Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ menjelaskan perihal pengakuan dosa kepada mahasiswa dan mahasiswi IAIN Kudus. Foto PEN@ Katolik/LAT
Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ menjelaskan perihal pengakuan dosa kepada mahasiswa dan mahasiswi IAIN Kudus. Foto PEN@ Katolik/LAT

“Gereja Santa Theresia Bongsari sudah 50 tahun dimekarkan dari Katedral Semarang. Tapi, kehidupan iman umat terjadi jauh sebelumnya. Kami lebih menghidupkan hidup iman Katolik baru bangunannya. Komunitas dibangun lebih dulu daripada bangunan gereja fisiknya.”

Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ mengatakan hal itu kepada para mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus saat mereka melakukan Praktik Profesi Lapangan (PPL) di gereja itu, 14 September 2018.

Pastor Didik mengakui, gereja itu sering jadi tempat kegiatan lintas iman dan sudah didatangi berbagai kelompok. Terkait budaya, jelas imam itu, “umat Paroki Bongsari hidup dalam tradisi Jawa yang sangat diwarnai keterbukaan terhadap berbagai kelompok, tepa selira. Maka, kehidupan umat Bongsari sama seperti kehidupan masyarakat di sekitar Semarang. Agama itu alat bantu untuk hidup bersama orang lain,” kata aktivis gerakan dialog lintas agama itu.

Berbagai kegiatan yang pernah digelar bersama masyarakat lintas agama di gereja itu antara lain tebar benih ikan, menanam bakau, berbagi sembako, dialog kebangsaan, maupun pentas seni. “Kita sangat menyatu dengan masyarakat sekitar maupun kota Semarang.”

Umat Bongsari terbiasa hidup dalam masyarakat umum, tak hanya dalam lingkungan Gereja. “Mereka aktif dalam RT, RW, dan kelurahan. Banyak jadi panitia HUT Kemerdekaan RI dan tak sedikit aktif dalam kegiatan olahraga. Maka, tak jarang halaman gereja ini dipakai untuk berbagai kegiatan. “Ini yang membuat Gereja Katolik sangat diterima,” kata Pastor Didik.

Pastor Didik menjelaskan kepada para mahasiswa yang diantar oleh Ketua II Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang, Yoseph Edy Riyanto, bahwa kegiatan Gereja Bongsari sebisa mungkin melibatkan warga sekitar. “Kami tak punya intensi lain kecuali masyarakat juga mengalami kegembiraan,” kata imam itu. Gereja itu selalu libatkan masyarakat lintas agama dalam kegiatan sosial, karena “kita orang Katolik Indonesia dengan budaya sama, bukan orang asing,” kata imam itu.

Jelasnya, lanjut Pastor Didik, Gereja tidak melulu menghidupi kehidupan ritual ibadah, tapi juga pewartaan bagi umatnya, persekutuan dalam aneka paguyuban Gereja, dan pelayanan bagi yang membutuhkan. “Hidup Gereja tak hanya ibadat tapi menyentuh semua kehidupan,” lanjut imam itu seraya menjelaskan bahwa Gereja aktif dalam masyarakat lewat Komisi Kemasyarakatan dan mendorong umat untuk mandiri secara ekonomi lewat Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi.

Menjawab pertanyaan seorang mahasiswi tentang cara Gereja Katolik menjalin kerukunan dengan umat Kristen non-Katolik, Pastor Didik menjelaskan, selama ini Gereja Katolik aktif dalam dialog lintas gereja dalam gerakan ekumene. “Kami jalin komunikasi dan kerukunan umat kristiani dalam gerakan ekumene misalnya Natal Bersama, Paskah Bersama, dan Pekan Doa se-Dunia. Mewujudkan kerukunan juga butuh perjuangan. Doa dan ibadatnya dibicarakan bersama. Kami tidak saling memaksakan tradisi masing-masing,” kata imam itu.

Peserta lain bertanya tentang pendidikan imam dan suster. “Untuk jadi imam, ada pendidikan cukup panjang, ada yang mulai setingkat sekolah menengah, dan setelah menjadi imam ada yang harus menempuh pendidikan lanjut. Selain berkarya di gereja, ada imam yang berkarya di sekolah, kampus dan tempat karya lain yang dihidupi lembaga hidup baktinya.”

Menjawab tentang pendidikan biarawati, Suster Virgo PI menjelaskan, untuk menjadi suster, seorang harus melalui masa aspiran, postulat, novisiat, yuniorat, hingga kaul kekal. “Para suster juga aktif dalam berbagai bidang karya yang dihidupi kongregasinya, misalnya sekolah, balai pengobatan, rumah jompo, panti asuhan maupun pemberdayaan ekonomi melalui credit union,” jelas suster.

Usai berdialog para mahasiswa diantar oleh Pastor Didik mengunjungi gereja untuk melihat properti dalam gereja misalnya air suci, altar, dan ruang pengakuan dosa. Peserta pun menyimak perihal pengakuan dosa dalam tradisi Gereja Katolik. (PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ  bersama mahasiswa-mahasiswi IAIN Kudus. Foto PEN@ Katolik/LAT
Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ bersama mahasiswa-mahasiswi IAIN Kudus. Foto PEN@ Katolik/LAT
Para mahasiswa-mahasiswi IAIN Kudus  yang diantar oleh Ketua II FKUB Kota Semarang, Yoseph Edy Riyanto bergambar bersama Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ di dean Gereja Bongsari. PEN@ Katolik/LAT
Para mahasiswa-mahasiswi IAIN Kudus yang diantar oleh Ketua II FKUB Kota Semarang, Yoseph Edy Riyanto bergambar bersama Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ di depan Gereja Bongsari. PEN@ Katolik/LAT

1 komentar

Tinggalkan Pesan