Pemuda Indonesia Membangun Bangsa

“Kami Pemuda Indonesia siap melawan hoax

Kami Pemuda Indonesia siap membentengi bangsa dari infiltrasi ideologi asing

Kami Pemuda Indonesia siap menjaga wajah demokrasi bangsa dari gerakan radikalisme

Kami Pemuda Indonesia siap menyambut Revolusi Industri 4.0”

Pernyataan itu adalah bagian dari Deklarasi “Pemuda Indonesia Membangun Bangsa” yang dibacakan oleh Ketua Presidium PP PMKRI Juventus Prima Yoris Kago pada akhir sarasehan yang dilaksanakan di Grand Cemara Hotel, Menteng, Jakarta Pusat, 10 November 2018.

Deklarasi Pemuda Indonesia Membangun Bangsa itu menegaskan bahwa perjalanan bangsa tidak terlepas dari peran pemuda. “Gagasan kebangsaan hari ini dan masa depan lahir dalam konteks masifnya keterlibatan pemuda sejak awal perjuangan. Realitas sejarah menulis demikian dalam perjalanan perjuangan bersama hingga hari ini. Ingatan kolektif ini harus terus dihidupkan sebagai wahana untuk melihat masa lalu sebagai refleksi bersama, melihat hari ini sebagai pedoman untuk merumuskan kembali strategi masa depan,” tulis deklarasi itu.

Sarasehan dan Deklarasi Pemuda Indonesia Membangun Bangsa, yang digelar oleh Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) itu, mendengarkan masukan dari Juventus Prima Yoris Kago, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Robaytullah Kusuma Jaya, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Najih Prastiyo, dan keynote speaker Kasubdit Keamanan Khusus Baintelkam Polri Kombes Pol Ratno Kuncoro.

Sarasehan dan Deklarasi yang diselenggarakan pada peringatan Hari Pahlawan itu membahas tiga poin penting yakni Pancasila di tengah infiltrasi ideologi asing, fenomena hoax, dan wacana menuju revolusi industri 4.0.

Dalam paparannya Juventus menyebutkan, ”Pemuda merupakan kekuatan penting yang menopang keberlanjutan perjalanan negara-bangsa Indonesia. Beragam persoalan yang menggerogoti kehidupan negara-bangsa Indonesia hari-hari ini tetap membutuhkan peranserta pemuda Indonesia dalam menyikapinya. Pemuda Indonesia perlu mengkonsolidasikan kekuatannya bagi pembangunan bangsa dan membendung segala bentuk gerakan dan aksi yang kontraproduktif dengan wacana kebangsaan Indonesia.”

Fenomena hoax, menurut Najih, adalah ancaman bagi pemuda Indonesia. “Tantangan pemuda Indonesia saat ini adalah bagaimana menghindari paham radikalisme dengan cara menghindari berita-berita yang tidak jelas sumbernya.” Untuk narasi krisis multikulturalisme ia berpandangan bahwa pluralisme merupakan akar berdirinya bangsa Indonesia sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi. Salah satu penyebab rentannya generasi muda Indonesia terpapar berita hoax, lanjutnya, adalah “rendahnya budaya membaca.”

Sementara itu Robaytullah beranggapan diskursus tentang Pancasila dan Nasionalisme harusnya tidak lagi dilakukan saat ini karena sudah dilakukan oleh pejuang serta pencetus teori tentang dasar Negara Indonesia tahun 1945. “Yang terjadi hari ini seharusnya bagaimana mengimplementasikan dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur Pancasila itu,” kata Robaytullah seraya berharap generasi muda mampu memfilter mana berita hoax dan mana berita yang harus kita telaah. “Pemuda harus bisa menyinkronkan pemikirannya yang Pancasilais dengan keberadaannya sebagai generasi milenial,” lanjutnya.

Menurut Ratno, Indonesia, terkhusus pemuda, harus segera meningkatkan rasa nasionalisme untuk bisa meredam ideologi asing yang membahayakan bangsa Indonesia. Tantangan Pilkada, lanjutnya, tidak harus dijadikan sebagai ajang perpecahan akan tetapi “harus mengacu pada ajang beradu gagasan demi kemaslahatan bangsa untuk terciptanya kedamaian dan keamanan nasional.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan rilis yang disebarkan oleh Pengurus Pusat PMKRI)

Tinggalkan Pesan