cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (20)
Paus Fransiskus dalam Misa di Casa Santa Marta. Vatican Media

Dalam homilinya di Casa Santa Marta pada hari Kamis 11 Oktober 2018, Paus Fransiskus mengatakan kita harus berani kalau meminta dari Tuhan. Tuhan adalah teman yang dapat memberi kepada kita apa yang kita butuhkan.

Kutipan Injil hari Kamis Luk. 11:5-13.menjadi inti homili Paus Fransiskus dalam Misa di Casa Santa Marta. Tema yang dibahas adalah doa, tentang bagaimana kita harus berdoa. Yesus menceritakan kepada murid-murid-Nya tentang seorang pria yang, pada tengah malam, mengetuk rumah seorang teman dan meminta sesuatu untuk dimakan. Dan teman itu menjawab saat itu bukanlah waktu yang tepat, karena dia sudah di tempat tidur, namun dia bangun dan memberikan apa yang diminta.

Paus Fransiskus menekankan tiga unsur: orang yang membutuhkan, seorang teman, sedikit makanan. Kunjungan teman yang membutuhkan itu mengejutkan dan permintaannya mendesak karena dia yakin temannya memiliki apa yang dia butuhkan. Tuhan ingin mengajarkan kepada kita cara berdoa, kata Paus Fransiskus. “Dia ingin kita berdoa dengan ‘kecenderungan mengganggu.’”

Beranilah, karena kalau kita berdoa biasanya ada sesuatu yang diperlukan. Teman itu adalah Tuhan: Dia adalah teman yang kaya, yang memiliki makanan, dia memiliki apa yang kita butuhkan. Seperti Yesus berkata: “Dalam doa mengganggulah. Jangan lelah.” Tapi, jangan lelah apa? Meminta. “Mintalah dan itu akan diberikan kepadamu.”

Namun, lanjut Paus, “doa bukanlah seperti tongkat sihir,” bukan begitu kita minta, kita langsung mendapatnya. Bukan berdoa dua kali “Bapa Kami” dan selesai. Doa, tegas Paus, membutuhkan usaha: doa menuntut kemauan, doa menuntut keteguhan, doa menuntut kita tekun, tanpa malu. Mengapa? Karena saya mengetuk pintu teman saya. Tuhan adalah teman, dan dengan seorang teman saya bisa melakukan ini. Doa konstan dan membosankan. Bayangkan Santa Monika, misalnya, berapa tahun dia berdoa seperti ini, bahkan dengan air mata, untuk pertobatan putranya. Tuhan akhirnya membuka pintu.

Lalu, Paus Fransiskus memberikan contoh lain. Paus sebuah kisah kehidupan nyata yang terjadi di Buenos Aires. Seorang pria, pekerja, memiliki anak perempuan yang sedang sekarat. Para dokter telah putus asa. Dia pun melakukan perjalanan sejauh 70 kilometer ke Tempat Ziarah Bunda Maria dari Lujan. Saat itu sudah malam dan tempat ziarah itu sudah tutup. Tetapi dia berdoa sepanjang malam memohon kepada Bunda Maria: “Aku ingin anakku, aku ingin anakku, engkau bisa memberikannya kepadaku.” Dan, ketika pagi hari dia pulang ke rumah sakit, dia bertemu istrinya yang mengatakan kepadanya: “Kau tahu, para dokter membawanya untuk melakukan tes lain, mereka tidak dapat menjelaskan mengapa dia bangun dan meminta makan, tidak ada yang salah, dia baik-baik saja, dia keluar dari bahaya.” Pria ini, simpul Paus Fransiskus, tahu cara berdoa.

Paus mengajak orang-orang yang menghadiri Misa itu untuk membayangkan anak-anak yang tiba-tiba datang saat mereka inginkan sesuatu. Mereka menangis dan menangis sambil berkata: “Aku mau itu! Aku mau itu!” Dan akhirnya orang tua menyerah. Tetapi ada orang mungkin bertanya: tidakkah Tuhan akan marah kalau saya begitu? Yesus sendirilah, kata Paus, yang, dalam mengantisipasi hal ini, memberi tahu kepada kita: Kalau Anda saja, yang jahat, tahu bagaimana memberi yang bagus untuk anak-anakmu, betapa lebih banyak akan Bapa surgawi berikan. Dia memberi Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya!” Dia seorang teman: dia selalu memberikan yang baik. Dia memberikan lebih banyak: Saya meminta kalian memecahkan persoalan ini dan Dia memecahkannya dan juga memberi Roh Kudus kepada kalian. Lebih banyak. Coba pikir sedikit: bagaimana Anda berdoa? Seperti burung beo? Apakah saya benar-benar berdoa dengan kebutuhan di dalam hati saya? Apakah benar berjuang dengan Tuhan dalam doa agar Dia memberi saya apa yang saya butuhkan? Kami belajar cara berdoa dari kutipan Injil ini. (PEN@ Katolik, paul c pati)

Tinggalkan Pesan