Suasana "belajar toleransi dari Maluku." Foto dari PP PMKRI
Suasana “belajar toleransi dari Maluku.” Foto dari PP PMKRI

“Generasi muda Maluku harus merawat persatuan dan menjadi orang toleran. Penguatan akan pemahaman dan pengamalan Pancasila menjadi poin penting,” kata seorang tokoh muda seraya berharap orang Maluku tetap merawat persaudaraan, menjaga toleransi, dan teguh menjaga kearifan “Pela dan Gandong”.

Petrus Temorubun berbicara dalam “Harmonisasi go to Campus” dengan tema “Belajar Toleransi dari Maluku” yang dilaksanakan Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) di Aula Rektorat Universitas Pattimura, 15 November 2018.

Komisaris Daerah Maluku dan Maluku Utara itu berharap kegiatan “Harmonisasi go to Campus” dapat merawat jiwa nasionalisme kaum muda dan mereka dapat terhindar dari tindakan paham-paham radikal.”

Kegiatan yang diawali kuliah umum oleh Rektor Universitas Pattimura Ambon Profesor Doktor Marthinus Johannes Sapteno itu dilanjutkan dengan seminar dan kunjungan ke panti asuhan keesokan harinya.

Toleransi, menurut Profesor Johannes, sesungguhnya sejak dahulu terawat di Universitas Pattimura, bahkan jauh sebelum konflik menghampiri Maluku tahun 1999-2002. “Mahasiswa Universitas Pattimura berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Fakultas Hukumnya banyak dihuni orang Batak dan Sulawesi. Fakultas Kedokteran juga demikian. Untuk itu kami dijuluki kampus orang basudara,” katanya.

Anak muda, harap profesor itu, perlu lebih dalam mengkaji konflik di Maluku dengan kajian-kajian lebih ilmiah, “guna memperkuat predikat Maluku sebagai laboratorium perdamaian dunia.” Salah satu bahan kajian, tegasnya, adalah budaya “Pela dan Gandong”, yang menjadi alat pemersatu dalam perdamaian di Maluku, bahkan setelah konflik tidak ada lagi dendam.

Rektor mengapresiasi PMKRI dengan kegiatan “Harmonisasi go to Campus” di kampusnya. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Harapannya ke depan jadi kegiatan rutin dengan langkah-langkah lebih konkret tentunya.”

Seminar, yang dibuka Staf Ahli Gubernur Rony Terias dengan harapan agar Maluku tetap kondusif dan menjaga warisan “Pela dan Gandong” sebagai simbol satu ikatan keluarga, menampilkan Kasubdit Pemulihan dan Reintegrasi Sosial Kementerian Sosial Syafei Nasution, Wakil Ketua MUI Maluku Dr Abidin Wakono, Moderator PMKRI Ambon Pastor Johanis Luturmas Pr, dan Presidium Pendidikan dan Kaderisasi PMKRI Fibrisio H Marbun.

Sesuai Undang-Undang No.17 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, jelas Nasution, Kemensos mempunyai program keserasian sosial, pelestarian nilai-nilai kearifan lokal, pelopor perdamaian, tanggap darurat, dan layanan dukungan psikoanalisis. “Kemensos berharap bisa bermitra dengan organisasi seperti PMKRI dan juga kampus dalam menjalankan program penanganan konflik dan menjaga toleransi,” katanya.

Menurut Abidin, konflik menghancurkan pranata sosial, dan agama yang satu diadu dengan agama lain atas dasar kepentingan politik. Akan tetapi, lanjutnya, “konflik bisa diredam apabila satu dengan yang lain memahami bahwa perbedaan merupakan alat pemersatu.”

Pasca konflik Maluku, jelasnya,  Maluku menjadi corong toleransi. “Pelaksanaan Pesparani akhir-akhir ini menjadi contoh bahwa keharmonisan itu ada di Maluku. Semua agama mendukung hajatan agama Katolik itu,” kata Abidin seraya menjelaskan bahwa MUI Maluku sangat mendukung kegiatan dialogis, dan mendorong agar setiap orang saling memahami dan saling membangun.

Jika belajar toleransi, tegas Pastor Luturmas, “hubungan antarumat akan terawat.” Maka imam itu berharap manusia yang hidup dalam ruang lingkup heterogen menyadari bahwa mereka berbeda satu dengan yang lain, dan jika ingin hidup damai “mereka harus mampu menata tingkah laku.”

Selanjutnya, kata imam itu, kekerasan akan menemukan kekerasan baru dan perdamaian tidak akan dicapai. “Kalau ingin damai, berilah pertolongan kepada yang membutuhkan.”

Fibrisio mengamati, konflik kerap terjadi di wilayah Indonesia. Tapi, “kaum muda harus mampu menjadi pelopor-pelopor perdamaian dan menjaga toleransi. Anak-anak muda harus menyadari bangsa ini kuat karena dipersatukan oleh lintas etnis, agama, daerah. Kekuatan terbesar kita ada pada keberagaman, untuk itu sikap toleran harus tetap dijaga.”

Menyoroti konflik yang dipicu medsos dan banyaknya kaum muda menyebarkan informasi hoax, mantan Ketua Presidium PMKRI Cabang Pekanbaru itu mengajak semua orang lebih jeli dan cermat menggunakan medsos. “Kita harus menyaring berita yang ada, baca judul dan isinya. Bermanfaat baru share,” harapnya. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan siaran pers dari PP PMKRI)

Artikel Terkait:

Seminar Kebangsaan PMKRI: Keragaman jadikan Indonesia miliki kekhasan di mata dunia

Organisasi kehamasiswaan dan kepemudaan himbau masyarakat tidak mudah terprovokasi

Orang muda perlu budaya dialog antarumat agama demi tercipta budaya damai

DSC00786 (1)

Tinggalkan Pesan