Paus Fransiskus. DANIEL IBANEZ/CNA
Paus Fransiskus. DANIEL IBANEZ/CNA

Surat dari Bapa Suci Fransiskus kepada Umat Allah

“Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita” (1 Kor 12:26). Kata-kata Santo Paulus ini bergema kuat di dalam hati saya ketika saya melihat sekali lagi penderitaan yang dialami banyak anak di bawah umur karena pelecehan seksual, penyalahgunaan kekuasaan dan penyalahgunaan hati nurani yang dilakukan oleh sejumlah besar klerus dan kaum hidup bakti. Kejahatan yang menimbulkan luka yang dalam serta ketidakberdayaan, terutama di antara para korban, tetapi juga dalam anggota-anggota keluarga mereka dan di kalangan umat yang lebih besar dan juga di kalangan orang-orang yang tidak beragama. Di masa lalu, tidak ada upaya untuk meminta maaf dan memperbaiki kerusakan itu. Ke depan, semua upaya yang akan diambil guna menciptakan budaya yang mampu mencegah terjadinya situasi seperti itu, dan juga guna mencegah kemungkinan menutup-nutupi dan melanggengkan situasi-situasi itu. Rasa sakit para korban dan keluarga mereka juga merupakan penderitaan kita. Maka, sangatlah mendesak bahwa kita sekali lagi menegaskan komitmen kita guna memastikan perlindungan terhadap anak-anak di bawah umur dan terhadap orang dewasa yang rentan.

  1. Jika satu anggota menderita …

Beberapa hari terakhir ini, dipublikasikan sebuah laporan yang menceritakan secara panjang lebar pengalaman-pengalaman dari sedikitnya seribu orang yang selamat, korban pelecehan seksual, penyalahgunaan kekuasaan dan hati nurani di tangan para imam selama sekitar tujuh puluh tahun. Meskipun bisa dikatakan bahwa sebagian besar kasus ini terjadi di masa lampau, namun seiring berjalannya waktu kita tahu penderitaan dari banyak korban itu. Kita, luka-luka ini tidak pernah akan hilang dan luka-luka itu menuntut kita untuk mengutuk keras kekejaman-kekejaman ini dan bersama-sama mencabut budaya kematian ini; luka-luka ini tidak pernah hilang. Rasa sakit yang menyayat hati para korban ini, yang berteriak hingga ke langit, telah lama diabaikan, didiamkan atau dibungkamkan. Namun, jeritan mereka lebih kuat daripada semua langkah yang dimaksudkan untuk membungkamnya, atau bahkan berusaha menyelesaikannya dengan keputusan-keputusan yang meningkatkan gravitasinya dengan jatuh dalam keterlibatan. Tuhan mendengar seruan itu dan sekali lagi menunjukkan kepada kita di sisi mana Dia berdiri. Kidung Maria tidaklah salah dan dengan diam-diam terus bergema sepanjang sejarah. Karena Allah akan mengingat janji yang Dia buat kepada leluhur kita: “Ia mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1: 51-53). Kita merasa malu ketika tahu bahwa gaya hidup kita telah menyangkal, dan terus menyangkal, kata-kata yang kita ucapkan.

Menyadari besarnya dan beratnya kerusakan yang terjadi pada begitu banyak kehidupan, dengan rasa malu dan sesal, kita melihat sebagai komunitas gerejawi bahwa kita tidak berada pada tempat yang seharusnya kita berada, bahwa kita tidak bertindak tepat waktu. Kita tidak menunjukkan kepedulian terhadap anak-anak kecil; kita meninggalkan mereka. Saya mengutip perkataan Ratzinger, yang saat itu masih Kardinal, dalam doa Jalan Salib Jumat Agung 2005. Kardinal itu mengidentifikasi seruan kesakitan dari begitu banyak korban dan berseru: “Berapa banyak kotoran ada di Gereja, dan bahkan di antara mereka yang, dalam imamat, harus sepenuhnya menjadi milik [Kristus]! Betapa besarnya harga diri, betapa besarnya rasa puas diri! Pengkhianatan Kristus oleh para murid-Nya, penerimaan tidak layak mereka atas tubuh dan darah-Nya, tentu saja merupakan penderitaan terbesar yang dialami oleh Sang Penebus; itu menusuk hati-Nya. Kita hanya bisa memohon kepada-Nya dari lubuk hati: Kyrie eleison – Tuhan, selamatkan kami! (lih. Mat 8:25)” (Stasi Kesembilan).

