Simbolis pelepasan peserta menuju Pesparani I di Ambon dengan penyerahan Bendera Kontingen Papua dari wakil kabupaten/kota ke Wakil Ketua LPKKKD Propinsi, Ketua LPKKKD ke Wakil Gubernur, Wakil Gubernur ke Ketua Kontingan atau Panitia. Foto Vincentius Lokobal
Simbolis pelepasan peserta menuju Pesparani I di Ambon dengan penyerahan Bendera Kontingen Papua dari wakil kabupaten/kota ke Wakil Ketua LPKKKD Propinsi, Ketua LPKKKD ke Wakil Gubernur, Wakil Gubernur ke Ketua Kontingan atau Panitia. Foto Vincentius Lokobal

“Papua harus berkualitas secara rohani untuk memberi kesaksian iman kepada saudara lain di Indonesia bagian Barat. Kualitas rohani bukan pertama-tama berorientasi untuk mendapatkan juara, tetapi kemampuan peserta untuk berdoa dan memuliakan Tuhan yang lahir dari hati.”

Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal mengatakan itu, 23 Oktober 2018, di Hotel Aston Jayapura, dalam acara pelepasan Kontingen Provinsi Papua untuk mengikuti Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) I di kota Ambon. Pesparani akan berlangsung 26 Oktober-2 November 2018. Kloter pertama dan kedua dari Papua sudah berangkat dan kloter ketiga berangkat 26 Oktober 2018.

Doa yang lahir dari hati, lanjut wakil gubernur, “mengalir melalui suara kontingen Papua dalam Pesparani Katolik Nasional di Ambon, akan menjadi saksi bahwa dari Negeri Matahari Terbit ini, iman para peserta lomba akan menyinari semua saudara di Indonesia.”

Selain menghimbau peserta “agar mengikuti lomba dengan sepenuh hati, sebab Allah membutuhkan kesungguhan hati kita,” Klemen Tinal menyebut peserta sebagai “Duta-Duta Papua” dan meminta  mereka memperkenalkan Papua di ajang nasional, “bahwa Papua bukan hanya terkenal dengan sumber daya alam (SDA) melimpah, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) yang kaya dalam hal hidup rohani, yang hendaknya terungkap melalui keterlibatan kontingen Papua dalam semua mata lomba yang diikuti.”

Klemen Tinal memberi apresiasi kepada Gereja Katolik Indonesia dan terutama Dirjen Bimas Katolik, Kementerian Agama Republik Indonesia atas penyelenggaraan Pesparani I di Ambon. “Melalui Pesparani, negara mendukung bahwa Ambon dapat menunjukkan persatuan dalam kemajemukan, hidup rukun dan damai setelah beberapa waktu lalu dilanda konflik antaragama.”

Melalui Pesparani, lanjutnya, pemerintah melalui kementerian agama, dirjen Bimas Katolik, mau memperlihatkan bahwa Rohlah yang menghidupkan Indonesia. “Negara tidak mentolerir ekstrim kiri maupun ekstrim kanan. Melalui Pesparani, “kebenaran akan kemajemukan dalam hidup bersama secara damai diwariskan dari generasi ke generasi, dan umat Katolik adalah perekat, pendorong hidup bersama di Indonesia.”

Sebelumnya, Ketua Kontingen Papua Pastor Konstantinus Bahang OFM menyampaikan bahwa Pesparani I di Ambon tidak melalui proses perlombaan berjenjang dari paroki sampai keuskupan, “karena Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Paduan Suara Gerejani Katolik baru terbentuk 2015, namun syukur kepada Allah untuk pertama kali umat Katolik di Indonesia boleh menyelenggarakan pesparani sebagaimana MTQ di kalangan para saadara Muslim dan Pesparawi dalam gereja Protestan yang sudah lama berlangsung.”

Imam itu menegaskan, kontingen Provinsi Papua akan mengikuti 10 mata lomba, yakni Paduan Suara (PS) Dewasa Campuran dari Kabupaten Agats, PS Dewasa Pria dan Dewasa Perempuan keduanya dari Kabupaten Merauke, PS Gregorian Dewasa Campuran dari Kabupaten Timika, PS Gregorian Remaja dari Kabupaten Mappi, PS Remaja Campuran dari Kabupaten Jayapura. Sementara kabupaten Waropen mengutus peserta lomba Mazmur anak dan Dewasa dan Kota Jayapura mengirim Menutur/Ceritera Alkitab dan Cerdas Cermat Alkitab.

Di samping itu, Provinsi Papua akan mengikuti Ambon Expo 2018, menjadi penggembira dan pengisi acara seni. Acara seni akan diisi oleh SMA YPPK Taruna Bakti Waena. Jumlah peserta dari Papua sebanyak 300 orang, di luar penggembira, peserta pameran, dan pengisi acara malam seni.(PEN@ Katolik/Abdon Bisei)

Wakil Gubernur bergambar bersama pejabat pemerintah, pimpinan Gereja dan panitia inti. Foto Vincentius Lokobal
Wakil Gubernur bergambar bersama pejabat pemerintah, pimpinan Gereja dan panitia inti. Foto Vincentius Lokobal

Tinggalkan Pesan