Glewo Suyanto (ketiga dari kiri) bersama Ibu Anggi, guru yang beragama Islam di SMAK Frateran Maumere, diapit dua Frater Bunda Hati Kudus. (PEN@ Katolik/ yuven Fernandez)
Glewo Suyanto (ketiga dari kiri) bersama Ibu Anggi, guru yang beragama Islam di SMAK Frateran Maumere, diapit dua Frater Bunda Hati Kudus. (PEN@ Katolik/ yuven Fernandez)

Seorang ayah tiga anak yang hidup di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengatakan, bahwa NTT adalah Nusa Terindah Toleransinya. Guru beragama Islam itu mengatakan, “selama 14 tahun saya berada di Maumere, belum pernah terjadi gesekan antarumat beragama.”

Sebalinya, yang dialami oleh penghuni Perumnas Maumere itu adalah “hidup bertetangga yang harmonis serta saling menghargai,” dan di mana saja pria humoris itu berada dan hidup berdampingan, yang menonjol adalah toleransi dan saling menghormati, kehidupan yang indah. “Sungguh indah hidup dalam perbedaan,” tegas Ir Glewo Suyanto.

Satu-satunya guru beragama Islam di SMPK Frater Maumere itu merasakan keramahan dan persaudaraan yang dibangun di Sekolah Asuhan Frater Bunda Hati Kudus ini membuat dia betah tinggal di Maumere.

“Toleransi dan saling menghormati sungguh terasa. Setiap hari Jumat, kadang para guru yang beragama Katolik di SMPK Frater Maumere ini mengingatkan saya untuk Sholat Jumat,” kata putra asal Surabaya yang akrab dipanggil Pak Anto itu.

Jebolan Universitas Jember tahun 1989 itu mengakui SMPK Frater Maumere sudah menjadi jadi rumah kedua bagi dirinya, karena “para guru dan peserta didik adalah segala-galanya.”

Rekan gurunya, Thomas Tungga, yang mengamati sikap doa Pak Anto ketika doa pagi bersama di halaman tengah SMPK Frater Maumere, mengatakan Pak Anto seperti orang beragama Katolik. “Kalau berdoa tangannya terkatup dan tenang. Orang yang baru pertama kali mengenalnya pasti berpikir dia ini beragama Katolik, padahal dia Muslim tulen,” kata Thom. (PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

Glewo Suyanto
Glewo Suyanto

Tinggalkan Pesan