2.… semua anggota turut menderita

Luas dan beratnya semua yang terjadi membutuhkan penanganan komprehensif dan komunal. Meskipun pertobatan itu selalu penting dan perlu guna melihat kebenaran dari apa yang terjadi, dalam dirinya sendiri ini tidak cukup. Kini kita ditantang sebagai Umat Allah untuk menanggung rasa sakit saudara-saudari yang terluka jiwa dan raganya. Kalau, di masa lalu, tanggapan merupakan salah satu kelalaian, kini kita menginginkan solidaritas, dalam arti terdalam dan paling menantang, untuk menjadi cara menempa sejarah sekarang dan masa depan. Dalam solidaritas, konflik, ketegangan dan terutama semua korban dari setiap jenis pelecehan dapat menemukan uluran untuk melindungi dan menyelamatkan mereka dari rasa sakit (bdk. Evangelii Gaudium, 228). Solidaritas itu meminta kita, pada gilirannya, untuk mencela segala sesuatu yang membahayakan integritas seseorang. Solidaritas yang menyerukan perjuangan melawan semua bentuk korupsi, terutama korupsi spiritual, “karena itulah kebutaan yang nyaman dan memuaskan diri, di mana segala sesuatu tampak bisa diterima: penipuan, fitnah, egoisme, dan bentuk-bentuk kepentingan diri sendiri yang tidak nampak, karena “Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang” (2 Kor 11:14) ”(Gaudete et Exsultate, 165). Seruan Santo Paulus untuk ikut menderita bersama mereka yang menderita adalah penangkal terbaik terhadap semua upaya kita untuk mengulangi kata-kata Kain: “Apakah aku penjaga adikmu?” (Kej 4: 9).

Saya sadar akan upaya dan karya yang dilakukan di berbagai belahan dunia untuk menjamin dan menerapkan mediasi yang diperlukan guna memastikan keselamatan dan perlindungan integritas bagi anak-anak dan orang dewasa yang rentan, serta penerapan ‘toleransi nol’ dan cara-cara membuat semua orang yang melakukan atau menutupi kejahatan-kejahatan ini bertanggung jawab. Kami telah lambat menerapkan tindakan-tindakan dan sanksi-sanksi yang sangat diperlukan ini, namun saya yakin bahwa mereka akan membantu untuk menjamin budaya peduli yang lebih besar di masa kini dan di masa depan.

Bersama dengan upaya-upaya itu, setiap orang yang dibaptis harus merasa terlibat dalam perubahan sosial dan gerejawi yang sangat kami butuhkan. Perubahan ini menuntut perubahan pribadi dan komunitas yang membuat kita melihat sesuatu sebagaimana Tuhan melihatnya. Karena seperti yang suka dikatakan oleh Santo Yohanes Paulus II: “Jika kita benar-benar hendak kembali merenung tentang Kristus, kita harus melihat Dia terutama di wajah-wajah orang-orang yang ingin Dia identifikasi wajah-Nya” (Novo Millennio Ineunte, 49). Untuk melihat sesuatu sebagaimana Tuhan melihatnya, tinggallah di tempat yang Tuhan inginkan, ubahlah hati sesuai kehadiran-Nya. Untuk melakukannya, doa dan pengakuan dosa akan membantu. Saya mengajak semua umat Allah yang setia untuk melakukan doa pertobatan penuh penyesalan, seraya mengikuti perintah Tuhan. [1] Ini dapat membangkitkan hati nurani dan membangkitkan solidaritas dan komitmen kami terhadap budaya peduli yang mengatakan “tidak pernah lagi” melakukan setiap bentuk pelecehan.

