersenjata internal sejak tahun lalu ketika kaum separatis bergabung dan secara simbolis mendeklarasikan kemerdekaan Republik Federal Ambazonia.

Setidaknya 400 warga sipil dan lebih dari 175 anggota pasukan keamanan telah tewas, menurut statistik kelompok-kelompok lokal dan internasional yang mendokumentasikan pelanggaran-pelanggaran dalam kekerasan yang meningkat.

Lebih dari 300.000 orang telah menghindari kekerasan, banyak dari mereka sekarang hanya hidup seadanya untuk makan dan terkena berbagai bahaya di hutan, dan beberapa di antara mereka hidup di perbatasan ke Nigeria.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan