Paus Benediktus XVI merayakan Misa tahbisan di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Juni 2010. Foto: SIPA PRESS / REX FEATURES
Paus Benediktus XVI merayakan Misa tahbisan di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Juni 2010. Foto: SIPA PRESS / REX FEATURES

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-25 pada Masa Biasa, 23 September 2018: Markus 9: 30-37)

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35)

Ketika saya merenungkan Injil hari Minggu ini, saya membaca beberapa berita tentang Gereja. Ada Kabar baik. Gereja Katolik di Filipina mempersiapkan diri untuk perayaan 500 tahun kedatangan iman Kristiani di negara ini. Baptisan dan Ekaristi pertama terjadi pada tahun 1521 sewaktu para misionaris Spanyol memulai misi evangelisasi mereka. Sebagai bagian dari persiapan besar ini, para Uskup Filipina memutuskan untuk merayakan tahun ini sebagai tahun para klerus [diakon, imam, dan uskup] dan rohaniwan. Dengan demikian, banyak program dan kegiatan diselenggarakan di berbagai keuskupan di Filipina untuk membantu para klerus dan biarawan untuk memperdalam komitmen mereka pada Allah dan pelayanan mereka kepada umat dan bangsa.

Tetapi, ada juga berita yang tidak begitu baik. Saat ini, Gereja juga menghadapi krisis yang mendalam. Di banyak negara dan tempat, para klerus dan biarawan, terlibat dalam skandal dan hal-hal yang memalukan. Salah satu yang terburuk adalah pelecehan seksual yang melibatkan anak di bawah umur yang dilakukan oleh beberapa imam dan bahkan uskup, dan ada usaha untuk menutup-nutupi hal ini sehingga kejahatan struktural ini berkembang subur. Namun, ini bukan satu-satunya hal yang mengganggu Gereja. Beberapa klerus tidak jujur dan memiliki kehidupan ganda. Beberapa diam-diam memperkaya diri mereka sendiri. Beberapa mungkin tidak melakukan skandal apa pun, tetapi kurang berbelas kasih dan tidak miliki semangat dalam melayani umat Allah. Banyak cerita yang beredar tentang pastor yang menolak untuk mendengar pengakuan dosa atau mengurapi orang yang sakit karena mereka memprioritaskan hobi mereka atau para biarawan yang gampang marah terhadap orang lain. Sikap-sikap ini hanya membuat umat menjauh dari Gereja.

Injil kita Minggu ini berkisah tentang Yesus yang mengajar para murid, yang kemudian akan menjadi pemimpin Gereja perdana. Injil ini sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berbicara tentang Yesus menubuatkan penderitaan dan kematian yang akan datang di Yerusalem. Di sini, para murid hanya terdiam. Mungkin, memori akan Yesus yang menegur Petrus dan memanggilnya “Setan” masih segar di pikiran para murid dan tidak ada yang ingin mengulangi peristiwa pemalukan yang sama. Bagian kedua dari Injil berbicara tentang tema kebesaran dan kepemimpinan. Kali ini, para murid memiliki reaksi yang berbeda. Tidak hanya mereka yang memulai diskusi, tetapi mereka juga dengan penuh semangat berdebat di antara mereka sendiri. Kita dapat membayangkan Petrus membanggakan dirinya sebagai pemimpin di antara para rasul, atau Yohanes mengatakan kepada semua orang bahwa ia adalah yang paling dekat dengan Yesus, atau Matius bangga akan kekayaannya. Bagaimanapun, mereka adalah Paus pertama dan para uskup pertama kita. Namun, ketika Yesus bertanya kepada mereka, mereka sekali lagi terdiam.

Para rasul sepertinya lupa bahwa murid-murid Yesus yang sejati harus memikul salib mereka dan mengikuti Yesus ke Yerusalem. Namun, Yesus memahami bahwa keinginan manusia untuk menjadi yang terbaik adalah karunia dari Allah juga. Yesus tidak melarang rasul-rasul-Nya untuk bermimpi dan berusaha untuk mencapai kebesaran, tetapi Dia membuat perubahan radikal. Dia mengarahkan energi yang kuat ini dari sekedar untuk mencapai kepentingan pribadi, berubah menjadi untuk melayani orang lain. Lalu, Yesus pun berkata, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35) Memang, mereka perlu menjadi unggul, tetapi tidak dala ukuran duniawi, tetapi dalam melayani dan memberdayakan sesama.

Dalam dokumen terbarunya, Gaudete et Exsultate, Paus Fransiskus berbicara tentang “Logika Salib.” Kebahagiaan sejati adalah sebuah paradoks. Jika para klerus, biarawan dan kita semua ingin bahagia, bukanlah kejayaan dan kesuksesan duniawi yang kita kejar, tetapi pelayanan dan pengorbanan kita untuk orang lain.

Kita terus berdoa bagi para imam dan uskup kita, serta para biarawan. Kita berdoa tidak hanya agar mereka dapat menghindari dosa, tetapi mereka mungkin menjadi kudus. Sebagaimana dikatakan Paus Benediktus XVI, “kekudusan tidak lain adalah kasih yang dihidupi sampai penuh.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Tinggalkan Pesan