Mustahil memikirkan perubahan kegiatan kami sebagai Gereja tanpa mencakup peranserta aktif dari semua anggota Umat Allah. Memang, setiap kali kita mencoba menggantikan, atau membungkam, atau mengabaikan, atau memperkecil Umat Allah menjadi kaum elit yang kecil, kita akhirnya menciptakan komunitas, proyek, pendekatan teologis, spiritualitas dan struktur tanpa akar, tanpa ingatan, tanpa wajah, tanpa tubuh dan akhirnya, tanpa kehidupan. [2] Ini jelas terlihat dalam cara anomali dalam memahami otoritas Gereja, yang umum di banyak komunitas tempat terjadi pelecehan seksual dan penyalahgunaan kekuasaan dan hati nurani. Seperti halnya klerikalisme, pendekatan yang “tidak hanya menghapus karakter umat Kristiani, tetapi juga cenderung mengurangi dan meremehkan anugerah baptisan yang Roh Kudus tempatkan di dalam hati umat kita”. [3] Klerikalisme, apakah dipupuk oleh para imam sendiri atau oleh umat awam, akan menyebabkan pengecilan dalam tubuh Gereja yang mendukung dan membantu melanggengkan banyak kejahatan yang kita kutuk saat ini. Mengatakan “tidak” pada pelecehan adalah mengatakan “tidak” pada semua bentuk klerikalisme.

Selalu baik untuk diingat bahwa “dalam sejarah keselamatan, Tuhan menyelamatkan sebuah bangsa. Kita tidak pernah sepenuhnya menjadi diri kita sendiri kecuali kita milik sebuah bangsa. Maka, tidak ada yang diselamatkan sendirian, sebagai individu yang terasing. Sebaliknya, Tuhan menarik kita kepada diri-Nya, dengan mempertimbangkan jalinan rumit hubungan antarpribadi yang ada dalam komunitas manusia. Tuhan ingin masuk ke dalam kehidupan dan sejarah sebuah bangsa” (Gaudete et Exsultate, 6). Konsekuensinya, satu-satunya cara yang harus kita tanggapi terhadap kejahatan yang telah menghitamkan begitu banyak kehidupan ini adalah mengalaminya sebagai tugas yang menyangkut kita semua sebagai Umat Allah. Kesadaran untuk menjadi bagian sebuah bangga dan sebuah sejarah bersama akan memungkinkan kita untuk mengakui dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan masa lalu kita dengan keterbukaan penuh pertobatan yang dapat memungkinkan kita diperbarui dari dalam. Tanpa peranserta aktif dari semua anggota Gereja, segala sesuatu yang dilakukan untuk mencabut budaya pelecehan dalam komunitas kita tidak akan berhasil dalam menghasilkan dinamika yang diperlukan untuk perubahan yang nyata dan realistis. Dimensi puasa dan doa penuh pertobatan akan membantu kita sebagai Umat Allah untuk datang di hadapan Tuhan dan saudara-saudara kita yang terluka sebagai orang berdosa yang memohon pengampunan dan anugerah rasa malu dan pertobatan. Dengan cara ini, akan muncul tindakan yang dapat membangkitkan cara-cara yang sesuai dengan Injil. Karena, “kapan pun kita berusaha kembali ke sumbernya dan memulihkan kesegaran asli Injil, jalan baru muncul, jalan baru kreativitas terbuka, dengan berbagai bentuk ungkapan, tanda-tanda dan kata-kata yang lebih mengesankan dengan makna baru untuk dunia saat ini. (Evangelii Gaudium, 11).

