cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (12)

Tahta Suci dan Gereja Katolik sangat berkomitmen memerangi perdagangan manusia dan perbudakan modern, baik dalam mengatasi para pengemudi yang membakar bencana itu dan dalam menjangkau para korban.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Pengamat Permanen Tahta Suci untuk PBB di New York Uskup Agung Bernardito Auza dalam sebuah konferensi di PBB tentang “Solusi Praktis untuk Memberantas Perdagangan Manusia,” 9 November 2018.

Diplomat Tahta Suci itu mencatat, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News, meskipun ada kemajuan substansial melawan perdagangan manusia melalui berbagai prakarsa, namun sedihnya jumlah orang yang diperbudak untuk eksploitasi seksual, kerja paksa atau pengambilan organ terus meroket.

Ketika dunia akan merayakan peringatan 70 tahun adopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tanggal 10 Desember, uskup agung itu mencatat lebih dari 40 juta orang saat ini terjerat oleh berbagai bentuk perbudakan modern.

Menurut Paus Fransiskus, kesenjangan antara komitmen dan upaya kita serta kengerian yang dihadapi para korban karena “momok mengerikan ini”, “kejahatan terhadap kemanusiaan,” dan “luka terbuka pada tubuh masyarakat kontemporer,” semakin besar, bukan semakin kecil.

Oleh karena itu, “komitmen serius” saja tidak akan membantu, tetapi kita harus memastikan bahwa komitmen-komitmen itu “benar-benar efektif”.

Dalam hal ini, Uskup Agung Auza menunjuk 4 tujuan Rencana Aksi Global untuk Memerangi Perdagangan Orang: mencegah perdagangan manusia dengan mengatasi penyebabnya; melindungi dan membantu para korban; menuntut para penjahat; dan meningkatkan kemitraan di antara institusi dan masyarakat sipil.

Di antara para pengemudi yang membuat orang rentan terhadap perdagangan manusia, kata uskup agung orang Filipina itu, konflik bersenjata dan krisis pengungsi secara khusus memperburuk situasi dramatis masyarakat, terutama wanita dan anak-anak.

Kita harus jauh lebih praktis, bahkan kejam, dalam menangani bukan hanya buah yang jahat tetapi juga akar masalah, kata uskup agung itu.

Komunitas-komunitas para suster Katolik di banyak negara, kata Uskup Agung Auza, juga menjadi pemimpin-pemimpin praktis di lapangan dalam pekerjaan yang sangat penting ini.

Uskup agung itu menyebutkan prakarsa-prakarsa Gereja seperti Grup Santa Marta, sebuah aliansi internasional para kepala polisi dan para uskup, dan Talitha Kum, jaringan internasional dari 22 institut dari para biarawati di 70 negara di lima benua, di kota-kota besar dan daerah-daerah yang paling pedesaan.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

1 komentar

Tinggalkan Pesan