Ketua Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur Kardinal Sean O’Malley dan Paus Fransiskus. Vatican Media
Ketua Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur Kardinal Sean O’Malley dan Paus Fransiskus. Vatican Media

Saat menutup Sidang Plenonya di Roma, yang berlangsung 7-9 September 2018, Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur menegaskan kembali pentingnya mendengarkan orang-orang yang selamat (penyintas) dari pelanggaran yang dilakukan klerus sebagaimana ditegaskan oleh Paus Fransiskus.

Penjagaan dan perlindungan anak di bawah umur dari kekerasan seksual yang dilakukan klerus menjadi prioritas mendesak bagi Gereja Katolik yang semakin ditekan untuk memberikan tanggapan kredibel dan kuat kepada para korban, keluarga mereka, komunitas mereka dan semua umat Katolik. Badan untuk tugas itu adalah Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur yang didirikan sebagai badan penasehat Paus.

Mandat dari komisi yang diketuai Kardinal Sean O’Malley itu adalah mengusulkan prakarsa-prakarsa yang paling tepat untuk melindungi anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan agar Gereja dapat melakukan segala kemungkinan untuk memastikan bahwa kejahatan-kejahatan seperti yang telah terjadi tidak terulang lagi.

Mandat itu dilakukan dengan menyatukan upaya-upayanya pada upaya-upaya lembaga-lembaga lain dan pada konferensi-konferensi waligereja di seluruh dunia dan dengan menghasilkan sarana seperti pedoman, praktik-praktik yang baik dan kursus pembinaan bagi kepemimpinan Gereja.

Dalam pembicaraan dengan Sergio Centofanti dari Vatican News, Kardinal O’Malley berbicara tentang masalah paling mendesak dan signifikan yang menjadi pusat pembicaraan para anggota Komisi itu selama sidang.

Ketika ditanya apakah, mengingat situasi saat ini, Gereja benar-benar mendengarkan para penyintas dan belajar dari mereka, Kardinal O’Malley mengatakan “peristiwa-peristiwa terbaru dalam Gereja telah membuat kita semua fokus pada kebutuhan mendesak untuk adanya respon jelas dari pihak Gereja tentang pelecehan seksual yang dilakukan terhadap anak-anak di bawah umur.”

Tentu , kata kardinal, salah satu tugas dan tanggung jawab komisi itu adalah mendengarkan para penyintas. “Kami selalu ingin mendapatkan kesaksian para penyintas guna menginformasikan pertimbangan dan pendapat kami” dan seperti yang sering kami lakukan, kata kardinal “kami mulai pertemuan kami dengan mendengarkan dua kesaksian.”

Satu prioritas yang dikhususkan oleh O’Malley adalah pekerjaan yang dilakukan para anggota Komisi untuk membahas uskup-uskup yang baru diangkat.

“Setiap tahun kami berusaha keras membawa suara para penyintas kepada kepemimpinan Gereja. Itu sangatlah penting kalau orang mau tahu betapa penting bagi Gereja untuk menanggapi dengan cepat dan benar kapan saja situasi pelecehan muncul.”

Kardinal O’Malley juga menegaskan, jika Gereja tidak bisa menanggapi dengan sepenuh hati dan membuatnya prioritas, semua kegiatan lain akan menderita.

Kardinal juga menjelaskan betapa Komisi itu tidak kenal lelah membawa pesan pengamanan itu di seluruh dunia.

Di beberapa benua, kata kardinal, ini tema baru dan beberapa wilayah Gereja mengalami kekurangan sumber daya, maka Komisi merencanakan pelaksanaan konferensi baru seperti di Brasil, Kolombia dan Polandia dan bekerja sesuai pedoman dan praktik terbaik serta mengembangkan instrumen audit yang akan digunakan oleh konferensi waligereja untuk mengukur pelaksanaan dan kepatuhan mereka.

Kardinal O’Malley mengomentari umpan balik positif yang diterima Komisi tentang pendidikan dan pembinaan dan dari serangkaian prakarsa untuk membentuk panel penasehat di berbagai benua berbeda.

Kardinal O’Malley setuju bahwa ada banyak kebingungan – di masyarakat – tentang peran dan mandat Komisi itu dan ia menjelaskan bahwa komisi itu bukanlah badan yang menangani kasus-kasus masa lalu atau situasi-situasi pelanggaran tertentu.

“Kami mencoba merubah masa depan sehingga tidak mengulangi sejarah menyedihkan, dan kami melakukan itu dengan membuat rekomendasi-rekomendasi kepada Bapa Suci dan memperkenalkan praktik-praktik dan pedoman terbaik yang mempertimbangkan program pengamanan, pencegahan, dan pendidikan yang membahas pembinaan kepemimpinan sehingga para uskup, imam, dan kaum religius diperlengkapi untuk bisa menanggapi dan menjadikan pengamanan anak-anak dan kepedulian pastoral bagi para korban sebagai prioritas mereka,” kata kardinal.

Dalam bahasa Inggris, ungkap Kardinal O`Malley, kami memiliki pepatah: “Mencegah lebih baik daripada mengobati.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan tulisan Linda Bordoni dari Vatican News)

Tinggalkan Pesan