Penting bahwa kita, sebagai Gereja, dapat mengakui dan mencela, dengan sedih dan malu, kekejaman yang dilakukan oleh kaum hidup bakti, para klerus, dan semua orang yang dipercayakan dengan misi untuk menjaga dan memperhatikan orang-orang yang paling rentan. Mari kita mohon pengampunan atas dosa kita sendiri dan dosa orang lain. Kesadaran akan dosa membantu kita untuk mengakui kesalahan-kesalahan, kejahatan-kejahatan dan luka-luka yang disebabkan di masa lalu dan memungkinkan kita, pada saat ini, menjadi lebih terbuka dan berkomitmen sepanjang perjalanan pertobatan baru.

Demikian juga, pengakuan dosa dan doa akan membantu kita membuka mata dan hati terhadap penderitaan orang lain dan mengatasi rasa haus akan kekuasaan dan harta yang seringkali menjadi akar kejahatan-kejahatan itu. Semoga puasa dan doa membuka telinga kita terhadap rasa sakit yang dirasakan oleh anak-anak, orang muda dan orang cacat. Puasa, yang dapat membuat kita lapar dan haus akan keadilan dan mendorong kita untuk berjalan dalam kebenaran, mendukung semua langkah hukum yang mungkin diperlukan. Puasa yang mengguncang dan menuntun kita untuk berkomitmen dalam kebenaran dan amal kasih dengan semua pria dan wanita yang berkemauan baik, dan dengan masyarakat pada umumnya, dan untuk memberantas segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan, pelecehan seksual dan penyalahgunaan hati nurani.

Dengan cara ini, kita dapat menunjukkan dengan jelas bahwa panggilan kita menjadi “tanda dan alat persekutuan dengan Allah dan persatuan seluruh umat manusia” (Lumen Gentium, 1).

“Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita,” kata Santo Paulus. Dengan laku doa dan pengakuan dosa, kita akan menjadi sebagai individu dan sebagai komunitas yang sesuai seruan ini, sehingga kita dapat bertumbuh dalam karunia belas kasih, dalam keadilan, pencegahan, dan perbaikan. Maria memilih untuk berdiri di kaki salib Anak-Nya. Dia melakukannya tanpa ragu, berdiri teguh di sisi Yesus. Dengan cara ini, Maria mengungkapkan cara dia menjalani seluruh hidupnya. Ketika kita mengalami kesedihan yang disebabkan oleh luka-luka gerejawi ini, kita akan melaluinya dengan baik, bersama  Maria, “untuk lebih bertekun pada doa”, dengan berusaha kian bertumbuh dalam cinta dan kesetiaan kepada Gereja (SANTO IGNATIUS LOYOLA, Latihan Rohani, 319). Maria, yang pertama dari para murid, mengajarkan kepada kita semua sebagai murid-murid bagaimana kita harus berhenti tanpa alasan, sebelum orang yang tidak bersalah menderita. Melihat Maria adalah menemukan model pengikut sejati Kristus.

Semoga Roh Kudus memberi kita anugerah pertobatan dan pengurapan batin yang diperlukan untuk mengungkapkan kesanggupan dan tekad kita untuk berani memberantas kejahatan-kejahatan pelecehan ini.

FRANSISKUS

Kota Vatikan, 20 Agustus 2018

[1] “Jenis (setan) ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa. (Mat 17:21).

[2] Bdk. Surat kepada Umat Allah Peziarah di Chili (31 Mei 2018).

[3] Surat kepada Kardinal Marc Ouellet, Ketua Komisi Kepausan untuk Amerika Latin (19 Maret 2016).

Diterjemahkan oleh PEN@ Katolik/paul c pati

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus tentang pelecehan seksual yang dilakukan klerus terus mencari kebenaran

Paus berterima kasih kepada para uskup Chili untuk upaya tegas melawan pelecehan

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Pelecehan seks Chili, Paus Fransiskus memohon maaf atas kesalahan-kesalahan serius

Paus minta maaf kepada korban pelecehan seksual yang dilakukan imam

Tinggalkan Pesan